
Di baca malam aja kalau takut batal!!!
Setelah semua acara selesai. Gia dan Han langsung kembali ke kamar mereka, Han merasa sangat kasihan melihat wanita yang dicintainya kelelahan karena membawa anak mereka di dalam kandungan. Namun, Han malah mendiamkannya.
Berada di dalam kamar yang biasanya dijadikan tempat melepas rindu dan bermesraan. Han malah terlihat gelisah dan uring-uringan karena ulahnya sendiri.
Niat hati ingin mendiamkan sang istri agar merasa bersalah karena telah membuatnya cemburu. Namun, yang tersiksa sekarang malah dirinya sendiri karena tidak bisa meminta jatah lagi yang telah dua bulan ini tidak dia dapatkan. Ya, walaupun dia sudah melakukannya satu kali ketika sampai di rumah ini.
Gia yang duduk bersandar pada kepala ranjang hanya bisa tersenyum simpul melihat tingkah suaminya yang menggemaskan, sedangkan Han duduk di sofa seraya memainkan ponselnya.
Han ingin menunggu istrinya meminta maaf, tetapi sudah cukup lama dia menunggu istrinya tidak kunjung melakukannya.
Han mulai bosan, diam-diam dia menatap sang istri yang juga sedang menatapnya. Han langsung mengalihkan pandangan karena malu telah ketahuan mencuri pandang.
__ADS_1
Gia terkekeh, dia akan melihat sampai sejauh mana suaminya itu berani mendiamkan dirinya. Gia tidak akan meminta maaf karena kecemburuan sang suami yang berlebihan.
Han melepas baju yang dia pakai sehingga terlihat jelas tubuhnya yang gagah dan menggoda.
Dia sengaja mau godain aku ya? Sayangnya aku gak tergoda karena capek.
Han meletakkan ponsel miliknya ke atas meja lalu dia berjalan pelan ke kamar mandi. Entah apa yang dilakukan pria itu di dalam sana, tetapi Gia yakin kalau suaminya itu mandi karena mendengar suara gemericik air.
"Dua bulan lagi kamu lahir, Sayang. Jangan nakal dan rewel ya kalau gak mau dimarahin sama papamu yang seperti anak kecil itu!" Gia mengusap lembut perutnya ketika merasakan tendangan yang cukup kuat.
Gia kembali tersenyum kala melihat suaminya berjalan dengan angkuh ke arah almari pakaian sampai tidak sadar kalau handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya terlepas karena tersangkut pintu kamar mandi.
Han membuka almari dan mengambil satu celana pendek serta kaos putih tipis yang sangat pas di badannya. Saat dia mau memakai celana, dia baru sadar jika dirinya sedang telanjang bulat.
__ADS_1
"Gak takut terbang tuh burung?" komentar Gia dengan tidak tahu malu.
"Ma, dedek gak minta cium papanya?" Han mengalihkan perhatian karena merasa sangat malu sekarang sehingga dia menurunkan egonya untuk bicara pada sang istri.
"Gak tuh." Gia menutup mulut menahan tawa melihat wajah pias suaminya.
"Tapi papanya pengen cium sama nengokin dedek." Han melemparkan pakaiannya ke sembarang arah lalu berjalan menghampiri sang istri.
"Dedeknya gak mau ditengokin tuh, Pa. Gimana dong?" Asik juga ternyata melihat suaminya yang seperti ini.
"Gak boleh nolak," ucap Han dengan senyuman tipis dan tatapan mata penuh damba. Dia naik ke ranjang lalu memulai aksinya menganggu istri tercinta dengan cara mengusap-usap perut buncit Gia penuh kasih sayang.
Perlahan, tangannya mulai bergerilya ke tempat lain dan berhasil melepas kain yang melekat di tubuh istrinya. Dengan penuh kasih dan gerakan perlahan, Han mulai memadu kasih dengan sang istri.
__ADS_1
>>>