Bossy Bos

Bossy Bos
Bab 47


__ADS_3

“Ra, kita harus cepat menikah deh, karna kita harus leks daftarin akta kelahiran Sean, dan aku mau kita jadi keluarga yang utuh. Apa yang kamu tunggu lagi? Aku udah berubah, kita udah berubah. Kita udah tinggal serumah dan menurutku, emang udah waktunya kita memulia kehidupan baru, kehidupan yang benar benar baru,” ujar Radith yang berpikir dalam diam saat mereka duduk sambil menonton televisi, dia memikirkan banyak hal dan kemungkinan jika mereka menunda pernikahan.


“Sean emang setuju kalau kita menikah? Bukannya kamu ingat kalau Sean udah bilang dia gak setuju aku menikah? Gimana tuh? Yang main puzzle juga, kamu gak bisa selesaikan puzzlenya, emang kamu yakin kita tetap menikah?” tanya Lira geli pada Radith yang seperti menanggung beban yang sangat besar dengan adanya masalah pernikahan ini. Lira sebenarnya sudah memikirkannya, tapi masih ada perasaan menggganjal yang membuatnya takut untuk menikah dengan Radith.


“Aku serius, kalau Cuma masalah Sean yang panggil aku Uncle ayah, ya udah terserah dia aja. Aku gak masalah sama sekali kalau dia nyamannya begitu. Tapi yang penting kita menikah dulu, kalau kamu udah yakin sama aku, dan ini juga demi masa depan Sean, kamu gak bisa selamanya lari dari masalah ini kan? Sean butuh keluarga yang utuh, baik secara data maupun kenyataan. Sean udah tambah besar Ra, dia berhak tahu kan kalau aku anak kandungnya.”


“Papa kandungnya Dith, kalau kamu anaknya Sean, malah seram, gimana sih? Aku tahu masalah itu, aku juga udah mikirin hal itu, tapi insting aku bilang gak sekarang, biasanya aku selalu ikuti insting aku,kalau hatiku bilang enggak, berarti enggak. Itu yang buat aku mikir ulang buat nikah sama Kamu Dith. Sekarang aku tanya sama kamu, apa kamu udah sepenuhnya berdamai sama masa lalu kamu?”


“Kamu udah berdamai sama perasaan kamu? Kamu udah bisa menganggap Luna biasa aja? Kamu bahkan gak bisa angkat kepala kamu dengan tegas di depan dia, gak bisa kan? Selama kamu belum bisa berdamai sama diri kamu sendiri, gimana bisa kamu mau memulai kehidupan abru? Kamu pikir, aku mau hidup dalam bayang bayang Luna seumur hidup aku?” tanya Lira yang membuat Radith terdiam. Dia tidak bisa membantah pernyataan Lira.


“Lo mungkin mabuk, dan Lo gak ingat kejadian lima tahun, ah mungkin 6 tahun lalu. Lo masuk ke ruangan di kantor Lo, Lo tarik gue dan Lo paksa Gue buat berhubungan sama Lo, tapi apa Lo ingat saat itu Lo sebut nama Luna bukan gue? Lo ingat itu Dith? Bahkan di saat gue kasih hal yang berharga, hal yang gue lindungin ke Lo, Lo masih sebut nama dia Dith.”


“Lo mungkin ngira Gue memutuskan buat gak hubungin Lo lagi, Gue pergi ke Australia dan membesarkan Sean sendiri karna Gue kecewa sama Lo, dan kecewa itu karna Lo memp3rkosa gue kan? Padahal enggak, gue jauh lebih kecewa karna Lo ambil itu dengan Lo membayangkan lagi melakukannya sama cewek lain. Lo bayangin gak hancurnya gue?”


“Lo pikir gampang kah jadi gue? Lo pikir gue gak mau maafin Lo sepenuhnya dan anggap semua clear? Lo pikir gue gak mau sembuhkan trauma gue ini? Gue mau, gue pingin, tapi gue gak bisa. Kemarin Gue lihat Lo masih beda sama Luna, Gue diem, tapi gue bisa mikir kalau Lo gak sepenuhnya lepasin dia. Seandainya kak Darrel tinggalin Luna, gue yakin kok Lo bakal balik ke Dia, apa Lo bisa menyangkal semua yang gue bilang ini? Lo ada pembelaan?”


“Lo Cuma mikir masalah mau tanggung jawab ke Sean. Lo Cuma beralasan masa depan Sean, tapi Lo bahkan gak pernah mikir tentang trauma Gue, apa yang gue rasakan, Lo juga Cuma kasih tahu gue kita harus menikah, tapi Lo gak mikir gimana mental Gue kalau kita menikah,” ujar Lira yang meledak karna Radith hanya diam sedari tadi.


“Tempo hari Lo bilang kalau trauma Lo udah hilang, Lo udah sembuh. Kenapa sekarang beda lagi? Lo kenapa? Apa yang membuat Lo berubah. Bahkan waktu di sana juga Lo biasa aja, Lo masih bisa ketawa sama Gue dan bahkan gak ada masalah apa apa, tapi sekarang?” tanya Radith yang bingung pada Lira.


“Iya, sebelum Gue lihat Lo sama Luna. Lo yang seolah masih cinta mati sama Dia, Gue gak tahu Dith, Gue gak tahu. Gue gak mau menikah sama Lo, Gue gak mau, misi, Gue mau balik ke kamar,” ujar Lira yang langsung berdiri, dan berlari ke kamarnya. Radith tentu bingung. Mereka tidak sedang berdebat, mereka sedang mendiskusikan pernikahan. Tetapi Lira malah marah dan seperti ini. Radith melihat ke belakang, apakah ada sesuatu yang dia katakan itu salah?

__ADS_1


“Kalau masalah Luna, memang sampai kapanpun Gue gak akan bisa biasa aja ke Dia, dan Lira tahu itu. Gue bahkan udah lost contact sama Luna karna hal ini. Gue udah berusaha semaksimal yang Gue bisa buat gak ngobrol sama Dia, tapi kenapa malah jadi kayak gini sih?” tanya Radith yang heran dengan situasi ini. Dia gelisah dan Takut Lira sunguh marah, tapi dia berpikir bukan hal yang baik untuk menghampiri Lira di saat seperti ini.


“Uncle, Uncle-Ayah bertengkar sama Mami ya? Uncle-ayah jangan tinggalin Mami ya, Sean mau Uncle-ayah jadi Papi Sean, tapi Uncle jangan marah sama Mami, Ya?” tanya Sean yang tiba tiba datang dan duduk di pangukan Radith. Lelaki itu tentu saja merasa tidak enak karna anaknya harus mendengar pertengkaran mereka yang tidak berdasar.


“Dulu, waktu di Australia, Papi juga sering bertengkar sama Mami. Saat Papi masih main sama Sean, tiba tiba aja Mami datang dan marah ke Papi, tapi habis itu Mami nangis, Sean gak tahu kenapa. Mami sering aneh begitu Uncle, tapi Sean tetap sayang sama Mami, Sean mau Mmai bahagia,” ujar Sean dengan nada seperti anak kecil.


“tunggu dulu, Mami kamu sering begitu?” Tanya Radith dengan heran. Sean menganggukkan kepalanya pelan, namun dia segera mendongakkan kepalanya karna takut Radith akan marah, namun lelaki itu malah memeluknya dan mengusap kepalanya, tanpa mengatakan apapun.


“Sean, sekarang Sean masuk aja ke kamar ya. Udah waktunya Sean belajar kan? Terus jangan kebanyakan nonton tv yah, nanti kalau udah jam 8 langsung tidur. Uncle nanti Cek ke kamar Sean, oke?” tanya Radith yang diangguki oleh Sean. Mereka berpisah begitu saja, dengan Sean yang masuk ke kamarnya sambil bernyanyi pelan, dan Radith yang mencerna apa yang Sean katakan.


“Tempo hari, Lira tiba tiba ngamuk pas bertengkar sama Gue, padahal kalau Gue pikir, itu bukan masalah yang besar, sekarang juga. Apa ada penjelasan kenapa dia kayak gitu? Kalau karna rasa bencinya dia ke Gue, masak dia juga ngelakuinnya ke cowok Ausie itu? gak mungkin banget kan? Astaga, ini Lira jangan jangan…”


Radith langsung berdiri dan bergegas untuk menghampiri Lira, takut jika Lira melakukan hal yang di luar nalar. Radith mengetuk pintu kamar Lira, namun tidak ada jawaban sama sekali. Bahkan tidak ada suara yang terdengar. Radith mencoba untuk membuka pintu itu, namun ternyata di kunci dari dalam. Dia panik, dia terus menggedor pintu kamar itu.


“Radith? Ngapain kamu di dalam sini? Kamu mau ngintipin aku mandi ya?” tiba tiba saja Lira keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya memakai handuk kimono. Dia menatap Radith dengan heran, tentu saja karna Radith menerobos masuk ke dalam kamarnya. Sementara Radith yang melihat Lira langsung berhambur ke wanita itu dan memeluknya erat, dia sangat takut Lira melakukan hal gila yang mengancam nyawanya.


“Kamu kenapa sih? Kenapa tiba tiba ngedobrak pintu kamar aku? Kenapa gak tunggu aku keluar aja?” tanya Lira dengan bingung. Sebenarnya Radith gemas dan ingin memarahi Lira, namun dia ingat tentang apa yang dikatakan Sean dan dia memutuskan untuk memendamnya saja. Sementara Lira masih diam dan menunggu alasan Radith, lelaki itu tampak panik dan berantakan. Apakah ada maling dan dia takut Lira terluka?


“Kamu gak papa kan? Kamu oke kan? Kenapa kamu gak nyahut? Kenapa kamu gak jawab aku? Aku khawatir banget sama kamu,” ujar Radith yang semakin membuat Lira bingung. Radith yang datang dengan panik, kenapa Lira yang ditanya? Harusnya kan Radith yang ditanya masalah ini, apa yang terjadi sampai Radith setakut dan sepanik ini?


“Aku lagi mandi, kan kamar mandi kedap suara. Aku juga nyetel musik di dalam. Kamu kenapa sih? Kenapa kalau mau masuk gak tunggu dulu? Kalau buru – buru, kenapa gak pakai kunci cadangan di laci depan kamar aku, kan disitu ada. Kalau didobrak gitu kan malah rusak pintunya, nanti aku tidur dimana kalau tuh pintu belum benar?” tanya Lira sambil menatap ke arah pintu kamarnya yang terbuka lebar.

__ADS_1


“maaf ya, aku khawatir sama kamu. Terus tiba tiba kangen juga sama kamu, jadi ya aku mau masuk, eh kamu gak ada jawaban, aku pikir kamu kenapa – napa, jadi aku dobrak aja. Aku terlalu panik sampai gak ingat kalau ada kunci cadangan di sana,” ujar Radith yang membuat Lira tertawa geli, ternyata lelaki itu tidak ada alasan yang perlu dikhawatirkan, bahkan cenderung tidak bermutu.


“Besok aku panggil tukang buat benerin pintu kamu. Sekarang kamu ambil baju gantinya, terus ganti di kamar aku aja, sekarang aku tidur di kamar Sean aja, biar kami juga bisa makin akrab,” ujar Radith yang diangguki oleh Lira. Dia mengambil baju, selana dan pakaian dalam, lalu kembali menghampiri Radith, meski dia masih tidak mengerti apa yang dipikirkan Radith, yang penting sekarang dia bisa tidur dengan nyaman di kamar Radith, kamar yang menjadi favoritnya karna luas dan dingin.


Sebenarnya di rumah ini ada 3 kamar tamu, namun karna mereka tidak pernah menerima tamu, kamar itu tidak pernah dipakai dan dibersihkan, jadi tidak nyaman jika Lira harus tidur di sana. Mereka juga tidak terbiasa tidur di kamar yang tidak terkunci, mengingat apa yang sudah mereka alami.


Setelah Lira masuk ke dalam kamar Radith, lelaki itu tak langsung masuk ke kamar Sean, dia pergi ke ruang kerjanya dan mencari tahu, sebenarnya apa yang membuat Lira sampai seperti itu? Pasti ada sesuatu yang salah sudah terjadi, perubahan emosi Lira sangat ekstrim, dan mungkin akan menjadi bahaya jika tidak segera diobati.


"Boderline, personality disorder, gangguan kepribadian ambang adalah gangguan mental yang ditandai dengan suasana hati dan citra diri yang sering berubah-ubah serta memiliki perilaku impulsif. Bipolar, perilaku agresif dan ledakan kemarahan serta perubahan emosi yang ekstrim." Radith membaca semua yang dia dia temukan di mesin pencari.


Lelaki itu semakin panik saay sadar jika apa yang dilakukan Lira sudah ekstrim dan kemungkinan dia mengidap bipolar, atau mungkin kepribadian ganda? Radith tidak berani memberikan diagnosis karna dia bukan seorang ahli. Dia harus membawa Lira untuk pergi ke psikiater agar semua menjadi jelas, tapi bagaimana menjelaskannya pada Lira?


Lelaki itu terus mencari apa gejala dari menyakit penyakit mental itu, rupanya gejalanya cukup umum jika kita tidak peka terhadap orang itu, karna sebenarnya sama saja seperti orang marah lainnnya, hanya waktunya saja yang berbeda. Seperti Radith yang selama ini tidak sadar Lira sering mengalami perubahan emosi.


Bahkan Radith tidak menyadari sampai detik ini jika Sean tidak menjelaskan tentang mereka saat tinggal di negeri kanguru itu. Dia harus segera membawa Lira ke pengobatan, karna semua penyakit yang dia baca, jika tidak segera ditangani, penyakit itu akan menguasahi otak dan hatinya sehingga orang itu akan benar benar kehilangan nalarnya.


Yah, bahasa kasarnya, mereka akan termasuk dalam ODGJ, Radith tentu tak mau Lira terlambat mengetahui hal ini. Atau Lira sudah tahu tapi tidak memberi tahu Radith? Apakah ini alasan Lira tidak mau menikah dengannya? Semua pertanyaan itu berputar seperti gasing di kepala lelaki itu, membuat lelaki itu sungguh pusing dan stres hanya dengan memikirkannya.


Dia menutup laptop tanpa mematikannya, lalu keluar dari ruang kerja dan masuk ke kamar Sean. Anak itu sudah tidur, memang Sean anak yang teratur dan Taat, jadi tidak sulit untuk memerintahkan dirinya, dia akan bekerja dengan maksimal meski tidak diawasi, yah, pasti bagi Radith sikap itu menurun darinya, hahaha.


"Semoga semua yang gue baca itu gak akurat dan apa yang dialami Lira ya karna dia marah aja, udah, gak ada masalah apa apa. Iya, gitu, hufft, semoga beneran gitu karna Gue gak tahu harus bagaimana ke Lira kalau sampai semua ini benar?"

__ADS_1


"Lira sehat aja gue kewalahan ngurusnya, apalagi dia sakit? Harus jagain ekstra dong? Astaga."


Radith enggan memikirkannya lagi, dia memutuskan untuk segera menutup matanya dan tidur, dia akan memikirkannya lagi besok.


__ADS_2