Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
CSJC : Chapter 14


__ADS_3

🌹KOMEN, VOTE 🌹


Ya, itu memang aneh. Tapi yang lebih aneh itu dirimu, Tuan. Ingin sekali Bayu mengatakan itu pada Gibran. Namun, dia tidak sampai hati untuk melakukannya. Sampai jantung saja sudah cukup.


"Ya, Tuan. Itu memang hebat," kata Bayu yang berhasil keluar dari mulutnya.


"Aku mau pulang, Bay. Minggu depan aku akan terbang ke negara tetangga untuk mendiskusikan bisnis baru perusahaan ini." Gibran mengambil semua barang sepele yang dia bawa dari rumah dan akan segera pulang meninggalkan perusahaannya.


"Tidak salah Anda mau terbang ke negara tetangga, Tuan? Anda kan tidak punya sayap," tanya Bayu membuat langkah Gibran berhenti dan kembali duduk di sofa setelah hampir keluar dari ruangannya.


"Kita kan punya kapal terbang, kenapa kamu masih bertanya hal yang tidak penting seperti itu?" Gibran menjelaskan sambil bertanya balik.


"Di mana-mana kalau kapal itu di air dan tidak bisa terbang, Tuan. Apa Anda sedang mengantuk?" Perkataan Bayu memang ada benarnya, tapi yang dikatakan Gibran tadi hanya sebuah istilah.


"Capek aku bicara sama kamu, Bay. Minta bubuk terbang sama tinkerbell sana biar kapal kita bisa terbang!" Gibran menatap Bayu dengan sangat dalam. Sedalam perasaanya yang tidak terbalaskan.


"Apa saya juga akan ikut dengan, Anda?" tanya Bayu karena dia sekretaris pribadi.


"Jelas saja iya, siapkan keperluan kita! Jangan sampai ada kekurangan sedikit pun, atau kita akan repot di sana nanti."


"Maaf, Tuan. Tapi kita sudah tidak sekolah, jadi kita tidak akan punya rapot."


Gibran menatap Bayu dengan jengah, selalu ada saja jawaban Bayu yang membuat Gibran kadang terhibur dan kadang kesal. Namun, Gibran bersyukur karena selama ada Bayu, Gibran bisa melupakan sedikit rasa kesepiannya.


"Ya-ya ... nanti aku akan memberikan kamu knalpot," jawab Gibran meninggalkan Bayu yang masih berdiri tegak di ruangannya.


"Apa hubungan saya dengan knalpot?" tanya Bayu tidak paham.


"Bay, ambilkan flashdisk milikku yang tertinggal di dalam kamar mandi, berhati-hatilah karena ada hantu nenek goyang di dalam sana." Gibran mengabaikan pertanyaan Bayu dan malah menyuruh Bayu untuk mengambil flashdisk.


"Bukan hantu suster keramas, Tuan?" tanya Bayu dengan penasaran.


"Nggak ada hantu suster keramas, karena shampo dia aku habisin tadi," jawab Bayu terlihat serius.


"Gara-gara dihabiskan jadi dia mengejar, Tuan sampai ngesot-ngesot?" tanya Bayu yang mulai nyambung dengan perkataan Gibran.


"Enggak, dia terbang tapi jadi ketawa-ketiwi sendiri di atas pohon karena dasternya nyangkut ranting." Gibran menjawab lagi dan lagi sampai capek sendiri.


"Hantu tengkorak lebih serem, Tuan," kata Bayu dengan bangga dan yakin.


"Nah betul, ketoprak memang enak," balas Gibran berlalu keluar dari ruangannya.


"Selalu melenceng dari topik," ucap Bayu menyusul Gibran yang sudah tidak terlihat dari pandangan matanya.

__ADS_1


"Eh, flashdisknya kelupaan." Bayu yang sudah sampai depan pintu kembali masuk ke dalam ruangan Gibran untuk mengambil Flashdisk yang berada di dalam kamar mandi. Setelah mendapatkannya, Bayu segera menyusul Gibran yang mungkin sudah sampai di lantai satu.


***


"Siang, Bunda." Gibran menyapa Ranti dan mencium pipinya saat melihat Ranti yang sedang bersantai di ruang keluarga.


"Siang, Tante Ranti yang bisa ngobati sakit perut kalau lagi menstruasi," sapa Bayu mencium punggung tangan Ranti.


"Bukan Ranti dodol! Itu Kiranti." Gibran meralat kata-kata Bayu dengan kesal.


"Siang juga, anak-anak bunda kok udah pulang? Ini masih siang lho, Sayang." Ranti mengusap kepala Gibran yang sudah menjadikan pahanya sebagai bantal.


"Dodol mah enak, iya nggak, Tan?" tanya Bayu, dia menyandarkan kepalanya di bahu Ranti.


"Dodol itu orang jualan," sahut Gibran cepat.


"Bukan, Sayang. Dodol itu pasta gigi." Ranti ikut menjawab.


"Itu odol, Bunda." Gibran dan Bayu menjawab secara bersamaan, membuat Ranti terkekeh karena kekompakan mereka berdua.


"Odol itu kan yang bisa mengantar kita ke mana-mana, Sayang." Ranti semakin menarik kekesalan putranya.


"Itu ojol, Bun." Gibran menatap sendu netra Ranti yang sudah mulai bicara ngelantur.


"Nggak ada apa-apa sih, Bun. Pekerjaan sudah beres juga, jadi aku pulang awal," jawab Gibran menyengir kuda.


"Bohong enggak nih?" tanya Ranti lagi.


"Enggak kok, Tante." Kali ini Bayu yang menjawab.


"Bunda, tadi ada cewe kurang garam yang memegang pisangku." Gibran mengadu dengan apa yang dia alami hari ini.


"Kalau kurang garam tambahin gula biar asin, Gib," ucap Bayu dengan santai.


"Ha ha ha ... dimakan nggak sama dia pisangnya?" tanya Ranti sambil tertawa.


"Enggak, Bun. Tapi tadi Gibran pegang buahnya dia." Gibran berkata seakan itu hal yang biasa saja.


"Pegang kaya gini, Gib?" tiba-tiba sebuah tangan besar sudah berada di atas dada Ranti. Ranti sangat terkejut saat mendapati tangan suaminya yang nakal itu tengah memegang bendanya.


"Astaghfirullah, setan." Gibran terlonjak kaget dan bangun dari posisi rebahannya. Dia melihat Bayu sudah duduk di sofa lain, dan Gibran tidak tahu kapan Bayu pindah ke sana.


"Setan, setan. Kamu itu anak setan," ucap Satya dan langsung mendapat semburan dari Ranti.

__ADS_1


"Kalau bicara di sarung dulu, Yah! Jangan asal ngomong kaya gitu, nggak baik tahu?" ucap Ranti tegas dan dingin membuat bulu kuduk Satya berdiri.


"Disaring kali, Bun, bukan di sarung. Yang di sarung mah pisangnya Ayah, Bun," ucap Gibran yang sempat mendengar kesalahan Ranti saat mengucapkan kata disaring jadi di sarung.


"Emang tadi bunda bilang apa, Gib?" tanya Satya yang tadi tidak menyadari kalau istrinya itu salah bicara.


"Bilang di warung, Om." Bayu menjawab semakin salah.


"Lah, kenapa di warung, Bun?" tanya Satya yang sudah berpindah posisi dari belakang jadi di samping istrinya.


"Bukan di warung, Yah. Bunda tadi bilang disaring," ucap Ranti.


"Bukan, Bun. Tadi Bunda itu bilang di sarung bukan di warung dan buka juga disaring," ucap Gibran menggebu.


"Jadi bunda salah, ya?"


"Aku salah dong, Gib?


Pertanyaan itu terlontar secara bersamaan dari mulut Bayu dan juga Ranti. " Iya, kalian salah b-e-s-a-r." Gibran memberikan penekanan pada kata terakhirnya.


"Sebesar punya istriku kan, Gib?" tanya Satya ambigu.


"Besar apanya, Yah?" tanya Gibran yang tidak tahu.


"Yang kamu enyot sewaktu kecil."


"Dasar somplak!" teriak Bayu, Gibran dan Ranti bersamaan.


"Yang somplak authornya kali, kenapa jadi ayah yang katain?" kata Satya tidak terima.


"Diam, Yah." Ranti menutup mulut suaminya dengan tangan.


"Kenapa, Bun," tanya Gibran yang melihat tangan Ranti membekap mulut Satya.


"Ssstt, kalian dengar nggak ada suara?" tanya Ranti pada Gibran dan juga Bayu.


"Dengar apa, Bun? Kita nggak dengar apa-apa," kata Bayu yang memang tidak mendengar apa-apa.


"Masa kalian nggak dengar sih?" bertepatan dengan perkataan Ranti, terdengar bunyi bom yang meledak dan disusul dengan suara Ranti yang mengucapkan, "Ah, leganya."


"Bundaaa ...." teriak Gibran dan Bayu sebelum mereka berdua pingsan karena ledakan bom yang membuat udara sekitar jadi tercemar.


"Loh, kok malah pada tidur di sini sih?" tanya Ranti yang melihat suami dan anak-anaknya pingsan tapi dia kira tidur.

__ADS_1


Ya, kalian pasti tahu apa kira-kira bom yang dimaksud Gibran.


__ADS_2