
Ketika dua dokter itu masuk ke ruangan Jasmine dan melihat kondisi Jasmine yang kejang-kejang kuat. Dua dokter tersebut mengajak dr. Adit untuk membawa Jasmine ke ruang khusus yang lebih lengkap peralatan medisnya. Airin tahu jika dirinya pasti tidak akan diperbolehkan untuk ikut masuk sehingga dirinya lebih memilih tetap tinggal di ruangan tersebut.
Setelah yakin jika para dokter tadi menangani Jasmine di dalam ruangan yang lain. Airin segera mengambil ponsel miliknya yang berada di dalam tas, dengan tangan gemetar ia menghidupkan ponselnya, belum sempat ponselnya hidup ponsel miliknya malah jatuh ke lantai akibat tangannya yang bergetar khawatir.
"Astaga, kenapa pakai jatuh segala sih!" Airin bergumam pelan.
__ADS_1
Airin mengambil ponsel itu lalu menghidupkannya, ia mencari kontak atas nama Gibran yang ia dapat beberapa hari yang lalu. Airin merasa waktu berjalan dengan sangat lambat sampai ia kesusahan untuk mencari nama Gibran dalam kontak di ponselnya. Arin berjalan mondar-mandir dengan cemas, saat ia telah menemukan nomor Gibran, Airin langsung melakukan panggilan suara ke nomor Gibran, puluhan kali ia menelpon tapi tidak tidak diangkat juga, Airin sangat kesal karena di saat yang seperti ini malah Gibran sangat sulit dihubungi. Airin mengigit kuku ibu jarinya lalu terlintas dalam kepalanya untuk mengirim pesan pada Gibran.
Entah apa yang ia tulis, karena ia mengirim pesan bukan hanya satu, melainkan lebih dari lima pesan ia kirim. Airin bisa melihat jika pesan telah masuk namun tidak kunjung dibaca juga, akhirnya Airin menelepon Gibran lagi tapi malah nomornya tidak aktif. Tidak bisa dibayangkan betapa bingungnya Airin sekarang, di tengah-tengah kebingungannya Airin ingat jika ia menyimpan nomor telepon Satya karena dulu Jasmine pernah menghubungi Satya menggunakan ponsel miliknya.
Airin bernapas lega saat Satya akhirnya menerima panggilannya. Airin mengambil napas panjang lalu ia dengan cepat memberitahukan kondisi Jasmine yang semakin kritis kepada Satya sambil menangis tersedu, dan setelah ia selesai memberitahu, panggilan telepon langsung ia matikan. Airin tahu betul jika tadi Satya sangat syok saat mendengar apa yang ia ucapkan, tidak bisa dibayangkan jika seumpama Gibran yang tadi ia telepon, mungkin Airin akan merasakan hebatnya sebuah perang batin yang mengalahkan dahsyatnya perang dunia ke dua.
__ADS_1
Empat puluh lima menit berlalu, Gibran dan kedua orangtuanya telah tiba di rumah sakit, Gibran langsung berlari ke ruangan Jasmine tepat setelah mobil mereka berhenti di parkiran rumah sakit. Gibran sangat sedih dan marah karena istrinya malah semakin kritis, ia marah pada dirinya sendiri karena ini semua terjadi karena perbuatannya yang tidak bisa mengontrol emosi saat itu.
Suara pintu yang dibuka dengan keras membuat Airin jatuh dari kursi yang ia duduki karena tadi dengan reflek kakinya menjejak lantai dengan kuat sehingga kursi yang ia duduki oleng.
"Astaghfirullah, sabar Arin!" Airin baru saja mau bangun namun Gibran tanpa sengaja menginjak jari-jari tangan kanannya dengan sangat keras.
__ADS_1
"Semprul!" teriak Airin memekakkan telinga.