
"Apakah anda pihak keluarga pasien?" Tanya suster yang keluar dari dalam ruangan itu. Radith menjelaskan jika dia mengenal anak itu sebagai pengemis, tapi tadi dia menemukannya di pinggir jalan seperti itu, jadi dia juga tidak tahu siapa keluarganya, namun jika itu berhubungan dengan perwalian, Radith menyatakan siap untuk menjadi wali anak itu. Dia siap untuk membayar semua keperluan anak itu.
"Saya belum menemukan siapa keluarganya, namun saya siap untuk apa yang diperlukan sebagai walinya. Saya akan sampaikan apa yang perlu disampaikan saat kami bertemu dengan keluarganya nanti, jadi suster bisa katakan dulu dengan saya," ujar Radith yang diangguki oleh suster itu. Suster itu memberikan satu kotak berisi barang barang anak itu, kebanyakan baunya sudah tidak karu karuan, namun Radith tetap menerimanya dan mengucapkan terima kasih.
"Itu adalah barang barang jenazah, mulai dari baju dan apapun yang ada di dalam kantungnya, termasuk sejumlah uang dari kantungnya, saya ingin anda memberikan semua itu pada keluarganya," ujar suster itu yang tentu saja diangguki oleh Radith. Lelaki itu menerima barang pemberian suster dan menatap ke arah anaknya yang juga tampak sedih. Zia memegang kotak itu, lalu dia menatap ke arah ruang jenazah, tempat Jenazah yang belum diambil oleh keluarganya.
"Pa, Zia boleh lihat ke dalam? Zia boleh bertemu dengan Gilang?" Tanya Zia yang diangguki oleh Radith, lelaki itu mengantar Zia masuk ke dalam ruangan itu dan melihat mayat Gilang yang sudah bersih, Radith mengusap kepala anak itu seolah dia adalah anak kandungnya sendiri. Zia tak menyangka Temannya kini sudah terbujur kaku dan tak bernapas lagi, padahal dia ingin sekali membawa Gilang pergi ke Bali dan bermain di sana.
“Zia mau di sini dulu sama Gilang, atau mau ikut papa? Papa mau nyari masjid yang dimaksud oleh Gilang. Kamu mau di sini atau ikut? Nanti papa ke sini lagi, kalau kamu mau di sini sama pengawal papa,” ujar Radith yang membuat Zia memilih untuk menemani temannya itu, dia tahu temannya membutuhkan dirinya untuk saat ini.
“Zia mau temenin Gilang, siapa tahu Gilang mau mengatakan sesuatu atau mau melakukan sesuatu, tadi Gilang sudah pamit, tapi Zia belum pamit Pa,” ujar Zia yang diangguki oleh Radith. Lelaki itu membawa 10 pengawal jadi dia meninggalkan 4 untuk Zia dan 6 untuknya. Mereka berpisah disitu dan Radith langsung mencari orang yang mungkin dimaksud oleh Gilang.
“Hai, aku mau bilang makasih, makasih udah mau jadi teman aku. Kamu akan pergi ya? Kamu gak akan kembali kan? Zia boleh minta tolong? Kalau kamu ada di atas sana, kamu bisa bertem sama Mamanya Zia, bilang ke Mama Zia ya kalau Zia di sini baik baik aja, bahagia dan hidup dengan baik. Kamu bakal bilang ke mama Zia kan? Aku tahu kamu akan melakukannya, karna kamu adalah anak yang baik, terima kasih sudah mau jadi teman Zia,” ujar gadis kecil itu pelan.
“Om, teman Zia akan pergi ya? Teman Zia, Zia udah gak punya teman lagi Om, dia baik, dia bantu Zia untuk keluar dari sana, Om mau kenalan dulu gak sama orang yang udah tolongin Zia?” tanya Zia polos yang diangguki oleh pengawal Radith, dia menunduk dan mengelus kepala Gilang, dia merasa melihat wajah keluarganya di sana, keluarga yang sudah lama tidak dia jumpai.
“Hai Gilang, nama Om pengawal G, Om berdoa kamu di sana bahagia ya, jangan sakit lagi, dan selalu mengawasi Zia, menjaga Zia di sini,” ujar pengawal itu yang membuat Zia mengerjapkan matanya beberapa kali, dia takut salah mendengar, namun sepertinya memang orang itu mengucapkan pengawal G.
“Apakah Om punya nama? Atau jangan jangan nama Om itu F? memang ada orang yang namanya F ya Om?” tanya Zia bingung. Pengawal itu memandang ke arah teman temannya, namun temannya hany mengedikkan bahu, mereka tidak mau ikut campur atau mengambil resiko akan dimarahi oleh Radith jika ketahuan membocorkan identitas mereka pada orang lain. Mereka tidak tahu apakah Zia termasuk dalam orang lain itu.
“Zia, Om gak bisa kasih tahu ke Zia, itu rahasia Om dan Papa, jadi maaf ya, Om gak bisa kasih tahu Zia,” ujar pengawal itu yang diangguki oleh Zia, gadis itu tak bisa memaksanya. Mereka kembali mengobrol topik lain dan ternyata pengawal Zia sangat baik dan ramah pada gadis itu, padahal biasanya Zia menganggap semua pengawal seram.
“G bawa Zia ke hotel, sepertinya aku akan sampai malam, kasihan jika dia harus di kamar mayat itu, jadi kalian tetap jaga dia di sana ya, aku akan sampai ke rumah mungkin jam 7 sampai jam 8. Eum, maksudnya hotel. Aku juga akan kabarin Lira, jadi kalian fokus sama Zia saja, jangan sampai terjadi sesuatu,” ujar Radith lewat telpon. Pengawal itu mengiyakan dan segera pergi dari sana. Radith menutup panggilan telpon dan langsung sibuk mengurus serta mencari keluarga Gilang.
Zia ikut dengan pengawal G, H, I, dan J untuk pergi ke Hotel. Gadis kecil itu kembali mengucapkan perpisahan dengan Gilang dari jauh, dia juga sempat melihat roh Gilang ada di depan pintu kamar mayat dengan senyuman. Melambaikan tangannya pada Zia tanda berterima kasih dengan gadis itu karna dia dan Radith akan menolongnya untuk merealisasikan mimpinya dulu.
Sementara itu Radith sibuk menelpon ke sana kemari. Dia ingin meminta Andre untuk pulang, namun dia masih menahannya meski hanya Andre yang memiliki tim pencari yang sangat hebat. Dia tidak mau anak buahnya menajdi malas bekerja karna saat liburan mereka masih diminta untuk bekerja. Dia memutuskan untuk membentuk tim yang akan menelusuri siapa Gilang sebenarnya dan dimana keluarganya untuk saat ini.
__ADS_1
“Aku percayakan pada kalian, kalian harus menemukannya dengan cepat, karna jika memang tak ada atau tidak ditemukan, kita harus segera mengubur jasadnya ke makam keluarga, di sebelah Blenda masih kosong, kita bisa makamkan dia di sana. Kita harus bergerak cepat, kasihan Gilang jika harus ditunda pemakamannya.”
Setelah memberikan intruksi yang sudah cukup jelas. Radith dan 6 pengawalnya sudah berputar lagi mencari masjid terdekat. Jika Gilang bermain di area masjib, mungkin anak itu adalah seorang muslim, jadi dia harus bertanya bagaimana cara pemakaman umat muslim karna dia tak tahu. Sembari begitu juga Radith ingin mencari ustad yang disebutkan oleh Gilang. Banyak yang ingin dia kerjakan sampai tidak bisa berpikir jernih tentang apa yang seharusnya dia kerjakan lebih dulu.
“Selamat pagi pak, saya ingin bertemu dengan pimpinan di masjid ini, eum maaf, saya non muslim, seperti petinggi agama atau semacamnya, apakah ada?” tanya Radith yang bingung sendiri. Namun sepertinya orang itu mengerti dan memanggil seorang Kyai yang ada di dalam untuk menemui Radith. Lelaki itu bersalaman dengan sopan sampai menundukkan kepalanya karna Radith tahu Kyai ini sangat dihormati di sini.
“Permisi, mohon maaf sebelumnya. Saya mengenal salah seorang anak kecil yang kemungkinan beragama muslim, saya tidak tahu pasti, tapi saat ini anak itu sudah meninggal. Saya tidak pernah melakukan pemakaman dengan cara Islam, jadi apakah Pak Kyai bisa membantu saya untuk melakukan prosesi pemakaman untuk anak tersebut?” tanya Radith yang berusaha sesopan mungkin karna dia juga tidak tahu bagaimana cara menanyakannya.
,
“Inalillahi Wainailaihi Rojiun, Ram, Ramdan, sini kamu,” panggil Kyai itu pada seseorang yang kemungkinan muridnya. Orang itu juga menyalami Radith dengan sopan. Mereka berkenalan singkat satu sama lain lalu Radith menceritakan apa yang dia alami, tentu saja diluar cerita Gilang menemuinya saat sebelum meninggal dan dia temukan karna Radith tak yakin orang orang akan percaya.
“Kamu ikut dengan beliau ke rumah sakit, kalau memang tidak ada pihak keluarga, kita bawa ke masjid sini, kita salat dan doakan jenazah lalu segera dimakamkan, semakin cepat semakin baik, jika nanti pihak keluarganya muncul, tinggal bilang saja dimana makamnya dan keluarga bisa membacakan yasin dan doa lain untuk Almarhum,” ujar Kyai itu yang dituruti oleh muridnya.
Mereka segera pergi ke sana dan orang yang diminta pak Kyai untuk melihat pun terkejut melihat Gilang. Air matanya langsung mengalir dan memeluk anak itu. Radith tentu bingung, apakah orang ini adalah ayah dari Gilang? Atau paling tidak pihak keluarganya? Radith masih menunggu penjelasan, namun tampaknya orang itu masih menangis.
“Dia anak yang pintar, dia sering datang untuk mengaji, namun karna kaki dan badannyanya kotor, dia tidak bisa masuk ke dalam Masjid, jadi saya mengajarnya sendiri di luar masjid saat pelajaran selesai, atau dia duduk di batas suci mendengarkan saya yang bicara keras. Dia, dia anak yang sangat baik,” ujar orang itu. Radith makin terkejut saat tahu fakta jika ternyata orang di hadapannya ini adalah ustad yang disebutkan oleh Gilang tadi. Radith langsung mencari kotak yang tadi dia tinggalkan.
“Itu adalah barang yang ada di tubuh Gilang, mulai dari baju sampai uang hasil mengamen dan mengemisnya. Jika saya boleh jujur, saat Gilang meninggal, rohnya mendatangi saya dan mengatakan pada saya jika dia ingin menyumbangkan semua uang yang dia punya ke masjid dimana ada sorang ustad yang baik padanya dan mengajarinya, jadi saya rasa orang itu adalah anda dan anda yang lebih berhak memutuskan apa yang akan dilakuakn dengan barang barang ini.
“Masya Allah, Alhamdullilah ya Allah, anak yatim ini mengingat semua Ilmu yang hamba ajarkan, terima kasih sudah membuat hidup anak ini bermanfaat dan bahkan masih mengingat namaMu dalam kematiannya ya Rabb, ampuni segala doanya ya Rabb,” ujar ustad itu yang merasa terharu dengan jumlah yang tak seberapa, namun inilah hal terakhir yang Gilang berikan untuk dunia, amal yang membantunya untuk naik ke firdaus.
“Saya akan membantu semua pak, saya hanya tidak mengerti tata caranya, jadi saya meminta pak Ustad dan Pak Kyai, untuk masalah makam, saya ingin menguburkan dia di makam keluarga saya jika memang tidak ada yang bisa atau ada atau mau mengakui dia sebagai keluarga, karna baru saya tahu, saya berhutang nyawa putri saya pada dia, jadi hanya ini yang bisa saya berikan pak Ustad. Apakah saya bisa melakukannya pak?” tanya Radith yang tentu diangguki oleh Ustad itu.
“Kita bawa Jenasahnya ke masjid untuk dibungkus dengan kain kafan dan disalati, terima kasih bapak sudah mau memberi tahu saya dan menyiapkan semua, Gilang anak baik, Allah kirim malaikat untuk membantunya saat ini,” ujar Pak Ramdan itu yang membuat Radith mengangguk.
“Saya mohon ijin untuk mengurus semua administrasinya, saya akan langsung menyusul ke Masjid tadi. A dan B, kalian ikut saya, sisanya, kalian bantu pak Ustad untuk membawa Gilang ke sana,” ujar Radith yang diangguki oleh mereka.
__ADS_1
“Mohon maaf tuan, bukankah sebaiknya hanya E dan F yang membawa Gilang dan kami di sini? Dua orang saja tidak cukup untuk menjaga Tuan,” ujar pengawal C yan gdiangguki oleh D, namun Radith tidak mengubah pikirannya.
“Saya harus berputar ke sana kemari dan di masjid itu pasti butuh banyak bantuan, kalian berempat bantu pak Ustad dan pak Kyai untuk beberes, A dan B juga sudah cukup handal,” ujar Radith yang diangguki oleh pengawal itu. pak Ustad tidak mengerti, namun dia juga tak bertanya untuk menghormati privasi Radith, mereka sibuk dengan urusan masing masing, terutama Radith yang menyewa peti, menyiapkan makam, bunga dan banyak hal lain, apalagi dia diberitahu pa Ustad jika patok untuk umat muslim harus yang sederhana.
Setelah memastikan semua beres, Radith kembali ke masjid dan melihat anak itu sudah dibungkus dengan kain kafan. Radith hanya menunggu di luar karna dia tahu tak baik baginya masuk ke rumah ibadat umat lain, dia tidak ingin merusak kehormatan agama lain jika melakukan suatu kesalahan.
“Jenasah sudah siap dimakamkan. Kami akan ikut membantu sampai ke makam dan memanjatkan Yasin di sana juga. Apakah kami diijinkan untuk melakukan itu?” tanya Kyai yang tentu saja diiyakan oleh Radith, sudah bersyukur ada orang yang mau membantunya berdoa dengena cara yang sama, dia tak bisa melarang atau banyak meminta, yang penting Gilang bisa dimakamkan dengan layak.
Radith mundur beberapa langkah saat orang orang itu mulai berdoa di makam. Dia tak mau menganggu kekusyukan orang orang ini. Di belakang Radith sudah ada A dan B, sementara C, D, E, F membantu warga di sana untuk paling tidak menutup kembali makam tadi. Radith teridam, pikirannya melayang dan dia mencoba untuk mencerna semua yang terjadi.
“Apa kamu mendatangi Om sebelum meninggal untuk memberitahu Om hal ini Gilang? Memberitahu apa yang kamu inginkan? Terimakasih meski hanya beberapa menit, kau sudah bisa membuka mata dan telingaku. Aku akan melakukan apa yang selama ini kau cita citakan.
“eum, maaf pak Kyai, apakah masjid yang tadi di sana sedang butuh suntikan dana atau apapun?” Tanya radith tiba tiba.
“Ah maaf, saya tidak pandai berkata kata dalam hal seperti ini. Mohon jangan disalah pahami. Saya hanya ingin tahu apakah Masjid membutuhkan hal yang memang harus ada namun terkendala biaya atau semacamnya?” tanya Radith yang membuat Kyai serta ustad itu saling memandang.
“Sebenarnya di Masjid kami memang masih mencari dana untuk renovasi, karna kami akan meningkatkan bangunan yang sudah tidak cukup untuk jamaah. Serta sedang mengumpulkan dana juga untuk membuat sumur agar saat nanti musim kemarau tidak terlalu sulit seperti tahun tahun yang lalu. Insyaallah niat baik akan ditolong Allah pada waktunya.”
“Kalau boleh, mari kita mengobrol di rumah pak Kyai atau pak Ustad untuk membahas masalah ini. Saya akan membiayai 100 persen segala yang dibutuhkan. Mungkin ini yang diingkan oleh Gilang dan dia mengatakan hal itu pada saya, saya akan membantu untuk renovasi sampai tuntas atas nama Gilang, agar itu menjadi amalan bagi Gilang”
“Masyallah, apa itu benar nak? Apa kau serius akan melakukan itu?” tanya Kyai dengan terharu. Radith mengangguk dan tersenyum. Dia tahu bahwa dirinyalah yang dipilih untuk melakukan hal ini, dan dia tidak akan menghilangkan kesempatan ini dalam hidupnya.
“Mari kita bicarakan semua di rumah pak Kyai saja ya, tidak enak jika bicara di sini. Kamu ini asli mana nak? Kamu bukan orang sini kan? Saya tidak pernah melihat kamu di sekitar sini,” ujar Pak Kyai yang diangguki oleh Radith.
“Saya asli Jakarta namun sudah lama sekali tinggal di Bali pak Kyai, saya kemari dengan anak saya untuk ziarah ke makam Ibunya dan saat makan saya menemukan Gilang, sampai akhirnya bertemu dengan pak Kyai dan pak Ustad ini.”
“Mulia sekali kamu Gilang. Bahkan setelah kau meninggal, kau masih memberikan banyak berkat untuk orang lain yang tak bisa kau berikan selama hidup. Surga untukmu nak, hati bersihmu akan selalu menjadi amalan baik untukmu,” lirih pak Kyai yang merasa sedih sekaligus terharu.
__ADS_1
“Gilang adalah anak yang baik dan tulus, saya bahkan hanya bisa bertemu dengan rohnya, namun roh itu memberikan saya pesan yang sangat dalam. Dan saya menyadari, inilah yang menjadi permintaan terakhirnya. Saya ingin membantu untuk mewujudkannya, semoga pak Kyai dan pak Ustad mau membantu saya untuk mewujudkan ini ya pak,” ujar Radith dengan tulus.
“Alhamdulliah, Insyallah semua yang ada di jalan Allah, semua yang kita lakukan untuk Allah, akan selalu dilancarkan oleh Allah.”