
Wanita itu mematung saat tahu Jasmine malah pergi menghindar darinya, dia sangat sedih mengetahui Jasmine tidak mau dia peluk.
"Jasmine, tunggu ibu, Sayang!" Ayunda mengejar Jasmine dan terus mengetuk pintu kamar Jasmine dengan keras.
Jasmine bisa mendengar dengan jelas suara ibunya yang terus berteriak memanggil namanya. Jasmine bersandar pada pintu itu, dia menangis sesenggukan tidak kuat jika dia harus berhadapan dengan ibunya sekarang.
Rindu? Tentu saja Jasmine sangat merindukan ibunya tapi semua masalah di antara mereka membuat Jasmine memilih untuk tidak bertemu saja dengan keluarganya. Waktu tiga tahun sebenarnya bisa saja membuat Jasmine memaklumi sikap mereka. Namun, nyatanya semua itu telah membekas dalam ingatan dan hati Jasmine sehingga dia sangat sulit melupakannya.
Maafkan Jasmine ibu! Jasmine belum siap bertemu dengan ibu, Jasmine tidak mau dipaksa untuk menikah dengan laki-laki yang tidak Jasmine cintai. Jasmine tidak bermaksud untuk menjadi anak durhaka, tapi dulu hati Jasmine benar-benar di suruh untuk tidak menerima melalui mimpi setelah Jasmine Salah istikharah.
Airin ikut menyusul Ayunda bersama dengan kakak dan ayah Jasmine. Saat mengetahui Airin menyusul dirinya, Ayunda langsung melontarkan pertanyaan kepada gadis itu.
"Airin, kenapa Jasmine malah pergi meninggalkan tante seakan dia tidak ingin dipeluk tante dan tidak ingin melihat tante?" tanya wanita itu yang tidak lain adalah ibunya Jasmine.
"Jangan terkejut dengan sikap Melati kepada, Tante. Sudah sejak tiga tahun lalu Melati terus saja menenggelamkan dirinya dalam kesedihan. Jujur, Airin tidak tega melihat Melati yang seperti itu, Tan. Airin beberapa hari yang lalu melihat Melati hampir bunuh diri karena ada banyak darah yang berceceran di lantai. Namun, saat itu Melati tidak bicara kalau dia hampir bunuh diri, kamar kami sudah seperti kapal pecah tapi Melati hanya bilang kalau kamar kami berantakan karena ada ular, Airin tidak percaya semua itu, Tan. Tapi, Airin pura-pura percaya karena Airin nggak mau nambah beban pikiran Melati." Airin berkata sambil menundukkan kepalanya, sebenarnya dia tidak ingin mengatakan ini jika tidak terpaksa.
Jadi, kamu tahu semua itu, Airin? Maafkan, aku! Aku hanya tidak ingin menyusahkan dirimu. Jasmine semakin terpukul sekarang, isaknya semakin kuat sampai bahunya terlihat berguncang pelan.
__ADS_1
"Apa?" Ayunda terkejut saat mendengar perkataan Airin, Ayunda ibunya Jasmine langsung meneteskan air matanya. Dia sadar jika dialah yang membuat putrinya seperti ini karena terus memaksa untuk menerima laki-laki pilihan suaminya. Namun, Ayunda melakukan itu karena dia ingin melihat putrinya bahagia, dia tidak mau melihat Jasmine hidup susah jika menikah dangan sembarang orang.
Ibu mana yang tidak akan sedih melihat anaknya menderita, apalagi itu seorang perempuan. Namun, tanpa dia sadari, kekhawatiran dirinya itu malah menjadi penyebab anaknya menderita.
"Benarkah yang kamu katakan tadi, Airin? Putri paman hampir bunuh diri karena semua masalah itu?" sahut Akbar, ayah Jasmine.
"Iya, Om, semua itu benar." Airin menunduk karena dia merasa bersalah tidak bisa menjaga Jasmine dengan baik waktu itu. Walaupun, Jasmine baik-baik saja tapi dia masih khawatir dan terus menyalahkan dirinya sendiri.
"Ridwan sudah pernah bilang, kan, sama kalian kalau Jasmine itu tidak bisa dipaksa. Tapi, kalian malah terus memaksa Jasmine sampai dia kabur dan tidak mau pulang. Ayah sama ibu boleh saja mengatur kehidupan putri kalian. Tapi, masalah hati, biarkan dia sendiri yang mengaturnya," ucap Ridwan kakak laki-laki Jasmine.
Hiks, Kakak. Kakak memang yang paling mengerti diriku. Maaf, Kak, aku membuat kalian seperti ini. Jasmine masih terus mendengarkan perdebatan mereka dari dalam kamar.
"Terus apa hasilnya sekarang? Apa Jasmine bahagia? Enggak, kan, Bu? Adik aku menderita, dia tidak mau lagi bekerja sebagai dokter dan memilih bekerja di perusahaan orang lain. Dua tahun ini dia juga kesulitan mencari pekerjaan, apa kalian tahu samua itu, apa kalian peduli? Tidak, kan?" Ridwan masih terus mengungkapkan rasa kesalnya terhadap kedua orangtua yang telah merawat dirinya dan mendidik dirinya sampai bisa sukses seperti sekarang.
Ridwan tidak tahu kenapa orangtuanya bisa memiliki pikiran yang sangat dangkal padahal mereka orang yang hebat dan terpelajar.
"Kamu diamlah dulu?" pinta Akbar dengan sangat memohon.
__ADS_1
"Mana bisa diam jika sudah seperti ini, Yah? Jasmine bahkan sampai tidak mau bertemu dan bicara kepada kita, dan alasannya pasti karena masalah perjodohan itu." Ridwan menatap Akbar dengan tatapan sendu penuh kekecewaan.
"Itu semua demi dia, Ridwan. Kamu masih kecil tidak akan pernah paham apa maksud orangtua." Akbar mengusap air mata Ayunda dan memeluknya dengan sayang.
"Ridwan sudah besar, Ayah. Ridwan bukan anak kecil lagi yang tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk." Ridwan tidak terima jika dirinya masih dianggap sebagai anak kecil.
Saat keluarga Jasmine berdebat, Airin jadi merasa pusing dan kesal karena mereka malah membuat suasana saat ini semakin panas. Tanpa sadar, Airin sampai menangis karena sekarang dia khawatir dengan keadaan Jasmine di dalam kamar.
Ridwan melihat tatapan Airin yang sendu dan matanya yang telah basah karena air mata. Ridwan tidak enak karena meraka malah berdebat di rumah Airin. Selama ini dia tahu Airin lah yang telah menemani adiknya, memberikan tumpangan rumah pada adiknya dan merupakan sahabat terbaik adiknya.
"Tante, Om, dan Kak Ridwan. Bisa tidak jangan bertengkar sekarang? Airin bukan maksud untuk tidak sopan. Tapi, pertengkaran kalian itu tidak akan membuat perubahan sekarang." Airin menarik napas panjang tapi tidak menghilangkan suara seraknya efek menangis dan karena telah menggangu perdebatan meraka.
"Airin, maafkan kami!" ucap Ridwan dangan tulus, dia menatap Airin dalam-dalam, gadis ini sudah banyak melakukan hal baik untuk adiknya. "Jangan menangis!" pinta Ridwan, dia mengusap air mata Airin dengan ibu jari tangannya.
"Jangan meminta maaf denganku, karena aku tidak butuh permintaan maaf dari kalian," ucap Airin tegas dan terkesan sombong, dia menepis tangan Ridwan dari wajahnya karena dia bukanlah wanita yang manja dan haus dengan sentuhan pria.
Ridwan bisa menyadari jika sifat Airin saat ini hanya karena dia sedang kesal, dan Ridwan yakin jika Airin pasti sedang memikirkan Jasmine saat ini.
__ADS_1
"Tante, Om. Lebih baik kalian pulanglah dulu, biarkan Airin yang membujuk Jasmine untuk menemui kalian lain waktu." Dengan berat hati Airin mengusir mereka dengan cara yang halus.
"Tapi, tante mau bertemu dengan Jasmine sekarang juga." Ayunda membentak Airin karena malah menyuruh dirinya pulang.