Bossy Bos

Bossy Bos
Chapt 137


__ADS_3

ROY!


 


Seseorang yang dia harus segera bunuh kini ada di hadapannya. Namun entah kenapa dia tidak memiliki keberanian untuk langsung  membunuh pria itu di tempat ini karena dia yakin pria itu diawasi, dia tidak bisa mengambil resiko dengan bertindak gegabah. Paling tidak dia tahu bahwa targetnya sudah ada di dekatnya saat ini.


 


“You have a good luck cause my wife save your life,” ujar Roy yang langsung menarik pundak Nesya. Wanita itu berdiri dan melenggang begitu saja dari harapan Radith. Lelaki itu terdiam begitu saja, membiarkan Roy untuk pergi dan memastikan dia tidak diikuti. Radith mengambil sampah Nesya dan berjalan menjauh, dia harus membuang sampah agar area pantai tidak kotor.


 


Saat hendak membuang puntung rokok milik Nesya, Radith terkejut karena di dalam rokok itu terdapat serbuk aneh, entah kenapa dia yakin serbuk itu adalah narkoba. Yah, suaminya adalah bandar yang licin dan cukup besar, tentu bukan hal yang sulit baginya mendapat jatah narkoba.


 


“Kasihan banget cewek kayak lo dapat jodoh kayak Roy. Seharusnya lo dapat yang lebih baik lagi. Semoga setelah semua ini selesai, lo bisa hidup dengan baik,” ujar Radith yang memilih untuk melenyapkan benda yang hendak dia buang, karena sidik jarinya ada di sana, jika seseorang menemukannya, bisa saja malah dia yang disangka menggunakan benda-benda itu.


 


Radith kembali ke kamarnya dan kali ini dia sudah bisa tidur meski tidak cukup nyenyak karena otaknya terus berputar bagaimana caranya dia bisa menjebak dan langsung membunuh Roy tanpa membahayakan hidupnya dan hidup timnya. Dia juga harus lebih berhati-hati, karena bisa saja dia sudah diikuti karena berhubungan dengan Nesya.


 


Pagi harinya, Radith meminta teman satu timnya untuk berkumpul dan memberitahukan jika Roy sudah berada di dekat mereka. Mereka tidak bisa langsung melenyapkan lelaki itu karena mereka ada di negara lain, dimana jika membuat kerusuhan, mereka akan menyeret keluarga mereka dalam masalah ini. Identitas mereka akan terbongkar dan bahkan semua keluarga mereka akan terancam.


 


“Ini ide yang cukup gila, namun tuan bisa mencobanya,” ujar Jovan yang membuat mereka semua menengok. Radith hanya berfokus dengan strategi untuk membunuh dari jauh tanpa ketahuan, namun J malah memikirkan hal lain yang jauh lebih aman meski memakan waktu yang lebih lama.


 


“Tuan berpotensi untuk menjadi akrab dengan Danesya, tuan bisa mendapatkan itu untuk menjadi lebih dekat dengan mereka. Tuan bisa mendapatkan kepercayaan mereka dan jika sudah begitu, Tuan akan lebih mudah untuk mendapatkan informasi penting, sekaligus menemukan cara terbaik untuk membunuhnya,” ujar Jovan yang membuat Radith termangu sesaat.


 


“Sepertinya itu ide yang bagus dan tidak terlalu beresiko. Tuan bisa mengatur agar seolah pertemuan kalian tidak disengaja, kami akan mengawal dari jauh untuk memastikan siapa saja yang mengikuti tuan, sekaligus memastikan keselamatan tuan,” sahut Erwin menimpali. Radith memikirkan ide itu, sebenarnya cukup berbahaya mengingat Roy adalah Psikopat, namun itu adalah cara terbaik yang mereka punya untuk saat ini.


 


“Baiklah, aku akan percaya pada kalian dan mencoba untuk mendekati mereka. Aku tahu Roy sangat berbahaya, namun Danesya sepertinya aman, jadi aku akan mencoba perlahan. Terima kasih Jovan kau sudah memberikan ide yang sangat baik dan tentu saja sangat mungkin untuk dicoba. Aku akan melakukannya. Terima kasih banyak,” ujar Radith yang diangguki oleh Jovan.


 


Selesai berkumpul, mereka membubarkan diri satu persatu agar tidak ketahuan ataupun menimbulkan kecurigaan dari orang sekitar. Mereka sama-sama mencari cara agar Radith bisa bertemu lagi dengan Danesya. Radith sendiri memilih untuk keluar dari kamar hotelnya dan mencari udara di luar.


 


“Karena sudah diputuskan apa yang akan kita lakukan, lebih baik kita sedikit bersantai, aku akan pergi ke pantai, kalian akan ikut denganku sambil mengamati sekitar, jangan menimbulkan kecurigaan dan tentu saja jangan sampai ketahuan. Kalian bisa pergi kemanapun asal tidak lepas dari pandanganku agar jika terjadi sesuatu aku akan segera mengetahuinya.”


 


Mereka cukup senang mendengar itu, karena meskipun bekerja, mereka masih bisa merasakan sedikit liburan yang cukup menghibur dan melepas penat. Mereka mengganti baju menggunakan baju pantai dan bergantian keluar menuju pantai. Radith dan Angga sendiri langsung duduk di tempat yang ada di sana, banyak bule yang memakai pakaian menggoda di sini.


 


“Kau tertarik dengan salah satu dari mereka? Jika kau tertarik aku akan mencoba untuk menjodohkannya denganmu. Siapa tahu jika mereka tahu kau adalah pemilik perusahaan, mereka akan mau denganmu, bagaimana? Apa kau tertarik dengan itu?” tanya Radith pada Angga yang langsung dijawab gelengan kepala oleh lelaki itu.

__ADS_1


 


“Saya tidak tertarik dengan wanita tuan,” celetuk Angga yang tentu saja membuat Radith mengernyitkan dahinya bingung. Dia langsung mengambil beberapa langkah ke samping untuk menjauhi Angga.  Angga yang melihat gelagat itu tentu saja bingung, dia bahkan membalikkan tubuhnya untuk melihat apa yang aneh di belakangnya, tanpa menyadari Radith merasa aneh padanya.


 


“Kau tidak tertarik dengan wanita? Apakah itu alasanmu berada di dekatku? Wah jika itu maksudmu, maaf, aku tidak bisa, aku memiliki istri dan anak, aku mencintai istri dan anak-anakku, jadi jangan berpikir aku akan menyukaimu,” ujar Radith yang tentu membuat mulut Angga terbuka lebar. Lelaki itu baru menangkap kenapa Radith takut dan menyingkir darinya.


 


“Tidak tuan, tidak seperti itu. Saya lelaki yang normal dan tentu saja saya menyukai wanita, mencintai wanita. Namun untuk saat ini, saya tidak tertarik dengan wanita. Saya hanya ingin menyelesaikan tugas saya sebaik mungkin dan pulang ke Indonesia, saya ingin memiliki orang Indonesia asli,” ujar Angga yang membuat Radith membulatkan mulutnya.


 


“Sialan, gue kira lo gak suka sama cewek tapi sejenis jeruk makan jeruk. Ya gak masalah kalaupun lo jeruk makan jeruk, yang penting gue dah bilang kalau gue gak tertarik sama lo. Gue sayang sama istri gue,” ujar Radith yang membuat Angga terkekeh. Saat ini mereka benar-benar terlihat seperti teman dibanding dengan rekan kerja.


 


Radith mengamati sekitar, dia tidak mendapati Nesya saat ini. Apakah wanita itu pergi bekerja? Atau dia hanya bisa keluar rumah di malam hari karena suatu alasan? Radith tidak bisa berbicara atau bertanya banyak kemarin malam, jadi dia tidak mendapatkan informasi yang cukup. Dia perlu bertemu dengan wanita itu lagi, dan tentu saja menambah informasi yang dibutuhkan.


 


Benar saja, sampai hari semakin terik, Radith tidak mendapatkan tanda-tanda adanya Nesya di sekitar sini. Dia akhirnya memilih untuk menyewa mobil dan mengendarainya berkeliling, siapa tahu dia bisa menemukan rumah Nesya yang tadi malam dia bilang ada di dekat sini. Dia melihat sekitar untuk menghafalkan rute sekaligus mencari celah agar jika memang dia ketahuan, dia bisa kabur dengan cepat.


 


Radith putus asa saat hari menjelang petang, dia belum bisa menemukan Nesya. Dia memilih untuk pulang dan beristirahat di hotel. Dia membuka laptopnya dan menghubungi Andre, yah dia harus memastikan semua yang dia tinggal di Indonesia dalam keadaan baik dan aman. Termasuk dengan istri dan ketiga anaknya. Untung saja tuan Wilkinson mengijinkan Lira untuk kembali ke rumahnya dengan pengawalan yang ketat.


 


Paling tidak untuk saat ini Lira bisa bernapas dengan lega dan melakukan aktivitas seperti biasanya, meski kali ini dia dijaga ketat, demi keselamatan dirinya dan anak-anaknya juga, dia terpaksa mengikuti semua yang tuan Wilkinson perintahkan. Dia hanya ingin suaminya untuk pulang ke negara ini dengan selamat, sehingga mereka bisa hidup normal seperti yang mereka impikan sebelumnya.


 


 


“Tidak apa, semua butuh pengorbanan. Aku sudah mengorbankan tuanmu untuk keselamatan kalian semua. Lira sudah mengorbankan perasaannya, rasa sakit hatinya dan bahkan kerinduannya agar kau bisa menuntaskan semua permintaan tuan Wilkinson. Jangan lupakan 10 pengawal itu, mereka mengorbankan segalanya untuk membantumu. Tidakkah keterlaluan jika kau bahkan tidak bisa menahan rasa rindu itu dan terus merengek seperti bayi?” sindir Andre dengan tegas.


 


“Wah, kau adalah satu-satunya yang berani memanggilku dengan sebutan bayi? Merengek? Selamat, setelah mengataiku, kau bahkan masih bisa hidup dengan tenang dan nyaman karena aku jauh darimu. Kau tidak akan selamat jika aku ada di dekatmu, kau harus..”


 


“Jangan banyak bicara dan selesaikan saja tugasmu, aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Kau memiliki banyak klien penting dan aku tidak sanggup jika harus menangani semuanya sendiri untuk waktu yang lama, lekaslah kembali dan menangkan pertandingan ini, aku tidak akan lama menunggu, jika kau terlalu lama, aku akan merebut perusahaan dan mengambil alih semua yang kau miliki,” ujar Andre dengan wajah datarnya.


 


“Itu sudah termasuk istri dan anak-anakmu, aku akan mengambil hak milik atas semua, jadi cepatlah pulang,” ujar Andre yang langsung mematikan panggilan telepon. Radith sampai melongo melihat kelakuan anak buahnya. Mentang-mentang Andre sangat dekat dengannya, dia bisa bertindak seberani itu. Meski begitu, Radith cukup bahagia mendapat anak buat seperti Andre. Dia sangat tulus dan bisa menyampaikan semangat dengan cara yang berbeda.


 


Malam harinya, Radith masih penasaran dengan Nesya. Entah kenapa dia memutuskan untuk keluar dari kamarnya dan berjalan ke arah pantai, siapa tahu dia bisa menemukan wanita itu di malam hari. Dia memakai jaket yang lain dan berjalan menyusuri pantai, namun tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana.


 


“Ck, kayak sinetron aja lu Dith, mana mungkin kebetulan dia tiap malam main ke laut? Kena angin duduk lah yang ada, duduk sambil diangin angin sama pantai,” ujar Radith yang kesal dengan dirinya sendiri. Dia menendang-nendang pasir sambil menunduk. Dia meluapkan kekesalannya dengan pasir yang ada di hadapannya itu.

__ADS_1


 


“Aw,” rintih seseorang saat Radith mengibaskan pasir cukup tinggi. Radith mendongakkan kepalanya dan betapa terkejutnya dia, hidupnya benar-benar seperti sinetron. Dia sungguh bertemu lagi dengan Nesya di tempat ini, di saat malam. Ah, tidak sia-sia Radith menemani Lira melihat drama-drama yang menurutnya tak masuk akal itu, namun kini dia malah mengalaminya sendiri di kehidupan nyata.


 


“Maaf maaf, gue kira gak ada orang, maaf,” ujar Radith menolong Nesya yang masih membersihkan kakinya dari pasti. Dia langsung mendongak dan melihat ke arah Radith, lalu menyengir dan menggelengkan kepalanya. Dia tidak mempermasalahkan hal itu lagi. Nesya kembali duduk di atas pasir dan menatap laut malam yang sebenarnya tidak istimewa.


 


“Lo ke sini lagi? Gak bisa tidur?” tanya Radith yang langsung duduk secara alami di sebelah Nesya. Wanita itu menggelengkan kepalanya dan menghirup udara malam itu dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan seorang bersamaan dengan udara, dia menghembuskan kerisauan dalam hatinya.


 


“Lo sendiri? Ngapain ada di sini lagi? Nyari gue ya?” tebak Nesya yang membuat Radith tersedak padahal dia tidak sedang memakan atau meminum apapun. Nesya tentu saja terkekeh melihat Radith terbatuk-batuk, dia memberikan botol air minumnya dan membiarkan Radith minum untuk melegakan tenggorokannya.


 


“Thanks, tumben gak beer?” tanya Radith mengalihkan pembicaraan dan meletakkan botol itu di dekat Nesya. Wanita itu menatap Radith dengan alis yang terangkat sebelah, menatap Radith dari atas sampai bawah, lalu kembali lagi ke atas secara perlahan. Hal itu tentu saja membuat Radith menjadi risih dan matanya mengisyaratkan bertanya.


 


“Gak, lucu aja. Untuk bertahun-tahun tahun, ini kedua kalinya lo ngobrol panjang sama gue, tapi lo bisa bilang tumben gue gak minum beer? Emang lo tahu selama ini gue minumnya apa aja? Kebiasaan gue minum apa aja?” tanya Nesya yang membuat Radith sadar juga.


 


“hahaha, biar sok akrab aja sih gue mah, lo emang tiap malam suka ke pantai gini? Kenapa gak siang gitu? Kan lebih ramai, lebih enak juga suasananya?” tanya Radith dengan santai agar Nesya tidak curiga.


 


“Gue pengen, tapi gue gak bisa,” ujar Nesya pelan. Radith hanya memiringkan kepalanya, dia menunggu wanita itu melanjutkan percakapannya.


 


“Ya gue gak bisa. Gak dibolehin sama suami gue. Gue cuma boleh keluar di malam hari, dan yah, kalau lo bilang gue biasa minum beer karena kemarin gue bawa alkohol banyak, lo salah. Gue boleh minum itu satu bulan sekali, jadi ya gue puas-puasin aja,” ujar Nesya sambil mengedikkan bahunya.


 


“Gak dibolehin sama Roy?” tanya Radith berhati-hati karena takut menyinggung.


 


“Iyalah, suami gue siapa lagi kalau bukan mantan teman SMK lo itu?” tanya Nesya sambil terkekeh pelan.


 


Ah, rupanya Nesya juga tahu jika Roy pernah satu sekolah dengan Radith. Apakah mungkin wanita itu juga tahu apa yang terjadi antara dia dan Roy?


 


“Kenapa dia gak ngebolehin lo buat pergi pas siang?” tanya Radith lagi untuk memancing. Nesya menggelengkan kepalanya pelan.


 


“Lo gak perlu tahu, kecuali lo mau jadi perebut istri orang, lo gak perlu tahu keadaan rumah tangga gue,” ujar Nesya yang langsung berdiri saat itu.


“Lo mau ikut gak? Gue mau makan malam dulu. Lapar,” ajak Nesya pada Radith yang masih terdiam.

__ADS_1


 


“Ah, iya, boleh, gue ikut,” sahut Radith semangat karena akhirnya dia mendapat kesempatan untuk lebih dekat dengan Nesya.


__ADS_2