Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
CSJC : Chapter 21


__ADS_3

Dokter Reihan menyusul Ranti yang berlari masuk ke dalam ruangan Gibran, dan dia sangat terkejut saat melihat Ranti sudah tidak sadarkan diri di lantai. Dan seorang suster sedang berusaha membangunkannya.


Dokter Reihan berjalan dan berjongkok untuk memeriksa apakah Ranti masih bernafas atau tidak.


"Suster, tolong bawa Nyonya Ranti ke ruang sebelah! Saya akan memeriksanya," perintah Dokter Reihan dengan suara yang tegas namun lembut.


"Baik, Dok." Karena suster yang di sana lebih dari satu, mereka dengan mudah bisa melakukan dua pekerjaan dalam satu waktu.


Satya yang baru saja keluar dari ruang perawatan Bayu dibuat terkejut saat melihat istrinya didorong menggunakan kursi roda dalam kondisi pingsan.


"Suter, kenapa istri saya?" tanya Satya dengan panik karena melihat istrinya pucat dengan mata terpejam tenang.


Suter tersebut tidak menjawab, dia hanya tersenyum sambil meringis memperlihatkan giginya yang putih dan tersusun rapi pada tempatnya. Wajah suster itu seperti sedang menahan sesuatu.


"Suter, kenapa dengan wajah, Anda?" tanya Satya yang membuat wajah suster itu berubah semakin pias.


"Tuan." Suster itu menunjuk bagian bawah tubuhnya membuat Satya bingung karena tidak paham dengan kode yang suter berikan padanya.


"Ya, Sus? Ada apa?" tanya Satya lagi.


"Kaki saya Anda injak," ucap suster tersebut membuat Satya melihat kakinya yang ternyata menumpang di kaki suter tersebut, dengan sepatu yang dia pakai membuat dia menjadi semakin berat dan pijakan kakinya juga kuat sehingga tidak heran jika suter itu merasa kesakitan.


Satya tersenyum lebar sebelum dia meminta maaf kepada suster tersebut. "Maaf, Sus. Saya memang sengaja menginjak kaki, Anda," ucap Satya membuat suster itu melotot kepadanya.


"Aduh, Sus. Mata Anda kenapa seperti mau lepas seperti itu?" tanya Satya dengan nada serius.


"Anda bilang tadi menginjak kaki saya dengan sengaja? Apa maksudnya itu?" tanya suster tersebut dengan kesal namun tetap sopan.


"Haha, saya hanya bercanda saja. Itu kenapa istri saya bisa pingsan?" tanya Satya lagi melihat istrinya yang duduk di kursi roda.


"Istri Anda syok karena melihat putra Anda meninggal dunia, Tuan." Suster tersebut bicara cepat dengan satu tarikan napas dan jelas.


"Oh, putraku meninggal." Satya mengangguk-anggukan kepalanya tanda dia mengerti, namun dia tidak mencerna ucapan suster itu dengan baik.

__ADS_1


Satya baru tersadar saat dia melihat suter lain keluar dari ruang perawatan Gibran dengan mendorong brankar rumah sakit dengan pasien yang telah ditutupi kain sampai kepala.


"Suster, ini kan ruangan anak saya? Yang suster dorong itu siapa?" tanya Satya mencoba berpikir positif.


"Tuan ini jenazah putra, Anda," jawab suter tersebut.


Saat Satya berhasil mencerna ucapan suster tadi, seketika dunianya terasa berhenti berputar dan detak jantungnya seakan berhenti berdetak. Satya memandangi jenazah putrinya dengan perasaan sedih bercampur luka yang teramat sangat mendalam sampai jika luka itu terlihat pastilah orang tidak mau melihatnya saking parahnya.


"Suster jangan bercanda nggak lucu tau nggak?" teriak Satya dengan air mata yang sudah luruh begitu saja membasahi pipi.


"Kami seorang suster tidak diajarkan untuk bercanda dengan hal-hal seperti ini, Pak. Apa yang kami katakan itulah yang sebenarnya." Mendengar jawaban suster tersebut membuat Satya bergeming, dia menatap putranya dengan nanar. Perlahan tapi pasti Satya mendekati brankar dorong tersebut dan tangannya dengan pelan meraih kain yang menutupi wajah Gibran.


Saat kain itu dibuka, Satya hanya bisa diam mematung. Air matanya semakin mengalir deras dan dia tidak peduli dengan orang lain yang melihat sisi lemahnya. Putranya yang selalu membuat ulah, putranya yang selalu melakukan hal-hal gila dan tidak bisa dicerna dengan otaknya kini tinggal putranya yang diam tanpa suara tanpa tawa, wajahnya pucat dan dia telah tidur dengan damai.


Kaki Satya rasanya sudah tidak kuat untuk menopang tubuhnya, Satya pun terduduk dengan kedua tangan yang saling merekat menumpu dahinya. Tidak menunggu Satya bertindak lagi, suster tersebut menutup kembali wajah Gibran dan mendorongnya ke kamar jenazah.


Suster yang satunya mendorong kursi roda tempat Ranti duduk dan Dokter Reihan yang baru saja keluar segera membantu Satya untuk bangkit dan duduk di salah satu kursi tunggu di sana.


Setelah mereka duduk, Dokter Reihan segera berkata, "Tuan, saya dan tim sudah berusaha sebaik dan semaksimal mungkin. Namun sepertinya Tuhan memang lebih sayang dengan putra, Anda." Dokter Reihan bisa merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Satya.


"Saya hanya punya satu orang putra saja, Dok. Dia yang selalu mengisi hari-hari saya dan istri saya. Dia yang selalu membuat kami tertawa di saat kami bersedih dia yang membuat rasa capek saya hilang karena melihat tingkah lakunya." Satya menatap Dokter Reihan dengan sendu, membuat hati Dokter Reihan mencelus merasakan sakit yang luar biasa.


"Andai saja kami para dokter bisa menahan nyawa seseorang untuk pergi, kami pasti tidak akan membiarkan nyawa pasien kami pergi, Tuan." Perkataan Dokter Reihan membuat senyum tipis terukir dari bibir Satya.


"Khayalan Anda terlalu tinggi," ucap Satya sambil menepuk bahu Dokter Reihan.


***


Singkat cerita, jenazah Gibran sudah dibawa pulang dan siap untuk dimakamkan. Banyak kerabat dan juga rekan bisnis yang datang berziarah dan akan ikut untuk mengantar Gibran ke tempat peristirahatan terakhirnya.


"Tuan, saya turut berduka cita atas kematian sahabat saya, Gibran." Seorang pria tampan memeluk tubuh Satya dengan perasaan tak. kalah sedihnya.


"Terima masih, Nak Kenzo. Maafkanlah segera kesalahan anakku selama hidupnya," ucap Satya pada pemuda bernama Kenzo Heriyanto Ceo dari salah satu perusahaan ternama di Indonesia.

__ADS_1


"Saya juga turut berduka cita, Tuan." Satu pemuda tampan menghampiri Satya, pemuda itu adalah Arga suami dari Dokter Nada.


"Saya juga sangat merasa kehilangan Gibran. Dia sangat lucu dan tidak pernah takut dengan saya yang seorang bos mafia," ucap Andra yang juga berkunjung ke sana.


Satya hanya bisa tersenyum saat melihat begitu banyak orang yang menyayangi Gibran.


Jenazah Gibran sudah siap untuk disalatkan.


Semua yang beragama muslim ikut menyalatkan Gibran dan yang non muslim menunggu mereka. Setelah selesai disalatkan, jenazah Gibran pun siap untuk dikebumikan.


Ranti hanya bisa pasrah melihat anak kesayangannya pulang ke sisi Tuhan. Walaupun rasanya sangat sakit, tapi mungkin ini yang terbaik untuk putranya.


Mobil ambulans telah melaju ke pemakaman umum dan diikuti segerombolan mobil dan juga motor di belakangnya.


Singkat cerita, mereka sudah sampai di pemakaman, jenazah Gibran sudah berada di dalam liang lahat dan sedang diazani.


Saat orang yang berada di dalam liang lahat hendak menutup jenazah Gibran dengan kayu, mereka dibuat terkejut sekaligus takut saat tiba-tiba Gibran membuka mata dan berkata dengan santainya.


"Bunda, kok Gibran tidur bau tanah ya?" ucapnya membuat semua orang lari terbirit-birit orang yang ada di liang lahat pun melompat keluar dan berlari kencang dan sekarang hanya tinggal satu orang saja di sana, yaitu seorang kiai. Bahkan banyak di antara mereka yang jatuh pingsan karena melihat mayat Gibran hidup lagi.


"Masya Allah, Subhanallah, Allahu Akbar, sungguh skenario kehidupan dari Tuhan tidak ada yang tahu." Kiai itu turun ke liang lahat dan membantu Gibran bangun dari sana.


"Mari, saya bantu untuk bangun, Nak!" ucap kiai itu dengan air mata yang luruh begitu saja.


Setelah Gibran berhasil bangun, Gibran terkejut saat menyadari tubuhnya hanya ditutupi dengan kain kafan. "Pak, kenapa saya dibuntel jadi permen?" tanya Gibran dengan polosnya.


"Kamu tadi hanya sedang bermain film," kata Kiai itu agar Gibran tidak merasa syok.


***


Sambung kapan-kapan.


Gibran, kamu bukan itu memang permen, permen pocong.

__ADS_1


__ADS_2