
Ranti menyatukan ujung jari telunjuk dengan ujung jempol tangan kanannya membentuk sebuah simbol yang sering digunakan banyak orang untuk mengatakan kata ok.
Jasmine menikmati makan malamnya dan mengabaikan suara gaduh yang ditimbulkan karena perdebatan babak kedua antara Bayu, Airin dan Ridwan. Tiga orang itu masih sibuk memperdebatkan masalah yang tidak jelas seperti mereka sendiri.
Gibran memeluk Jasmine tanpa permisi dan menyentuh bagian tubuh atas istrinya dengan lembut dan menggoda. Tidak ada yang sadar dengan apa yang dilakukan Gibran karena semua orang sibuk pada urusan mereka masing-masing.
Jasmine mengigit bibir bawahnya untuk menahan suara agar tidak terdengar sampai di telinga orang lain. Jasmine menikmati permainan Gibran yang membuat tubuhnya terasa hangat dan berkeringat.
Jasmine sudah tidak bisa fokus makan. Gibran sudah dalam keadaan on dan Jasmine harus membuat Gibran kembali off. Tanpa berpamitan dengan orang yang berada di meja makan, diam-diam Gibran menarik tangan Jasmin dan mengajak istrinya itu masuk ke salah satu kamar yang berada paling ujung dari rumah itu.
Gibran menekan kedua pundak sang istri dan ia menatap wajah cantik Jasmine dengan intens.
Perlahan, tangan Gibran membelai wajah Jasmine dengan begitu lembut membuat pipi sang istri merona merah karena malu.
Ketika Gibran membuka kaos yang melekat di tubuhnya, Jasmine tersenyum penuh makna. Ia akan mengikuti permainan Gibran dan tidak akan menghentikan suaminya karena Jasmine sangat yakin jika Gibran sendiri yang akan berhenti nanti.
__ADS_1
Gibran mulai mengecup seluruh bagian wajah Jasmin dan tidak ada inchi pun dari wajah Jasmin yang tidak ia cium.
Bibir kenyal itu saling bertabrakan dan saling memanggut secara bergantian. Napas mereka sudah sama-sama memburu dan darah mereka mengalirkan hawa panas ke seluruh tubuh.
Puas berciuman, Gibran kembali mengulangi kecupan pada wajah Jasmine, gerakannya semakin turun hingga kulit leher Jasmine memiliki tato berwarna merah dengan bentuk abstrak.
Gibran menyusupkan tangannya masuk ke dalam pakaian yang menutupi bagian atas tubuh Jasmine. Perlahan tapi pasti, Gibran mulai memainkannya dan sengaja melepas pengait kain yang menopang milik istrinya dengan sempurna.
Gibran melepas pakaian Jasmine hingga tubuh bagian atas istrinya polos seperti dirinya. Gibran mendorong bahu Jasmine dengan perlahan sampai istrinya itu telentang di atas ranjang.
"Aku ingin melakukannya sampai aku merasa puas dan tidak sanggup lagi untuk melakukannya." Jasmin ingin sekali tertawa keras sekarang juga. Namun, yang bisa ia lakukan saat ini hanya mengangguk sambil tersenyum sangat manis.
Gibran membenamkan wajahnya di antara dada Jasmin. Gibran memberikan sentuhan, pijitan, dan kecupan di sana hingga bercak merah kembali memenuhi tempat tersebut.
Gibran melepas celana yang ia pakai kemudian ketika tubuhnya sudah polos. Gibran langsung kembali menindih tubuh Jasmine yang setengah polos dengan dada ranum yang bertambah besar setelah melahirkan anak mereka.
__ADS_1
Tunggu dulu! An ... nak?
Gibran menatap wajah Jasmine dan istrinya langsung menatap ke samping untuk menahan tawa.
Black mamba Gibran sudah harus masuk sarang. Namun, Gibran baru ingat jika sarang black mamba miliknya sedang banjir dan tidak boleh dimasuki selama 40 hari ke depan.
"Kamu sengaja mengerjaiku, Sayang?" Gibran menatap Jasmine dengan wajah yang sangat menyedihkan.
"Aku tidak melakukan apa pun, Mas." Jasmine bisa melihat dengan jelas raut wajah Gibran yang menunjukkan kekecewaan.
"Aku tidak mau tahu, kamu harus membantuku menjinakkannya!" Jasmine terkekeh, ia meraih black mamba Gibran dengan tangan kanannya agar black mamba Gibran kembali jinak.
***
Bersambung ...
__ADS_1