Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
CSJC : Chapter 100


__ADS_3

Gibran yang baru saja di lantai satu tersenyum melihat istrinya yang walaupun kecewa tetap mau berbaikan dengan ibunya. Gibran berjalan menghampiri mereka lalu menyapa mertua dan kakak iparnya.


"Halo semua," sapanya sopan kemudian duduk di salah satu sofa yang kosong.


"Kamu nggak kerja?" tanya Akbar sambil menatap Gibran lekat.


"Nungguin istri, Pak. Kasihan dia nggak mau ditinggal, iya nggak?" Gibran mengerlingkan matanya manja ke arah Jasmine yang langsung melotot.


Jasmine duduk di samping suaminya lalu mencubit hidung Gibran dengan kesal. Setidaknya dengan demikian ia bisa sedikit terhibur dan tidak terlalu canggung berada dalam satu ruangan yang sama dengan keluarganya.


Gibran tersenyum kemudian menarik tangan Jasmine dan menciumnya berulang kali. Gibran bahkan mengabaikan orang-orang disekitarnya ketika dengan asik bersama dengan istrinya seperti sekarang.


Ranti dan Satya terlihat menuruni tangga bersama. Mereka turun untuk menyapa besan mereka yang datang bertamu.


"Sudah lama, Mbak?" tanya Ranti pada Ayunda sambil cipika-cipiki, biasalah ibu-ibu.


"Baru saja kok," timpal Ayunda sambil tersenyum canggung.


Satya hanya tersenyum sambil bersalaman dengan besannya. Mereka kemudian duduk bersebelahan dengan Gio yang berada di gendongan Satya.


Mereka terlibat obrolan sederhana dalam waktu yang cukup lama. Sampai akhirnya mereka pulang dan meninggalkan Airin di rumah Satya karena Jasmine yang memintanya.


Ranti dan Satya kembali ke kamar mereka begitu juga dengan Gibran. Sekarang hanya tinggal Jasmine dan Airin yang berada di ruang tamu.


Jasmine mengajak Airin mengobrol banyak hal mulai dari pekerjaan, laki-laki, sampai hal-hal yang lain yang sering mereka lakukan bersama dulu.

__ADS_1


"Jadi, kamu milih kakak aku atau Bayu?" Jasmine terlihat sangat antusias saat Airin mulai curhat.


"Aku masih bingung, menurutmu aku lebih cocok sama siapa?" Airin menatap Jasmine sendu, hidup di antara dua laki-laki yang menyukainya membuat dirinya merasa sangat tidak bebas dan pikirannya jadi terbebani.


"Masalah hati, serahin pada Tuhan!" ucap Jasmine kemudian memeluk sahabatnya itu dengan erat.


"Hmm ... aku mau pulang sekarang, ya." Airin berpamitan.


"Biar diantar sama supir, ya?" Jasmine menawarkan.


"Boleh deh." Airin menyetujui. Jasmine mengantar Airin sampai ke depan rumah, setelah Airin masuk ke dalam mobil dan diantar pulang oleh supir. Jasmine kembali masuk ke dalam rumah dan menuju kamarnya.


...***...


6 bulan kemudian.


"Aaa ... mam mam." Gio menarik celana panjang Gibran untuk minta makan.


"Pergi ke kamar bunda sana, minta makan sama bunda jangan sama kakak. Kakak lagi repot ini." Gibran mengabaikan adiknya yang terus merengek minta makan.


Bibir Gio sudah mau mewek dan Gibran akan sangat pusing jika adiknya itu sudah sampai menangis. Gibran menarik napas panjang kemudian ia berjongkok dan langsung menggendong adiknya yang sudah hampir menangis itu.


"Kakak antar kamu ke kamar bunda, nanti kamu minta makan sama bunda, ya!" Gio yang seperti paham dengan perkataan kakaknya itu mengangguk sambil bertepuk tangan riang.


Gibran membuka pintu kamar orangtuanya dan tanpa merasa malu langsung nyelonong masuk ke dalam.

__ADS_1


"Anaknya lapar mau makan," ucap Gibran sambil menurunkan Gio di tengah-tengah Ranti dan Satya yang sedang asik berciuman.


Sontak keduanya kaget dan langsung menjauh satu sama lain karena kepergok kedua putranya.


"Biasa aja kali Bun mukanya," ucap Gibran sambil tersenyum tanpa dosa.


"Kamu kalau masuk kamar ketuk pintu dulu!" perintah Satya kesal.


"Gio dengar itu kaya ayah, kamu kalau mau masuk ketuk pintu dulu," ucap Gibran pada Gio yang sekarang duduk anteng memperhatikan percakapan orang-orang dewasa disekitarnya sambil sesekali berceloteh seperti menganggap jika orang-orang dewasa itu mengajaknya bicara padahal tidak.


Ranti mencubit pipi Gio dengan gemas lalu mengajak anaknya itu keluar dari kamar untuk pergi ke dapur membuat makanan.


"Jangan banyak beraktifitas, nanti kamu kelelahan!" nasihat Ranti ketika melihat Jasmine mencuci piring di dapur.


"Cuma nyuci piring bekas aku makan kok, Bun." Jasmine tersenyum.


Setelah selesai mencuci piring, Jasmine berjalan ke ruang tengah lalu duduk di karpet bulu sambil selonjoran di sana. Ranti menurunkan Gio dari gendongannya dan membiarkan anaknya itu merangkak mencari Jasmine.


Ternyata anak itu cukup pintar juga karena langsung menyusul Jasmine ke ruang tengah. Jasmine yang melihat Gio merangkak mendekatinya tersenyum sampai melambaikan tangan.


Gio yang sudah sampai di dekat Jasmine langsung berhenti kemudian membenamkan wajahnya ke perut Jasmine yang besar.


"Aaak ... dd lut aaak." (Kak dedek di perut Kakak.)


Jasmine tersenyum sambil mengusap kepala adiknya itu dengan sayang. "Adiknya lagi tidur di dalam sini." Jasmine mengusap perutnya lembut. Ia tidak sabar ingin melihat mereka lahir di dunia.

__ADS_1


***


Bersambung ...


__ADS_2