
"Pak, kami menemukan lokasi Nona Liora. Tidak begitu jauh dari tempat ini. Kita bisa sampai dalam sepuluh menit." Tanpa berkata apa -apa lagi, Radith langsung pergi ke mobilnya dan mengikuti mobil yang ada di depannya. Tak butuh waktu lama, mereka sampai di sebuah rumah kecil namun tampak nyaman. Mungkin menjadi rumah Impian bagi mereka yang suka tinggal di pusat kota.
"Kalian yakin di sini tempatnya? Kalian tahu kan apa Konsekuensinya jika penghuni rumah ini bukan Lira?" tanya Radith dengan nada dinginnya. Mereka saling berpandangan dan meneguk ludahnya, mereka juga tak yakin, namun menurut informasi yang mereka dapat, memang di sinilah tempatnya.
Radith tak menunggu jawaban mereka, lelaki itu langsung mendekat ke pintu dan mengetuknya. Lalu keluarlah seorang wanita dari rumah itu, membuat Radith dan wanita itu sama sama terkejut, namun Radith berhasil mengontrol kembali ekspresinya. Apakah benar Lira ada di tempat ini? Tapi siapa wanita ini? Dia bahkan tak pernah tahu Lira memiliki kerabat.
"May I help you?" tanya wanita itu yang membuat Radith tersadar dari lamunannya dan menyampaikan maksud kedatangannya ke tempat ini. Orang itu tampak terkejut, Radith tahu itu, namun dia berusaha menyembunyikan ekspresinya dan menyangkal pertanyaan Radith. Hal ini membuat Radith makin yakin bahwa Lira memang ada di tempat ini.
"Calm down, I know Him. Could you give me a time to talk with him, please?" Tanya Lira yang membuat Wanita itu khawatir. Namun Wanita itu menganggukan kepalanya dan meninggalkan Lira bersama Radith. Lelaki itu memandang Lira dengan wajah datarnya, dia mendekat, namun Lira seperti takut dan memundurkan langkahnya.
"Kenapa Lo tiba - tiba takut sama Gue? Kenapa Lo tiba - tiba pergi dan kenapa Lo gak kasih tahu apapun tentang kepergian Lo?" tanya Radith beruntun, namun tak dijawab oleh Lira sama sekali. Lelaki itu menghela napasnya karna frustasi, dia tak pernah menghadapi gadis seperti Lira, rasanya jauh lebih sulit dari Luna.
"Kenapa Lo melakukan hal yang sia - sia? Lo tahu kan bahkan kalau Lo pergi ke kutub Utara, Gue bakal temukan Lo dan bawa Lo pulang. Kenapa Lo harus pergi? Jawab pertanyaan Gue," ujar Radith yang membuat Lira memberanikan diri untuk menyorot langsung ke arah mata lelaki itu.
"Lo tanya Gue? Sebelum itu, Gue tanya dulu ke Lo. Apa hak Lo sampai Gue harus laporan kemanapun Gue pergi? Apa urusan Lo kalau Gue pergi ke kutub Utara dan dimakan beruang? Kenapa Gue harus hidup dengan rantai yang Lo ikat di hidup Gue?" tanya Lira dengan berani, hal itu membuat Radith sedikit gentar.
__ADS_1
"Gue bukan siapa - siapa Lo, begitu pun sebaliknya. Jadi Gue harap Lo gak akan bertindak posesif kayak gini, Gue udah capek, Gue gak mau lagi ada Lo di hidup Gue," ujar Lira yang membuat Radith makin naik darah. Bagaimana bisa Lira mengatakan itu semua? Gadis itu tak boleh pergi jika bukan Radith yang meminta.
"Gue bukan laki laki brengsek yang gak bertanggung jawab. Kenapa Lo langsung pergi? Kenapa Lo gak paksa Gue buat bertanggung jawab? Kenapa Lo pergi dengan ngehapus semua rekaman cctv di ponsel Gue?" tanya Radith yang tak membuat Lira terkejut, dia tahu akan mudah untuk Radith mengetahuinya.
"Terus Lo mau gimana? Nikah sama Gue karna terpaksa? Lo gak suka kan sama Gue? Lo posesif karna Gue punya hutang kan ke Lo? Lo kan cuma suka sama Luna bahkan di saat dia udah jadi istri orang lain," ujar Lira tanpa takut lagi, dia sudah sampai tahap tak peduli pada Radith dan semua perilaku kejamnya.
"Gue udah gak suka sama Luna. Lo bahkan tahu Gue tampan, banyak yang suka sama Gue, bahkan Lo juga suka sama Gue. Kenapa gue harus jadi cowok bodoh yang suka sama istri orang?" tanya Radith dengan sombongnya, namun malah membuat Lira tertawa sinis.
"Bahkan Lo sebut Gue Luna waktu Lo ngelakuin hal itu. Lo masih mau menyangkal? Lo mabuk kan? Bahkan alam bawah sadar Lo masih mengatakan Lo suka sama Dia? Terus Lo minta Gue ngemis ngemis ke Lo buat tanggung jawab?" tanya Lira yang membuat Radith menjambak rambutnya sendiri.
"Gue gak habis pikir sama Lo! Kenapa sih Lo rumit banget? Lo kan suka sama Gue, Gue juga udah ngelakuin hal itu ke Lo. Lo punya alasan kuat buat bikin Gue takluk sama Lo. Kenapa Lo gak lakuin hal itu dan malah bikin Gue sefrustasi ini karna nyariin Lo?"
"Oke, Gue tahu jawabannya. Lo mau tanggung jawab kan? Gue bakal kasih Lo kesempatan buat tanggung jawab. Tapi bukan tanggung jawab seperti yang Lo bayangin. Gue minta Lo pergi dari hidup Gue, karna Gue ngerasa trauma setiap ingat atau lihat Lo." Radith mengerutkan keningnya mendengar hal itu, apakah hal seperti itu bisa dibilang bentuk tanggung jawab?
"Gue gak mau menikah dan punya hubungan atas dasar kasihan, Gue juga gak bisa meratapi kehormatan yang hilang begitu aja padahal udah Gue jaga selama Gue hidup. Tapi semua udah terjadi kan? Gue gak akan menyesal, Gue akan anggap itu sebagai pelajaran yang berharga." Perkataan Lira membuat Radith mematung.
__ADS_1
"Gue gak salahin Lo. Anggap aja kita ngelakuin karna sama - sama gak sadar, jadi Lo gak perlu merasa bersalah lagi. Gue minta Lo hapus Gue dalam hidup Lo, kasih Gue waktu sendiri, tanpa pengawasan dari Lo, tanpa mata - mata. Kasih Gue waktu buat nyembuhin trauma ini sendiri."
"Ra, Gue bahkan bisa kasih Lo kehidupan yang layak, jaminan dan sebagainya. Gue juga bisa jadi pacar, ah bukan, suami Lo. Walau Gue belum suka sama Lo, Gue yakin nantinya Gue bakal suka sama Lo. Lo gak harus kayak gini, Gue bakal ngalah, Gue turutin kalau Lo mau apa juga."
"Ya ini yang Gue mau Dith. Lo bakal turutin kan? Semakin Gue lihat Lo, semakin Gue ngerasa sesak karna Gue sadar Lo sebut nama cewek lain di saat Lo ambil hal paling berharga di hidup Gue. Gue gak bisa hidup sama orang yang cuma kasihan sama Gue," ujar Lira dengan suara yang mulai bergetar.
"Lo mending balik ke Indonesia dan lakuin apa yang Gue minta. Biarin Gue hidup bebas, toh kalau memang Lo yang bakal jadi teman hidup Gue, sejauh apapun Gue lari, Gue pasti bakal balik lagi. Gue mau Lo balik ke Gue di saat Lo suka sama Gue. Jangan pernah muncul di hadapan Gue kalau Lo belum suka sama Gue," ujar Lira yang membuat Radith kehabisan kata - kata.
"Gue tanya terakhir kali sama Lo, apa dengan Gue ngelakuin itu, Lo bakal bahagia?" tanya Radith yang diangguki mantab oleh Lira. Lira menatap Radith dengan penuh keyakinan, membuat lelaki itu mengangguk pasrah.
"Oke, Gue bakal pergi dari hidup Lo mulai sekarang. Gue gak akan kirim orang buat pantau Lo, Gue bakal benar - benar bebasin Lo. Tapi kalau suatu hari nanti Lo menyesal, Lo bisa hubungi Gue kapanpun. Gue bakal langsung datang. Gue minta maaf untuk semua yang udah Gue lakuin ke Lo."
"Gue meminta maaf karna Gue udah buat hidup Lo hancur. Mungkin emang dengan ngelepasin Lo, Lo bakal dapat kebahagiaan sendiri. Gue belajar banyak hal dari Lo, dan Gue gak mau egois lagi buat sekarang."
"Terima kasih Lo mau turutin permintaan Gue. Semoga Lo bisa yakin sama hati Lo sendiri dan nemuin orang yang pantas sama Lo," ujar Lira untuk terakhir kali.
__ADS_1
Radith tersenyum getir dan berbalik. Ada rasa sesak di hatinya, dia mengartikan rasa itu sebagai kekecewaan karna dia harus meninggalkan Lira setelah apa yang dia perbuat. Hal itu menjadikannya pria yang tak baik.
"Semoga Lo bahagia Ra setelah ini, sekali lagi, Maaf."