
Enam belas tahun berlalu, usia twin G sekarang sudah dewasa. Enam bulan lagi mereka akan berusia tujuh belas tahun, kata orang usia tujuh belas tahun menjadi usia termanis untuk mereka, sedangkan Gio, ia sekarang berusia tujuh belas tahun dan telah menjadi seorang mahasiswa di Universitas ternama Jakarta.
"Kak Kantil, kunci mobil aku di mana?" teriak Gio dengan suara khasnya, telinga Jasmin sudah sangat bosan mendengar suara Gio yang menggelegar seperti guntur di tengah badai besar ... jedaaar.
"Cari aja di WC, kemarin kamu makan, 'kan?" Jasmin terkikik, ia sedang memakaikan seragam sekolah Gavin yang sebentar lagi akan berangkat ke sekolah untuk melaksanakan ujian akhir SMA-nya.
"Balik ke kuburan aja sana! Ngapain juga bunga kantil tinggal di rumah aku." Gio melempar Jasmin dengan kaus kaki sampai mendarat di kepala Jasmin beruntung kaus kaki itu bersih.
"Jadi adik yang sopan dong, Om!" bentak Gavin yang tidak terima ibunya diperlukan kurang ajar oleh Gio.
"Kakak, bukan om!" teriak Gio kesal, ia memang menyuruh keponakannya untuk memanggil dia kakak bukan om, karena usia mereka yang hanya selisih sedikit saja.
"Sejak kapan gue punya kakak kaya, Lo?" Jasmin langsung menarik telinga putranya dengan kencang, lama-lama selaput pendengarannya bisa pecah jika terus mendengar suara teriakan dua bocah itu.
Gavin hanya meringis sambil memegangi telinganya yang berdenyut sakit, jika Jasmin telah menjewer telinganya, Gavin tahu kalau ia harus segera diam.
"Ingat Gio! Nama kakak itu Jasmin bukan kantil!" ucap Jasmin yang sudah tidak dipedulikan Gio.
"Lain kalau kalau dia bicara gak perlu ditanggepin, Ma." Gavin mencium dahi dan pipi Jasmin kemudian keluar kamar karena ibunya telah selesai membantunya memakai pakaian.
"Gavin," panggil Jasmin ketika tangan Gavin sudah memegang gagang pintu kamarnya.
"Kenapa?" tanya Gavin dengan menoleh ke belakang.
"Kamu mau pergi berenang atau ke sekolah buat ujian?" Gavin menatap Jasmin bingung, jelas dirinya memakai seragam yang berati akan pergi ke sekolah, kenapa juga ibunya harus bertanya?
"Ke sekolah," jawab Gavin singkat.
"Pakai celana dulu! Nanti guru kamu bisa pingsan kalau lihat kamu gak pakai celana." Jasmin tertawa ketika melihat Gavin menunduk dan menyadari jika dirinya masih memakai celana pendek, sedangkan celana sekolahnya masih berada di atas tempat tidur dan terlipat dengan sangat rapi.
Gavin menyibakkan rambutnya ke belakang, sebenarnya ia malu pada ibunya sekarang. Namun, bukan Gavin namanya kalau tidak bisa menyembunyikan rasa malunya. Gavin berjalan ke ranjang dengan gayanya yang keren bak model papan triplek.
Jasmin hanya tersenyum ketika melihat kelakuan putranya itu. Sekarang Gavin bersiul sambil menyambar celana sekolah dan segera memakainya di depan Jasmin. Setelah selesai, Gavin langsung berjalan kembali ke luar kamar dan uhh ... kepalanya pasti memar karena terbentur pintu yang sengaja di tutup dari luar secara tiba-tiba oleh Gio.
__ADS_1
"Keponakan durjana, rasakan itu dahi kamu jadi memar." Gio tertawa puas kemudian berlari turun ke lantai satu.
"Om Gio kenapa lari buru-buru gitu, ya?" tanya Gilang yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Pintu gak ada akhlak," umpat Gavin sambil mengusap dahinya yang terasa sakit.
"Sakit?" tanya Jasmin sambil menahan tawa.
"Biasa aja," jawab Gavin, ia membuka pintu kamar dan melihat kakaknya sedang berjalan santai sambil membaca buku di tangannya. Gavin yakin kalau yang menutup pintu tadi pasti Gilang, sehingga Gavin langsung berjalan menghampiri Gilang.
"Punya dendam apa Lo sama gue?" bentak Gavin sambil menarik kerah seragam Gilang.
Gavin menatap kakaknya dengan wajah sangar dan marah. Ia mengambil buku dari tangan sang kakak kemudian melemparkannya ke lantai satu.
Tanpa mereka ketahui, buku itu jatuh tepat di depan Gibran yang hendak pergi ke ruang makan untuk sarapan. Gibran mengambil buku tersebut kemudian melihat ke atas untuk mencaritahu siapa yang melempar buku tersebut.
Gilang tentu saja sangat terkejut dengan perbuatan adiknya. Ia menatap Gavin dengan tatapan datar dan wajah datar.
"Kenapa kamu lempar buku kakak ke bawah? Memang salah kakak apa?" tanya Gilang dengan nada lembut walau masih memasang ekspresi datar.
"Mama pas hamil ngidam es kutub sama bara api mungkin." Gilang langsung berdiri, ia merapikan bajunya yang sedikit berantakan karena ulah sang adik.
"Kamu kenapa diam di situ, Sayang?" tanya Jasmin yang baru saja menyusul Gavin keluar kamar.
Gilang hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin Jasmin memarahi Gavin kalau tahu tadi Gavin mendorongnya sampai jatuh.
"Aneh banget sumpah," gumam Gilang lirih, ia segera turun ke lantai satu. Saat ia sampai di lantai satu, Gilang melihat Gavin sedang dimarahi papanya.
Gavin menundukkan kepalanya menatap lantai ketika Gibran sedang bicara.
"Buku itu buat di baca, Vin. Bukan buat di buang seperti ini, kamu pikir kamu bisa pintar kalau belajar tanpa buku?" Gibran tidak habis pikir dengan kelakuan putranya yang selalu saja membuat ulah.
"Buku itu bukan milik aku, Pa. Lagian yang melempar ke bawah juga bukan aku," jawab Gavin dengan suara lirih.
__ADS_1
"Kalau bukan kamu terus siapa?" Gibran sedikit curiga dengan putranya.
"Yang lempar buku itu, Kak Gilang." Gibran mengembuskan napas pelan. Sebenarnya Gibran melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Gavin yang melempar buku itu. Namun, ia tidak menyangka kalau Gavin akan berbohong dan malah menyalahkan kakaknya.
"Ya udah sana sarapan dulu!" perintah Gibran lembut.
Gavin mengangguk, ia langsung bergabung dengan Gio yang sedang memakan sandwich buatan Ranti.
"Dahi Lo kok cuma memar? Padahal gue maunya dahi Lo benjol," ucap Gio yang langsung membuat Gavin menatap datar ke arahnya.
"Jadi, yang nutup pintu kamar aku tadi, Om?" tanya Gavin.
Gio mengangguk tanpa merasa bersalah sama sekali. Gavin langsung menatap Gilang yang saat ini sedang bicara dengan Gibran di dekat tangga.
"Buku kamu," ucap Gibran sambil memberikan buku milik puteranya.
"Makasih, Pa." Gilang mengambil buku miliknya kemudian berjalan ke meja makan.
"Pagi, Om," sapa Gilang pada Gio.
"Hm." Gio menjawab singkat.
Gilang langsung duduk dan memakan sarapan miliknya, ia tidak mempedulikan sekitarnya sampai tidak sadar kalau sejak tadi Gavin menatap dirinya.
"Berangkat yuk, Vin!" ajak Gio ketika sudah selesai sarapan.
"Oke." Gavin dan Gio langsung keluar rumah setelah berpamitan. Mereka berdua meninggalkan Gilang dan tidak berniat mengajaknya berangkat bersama.
Gibran merogoh saku celananya dan memberikan kunci motor milik Gilang yang ia sita selama satu minggu.
"Berangkat pakai motor kamu!" Gilang hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.
***
__ADS_1
Bersambung ...
Komen, kritik, dan sarannya aku tunggu!