
Setelah pencarian yang panjang dan melelahkan, akhirnya Radith bisa melacak kemana Roy saat ini, ternyata lelaki itu ada di Hawaii, Radith tidak mau kehilangan jejak dan mereka harus memulai semua dari awal. Dia segera menghubungi timnya dan mereka ingin segera pergi ke negara itu. Dia tidak membawa banyak perlengkapan, dia hanya ingin memastikan Roy benar-benar ada di sana baru dia memikirkan cara membunuh lelaki itu.
“Bukankah seharusnya kita memberitahu nyonya jika kita berangkat ke Hawaii tuan?” tanya A yang dijawab gelengan kepala oleh Radith, dia bahkan tidak tahu kondisi Istrinya saat ini, karena demi membalas budi, dia harus rela istrinya menjadi tawanan keluarga Wilkinson.
“Kita selesaikan dengan cepat. Aku hanya perlu membunuh Roy dan tuan Wilkinson akan melakukan sisanya untukku dan kalian semua. Sekarang kita berangkat, akan menjadi sia-sia jika kita tidak bisa menemukan lelaki sialan itu dengan cepat,” ujar Radith yang diangguki oleh A. mereka memastikan tidak ada yang tertinggal dan langsung terbang ke negara itu.
“Baik Tuan, jika memang itu yang terbaik, kita berangkat sekarang,” ujar A yang langsung mengemas barang seadanya dan memesan tiket pesawat ke negara itu. Dia langsung mendapatkannya dan mereka segera berangkat ke Hawaii. Perasaan Radith campur aduk saat ini, entah kenapa dia merasa tidak nyaman.
“Tuan, sepertinya Tuan harus menelpon nyonya Lira karena dia pasti khawatir. Saya juga bisa melihat tuan merasa khawatir kepada Nyonya. Tuan tidak pernah melakukan sesuatu tanpa memberitahu Nyonya sebelumnya,” ujar A yang membuat Radith makin ragu, namun dia masih merasa jika semua itu yang terbaik untuk mereka berdua.
“Tidak, aku harus menahannya untuk saat ini karena ini untukku dan untuknya. Semakin cepat misi ini selesai, semakin cepat pula aku jauh dari keluarga sialan ini. Aku ingin hidup damai dan tidak diganggu oleh siapapun lagi,” ujar Radith yang diangguki oleh A. Mereka beristirahat cukup lama karena penerbangan ini, cukup untuk mengisi energi mereka yang sudah terkuras.
“Beritahu tim untuk menyusul dan membawa semua peralatan yang diperlukan. Waspada terhadap keamanan yang pemerintah siapkan, apalagi kita tidak berada di negara asal, akan sulit. Minta semua orang berhati-hati dan jangan menimbulkan kehebohan oleh mereka semua,” ujar Radith yang langsung diikuti oleh A.
Setelah perjalanan yang cukup panjang, dia akhirnya bisa turun dari pesawat dan menikmati suasana negara itu. Radith memiliki impian untuk membawa keluarganya berlibur seperti ini. Meski mungkin mereka bosan dengan pantai, pasti suasananya beda jika pantai itu berada di luar negeri.
“Apa kau sudah menyiapkan hotel dimana kita akan tinggal? Kita tidak bisa melakukan banyak hal di negara ini, aku hanya akan mengintai gerak gerik Roy sambil mencari cara untuk langsung membunuhnya. Kita tidak boleh gegabah karena bisa saja kita tidak bisa kembali ke Indonesia apabila tertangkap oleh kepolisian negara ini,” pesan Radith pada A yang diangguki oleh lelaki itu.
“Angga, mulai saat ini aku akan memanggilmu Angga, aku percaya kau bisa diandalkan. Terima kasih sudah bertahan dan berkali-kali mempertaruhkan nyawa untukku, aku akan menyiapkan hadiah yang besar untukmu,” ujar Radith yang dijawab gelengan kepala oleh A yang mulai saat ini namanya adalah Angga.
“Tidak tuan, saya tidak mengharapkan hadiah. Awalnya saya menganggap yang saya lakukan adalah pekerjaan, namun saat ini, saya merasa harus melindungi tuan dengan nyawa saya sebagai ucapan syukur. Jika saya tidak bertemu tuan, keluarga saya akan mati kelaparan dan bahkan seumur hidup akan terlilit hutang, bahkan nyawa saya pun tidak cukup pantas untuk menebus apa yang sudah tuan berikan.”
“Tuan orang yang sangat baik dan peduli pada kami. Saya tidak mengharapkan imbalan apapun, saya hanya ingin memastikan kita semua, terutama Tuan bisa kembali ke Indonesia dengan selamat. Semua ini dapat berakhir dan tuan bisa hidup damai dengan nyonya Lira,” ujar Angga yang diangguki oleh Radith. Dia bersyukur memiliki anak buah yang sangat loyal seperti Angga.
“Aku akan menelpon Andre dan memastikan semua beres, kau dan yang lain, siapkan kamar yang akan kita tinggali, jika bisa kamar yang paling atas, sewa 5 kamar, satu kamar akan ditiduri oleh 2 orang, dan untukku sewakan kamar premium agar aku bisa tidur denganmu dan B, serta ruang itu bisa kita gunakan untuk rapat.”
Angga segera melakukan perintah Radith sementara Radith menelpon Andre yang saat ini mengcover semua pekerjaannya yang ada di Bali. Dia ingin memastikan semua berjalan dengan lancar. Dia juga menelpon Jordan dan Darrel untuk memastikan mereka sudah menyiapkan segala sesuatu yang dia perlukan di sini.
__ADS_1
Radith masuk ke dalam kamarnya dan mengumpulkan A-J, dia akan membuat keputusan yang besar, karena dia tidak bisa memanggil mereka dengan huruf di negara ini, dan dia juga tidak ingat nama mereka di dunia nyata, dia akan memberi nama baru pada mereka sesuai dengan abjad depan mereka. Hal ini tentu istimewa karena Radith hanya memberi nama kepada pengawal yang dekat dengannya, dan sejauh ini, Andrelah satu-satunya orang yang memiliki nama.
“Aku akan membuat keputusan yang besar. Karena kalian sudah berjasa dalam setiap misi, mulai hari ini kalian bersepuluh akan mendapat nama, termasuk kau J yang baru masuk dalam rombongan, kau mendapat keberuntungan karena kau juga akan memiliki nama setelah ini.”
“A, mulai hari ini, kau akan dipanggil dengan nama Angga. B, Kau akan dipanggil dengan nama Beni. C, Kau Charlie. D, kau Dewa. E, Erwin. F, Frans. G, Gio. H, Henry. I, Irvan. J, Jovan. Ini bukan hadiah yang besar, namun dengan nama nama ini, kalian akan menjadi yang terdekat bagiku, jadi aku harap kalian bisa menganggapku sebagai teman, rekan dan bertindak lebih dekat. Setelah misi ini selesai, aku akan menyebar kalian dan membiarkan kalian mengelola perusahaan kalian sendiri.”
Mereka memandang satu sama lain. hal yang disebutkan Radith adalah hal yang sangat mereka tunggu. Hidup normal tanpa adanya ancaman kematian atau dosa karena membunuh orang lain. Mereka mengucapkan terima kasih dan bahkan sangat terharu dengan keputusan yang Radith buat. Mereka juga bertekad akan menyelesaikan misi ini dengan baik dan mereka akan pulang ke Indonesia dengan hasil yang baik pula.
“Sekarang kembali ke posisi masing-masing, dan ingat, jangan sampai kalian membuat curiga orang-orang di sini. Kita adalah sekelompok teman yang sedang berlibur panjang di Hawaii, ingat itu ya,” pesan Radith sebelum mereka membubarkan diri dan Radith segera melacak dimana Roy tinggal, agar mereka bisa segera menyelesaikan misi besar ini.
Malam harinya, Radith merasa gelisah dan sangat merindukan Lira. Namun dia tidak bisa menghubungi istrinya itu, dia tidak mau membuat Lira makin khawatir dan akan berdampak pada kesehatan bayi mereka juga karena Lira masih harus memberikan ASI pada anaknya itu. Radith melihat Angga dan Beni sudah tidur, dia tidak ingin mengganggu istirahat mereka dan memutuskan untuk berjalan-jalan di pantai.
Angin malam cukup kuat, Radith memakai celana pendek, namun dengan jaket melekat di tubuhnya. Dia menikmati angin yang menerpa tubuhnya. Seketika bayangannya teralih pada masa SMK yang begitu indah baginya. Semua yang dia lakukan terasa menyenangkan dibanding hidupnya saat ini. Entah kenapa tiba-tiba dia merindukan Lunetta.
“Ah, kenapa tiba-tiba gue malah jadi kangen dia? Dulu mau maunya gue nungguin dia buat terus aman dan tentram dan bahkan masih gue tunggu walau dia udah sama Darrel. Sebodoh itu ya Dith lo ternyata, tapi kenapa rasanya nyaman banget pas itu?” tanya Radith pada dirinya sendiri. Lelaki itu menghela napas panjang dan kembali berjalan.
Radith meringis miris melihat gadis yang duduk itu. Gadis itu hanya menggunakan daster Hawaii yang pas digunakan saat siang, namun gadis (atau mungkin wanita?) memakainya di malam hari dengan keadaan angin kencang seperti ini.
“Sorry, it’s so sold here, you can wear my jacket,” ujar Radith yang langsung melepas jaketnya dan menutup tubuh wanita itu tanpa diminta. Wanita itu tersenyum tipis tanpa melihat ke arah Radith dan langsung mengeratkan tubuhnya ke jaket yang cukup hangat itu.
“Thank you,” ujarnya singkat. Wanita itu menoleh ke arah Radith dan Radith langsung terkejut karena melihat Lunetta di sana. Meski tak begitu mirip, Radith bisa merasakan ada beberapa titik yang mirip. Wanita itu juga tampak terkejut setelah melihat Radith, sepertinya dia mengenali Radith.
“You Radith kan? Mantannya Luna yang bener-bener bikin tuh anak setengah gila? Kenapa lo ada di sini?” tanya wanita itu yang membuat Radith mengerjapkan matanya beberapa kali. Otaknya seperti berhenti bekerja dan tubuhnya pun mematung begitu saja.
“Well, Gue Danesya, kembarannya Luna. Lo gak asing sama wajah gue, mungkin karena ada miripnya. Tapi gue benar-benar gak asing sama wajah lo, cinta pertama dan mungkin cinta terakhirnya kembaran gue,” ujar Danesya yang membuat Radith tertegun. Apakah keberuntungan benar-benar berpihak padanya?
Radith duduk di sebelah Nesya dan ikut memandang ke arah laut.
__ADS_1
“Gue kaget dan ngira Luna ada di negara ini juga. Udah lama gue gak ketemu dia, eh malah ketemu sama kembarannya,” ujar Radith sambil terkekeh. Nesya juga tertawa singkat mendengar pengakuan itu.
“Yah, kalian udah bahagia di jalan masing-masing, kenapa harus saling mencari kan? Walau entah kenapa nih gue merasa kalau lo masih mau sama Luna, dia bakal lepasin Darrel dan milih lo jadi suaminya,” ujar Danesya dengan nada bergurau, namun Radith tidak menganggap gurauan itu lucu.
“Jangan begitu lah, dia kan udah bahagia banget tuh sama suaminya, tega bener ngomong gitu. Mana anaknya udah 3 pula kan? Mana mau sama gue? Lagian gue juga udah punya istri dan anak, jadi ya gue gak ada niat sama sekali buat balik ke Luna,” ujar Radith yang diangguki oleh Nesya. Dia juga tidak menyarankan Radith untuk melakukan hal serendah itu.
“Lo ngapain di Hawaii? Istri sama anak ikut kah?” tanya Nesya yang mengalihkan pembicaraan. Radith menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Dia menjelaskan jika dia sedang berlibur bersama teman-temannya sekaligus membahas masalah pekerjaan agar Nesya tidak curiga dan pergi dari negara ini bersama dengan suaminya.
“Kalau lo sendiri? Ngapain ke Hawaii? Liburan?” tanya Radith yang dijawab gelengan kepala oleh Nesya. Dia menghisap rokok yang ada di tangannya dan mematikan rokok itu meski masih setengah. Dia juga meneguk alkohol yang ada di sampingnya, lalu menawarkannya pada Radith, karena Radith menolak, dia meletakkan botol itu di antara dirinya dan Radith.
“Gue tinggal di sini, udah berbulan-bulan. Bosan sama suasana Indonesia, gak asyik sama sekali, jadi yahhh enakan tinggal di sini, gak ada yang kenal gue, jadi gue hidup nyaman,” ujar Nesya yang diangguki oleh Radith. Jika dia tahu, dia tidak akan membuang waktu dengan anak buah Roy yang ada di Indonesia, dia akan langsung pergi ke negara ini.
“Apa gak mahal nyewa hotel sampai berbulan-bulan?” tanya Radith dengan penasaran. Nesya menganggukkan kepalanya dan membenarkan pertanyaan itu, namun setelahnya dia tertawa, hal itu tentu saja membuat Radith bingung. Namun lelaki itu menyadari, Nesya sudah dalam pengaruh alkohol.
“Kalau nyewa hotel pasti mahal lah. Lo bisa beli beberapa rumah di Indonesia. Tapi gue di sini gak tidur di hotel, gue punya rumah. Kalau memungkinkan, gue bakal ajak lo main ke rumah gue, kalau suami gue ngebolehin sih,” ujarnya dengan senyum khas orang yang sudah mabuk. Sesaat setelah menyebut ‘suami’, mata Nesya memerah dan mulai terisak.
Nesya menyenderkan kepalanya di bahu Radith, membuat lelaki itu bingung harus bereaksi seperti apa. Dia tahu Nesya mabuk dan tidak akan sadar akan apapun yang dia lakukan. Radith pun memutuskan hanya diam dan menunggu wanita itu berhenti terisak, akan lebih baik jika wanita itu menceritakan hal tentang Roy kepadanya.
“Nesya! Udah dicari kemana-mana ternyata ngeluyur di sini sama brondong! Ayo pulang!” seseorang membentak dari belakang dan langsung menarik rambut Nesya dengan paksa. Hal itu tentu saja membuat Radith sangat terkejut dan reflek menahan tangan itu agar tidak menyakiti wanita yang ada di sampingnya ini.
“Anda siapa? Anda jangan bertindak kasar dengan wanita. Saya akan laporkan anda ke pihak berwajib jika anda tidak melepaskannya,” ujar Radith dengan wajah yang galak, namun orang itu malah melotot pada Radith dan makin menarik rambut Nesya. Anehnya wanita itu terkekeh seolah menyukainya, dan malah menyingkirkan tangan Radith dari tangan lelaki itu.
“Tenang aja, gue udah biasa kok dan malah suka. Sayang, maaf aku tadi keluar nyari angin. Kamu jangan marah sama dia ya, dia itu mantannya Lunetta, lagi liburan dan kebetulan ketemu sama aku, terus nih aku juga dikasih pinjam jaket dia. Baik banget kan dia?” tanya Nesya yang diangguki oleh lelaki itu.
Radith mematung mendengar penjelasan Nesya. Ternyata lelaki yang ada di hadapannya ini adalah
__ADS_1
ROY!