
Gibran tersenyum malu, wajahnya memerah, ia menatap tajam orang-orang yang melihatnya sampai orang-orang itu tidak melihatnya lagi.
Gibran berjongkok di depan Jasmine, ia menatap wajah cantik Jasmine yang sedang menahan rasa malu karena menjadi pusat perhatian orang-orang.
"Nggak usah malu, udah nggak dilihat sama orang-orang lagi, kok." Gibran menggenggam erat kedua tangan Jasmine lalu menciumnya.
"Kamu itu bikin aku gemas, makin sayang aku saman suami aku yang ganteng." Jasmine memberikan senyum termanis pada Gibran.
"Aduh, Sayang. Aku sakit." Gibran menyentuh dada kirinya dan menampilkan wajah kesakitan.
"Bohong banget," ucap Jasmine sambil mengacak-acak rambut Gibran karena tangannya telah terbebas dari genggaman Gibran.
"Yah, gagal!" ucap Gibran sambil tersenyum.
Gibran berdiri lalu segera mendorong kursi roda Jasmine dan membawanya kembali berlari sambil berteriak.
__ADS_1
"Kaaaaaaaabuuuuuuurrr ...." Jasmine hanya bisa menahan napas dan memejamkan mata karena jantungnya lagi-lagi dibuat mau copot oleh suaminya.
Gibran dan Jasmine kini sudah sampai di ruang rawat Jasmine. Napas mereka sama-sama tersengal-sengal, Gibran lelah karena berlari, sedangkan Jasmine lelah karena ketegangannya.
"Aku lain kali nggak mau lagi minta kamu buat nemenin aku, Mas. Bisa mati muda aku kalau terus diajak senam jantung dalam kondisi sedang sakit seperti ini." Jasmine menolak uluran tangan Gibran yang hendak membantunya untuk bangun.
"Kamu sudah dewasa, sudah mau jadi a-" Jasmine tidak melanjutkan ucapannya, ia menatap sedih pada Gibran lalu memilih untuk tidak bicara saja.
Perut Jasmine sekarang sudah sangat mual karena ulah Gibran. Jasmine menutup mulutnya lalu segera pergi ke toilet dengan langkah tertatih-tatih.
Kedua tangan Jasmine bertumpu pada wastafel, matanya menatap pada cermin di sana. Bayangan Gibran terlihat tidak terlalu jelas.
"Kok bisa sampai kaya gini sih, Yang?" Gibran merasa bersalah pada istrinya.
"Kamu mau bunuh aku, ya, Mas?" Jasmine berkumur lalu menepis tangan Gibran di pundaknya, ia berjalan keluar dari toilet dengan tangan berpegangan pada tembok.
__ADS_1
"Biar aku gendong." Gibran langsung mengangkat tubuh Jasmine yang terasa lumayan berat karena lemah.
Jasmine yang lemas tidak lagi menolak, ia melingkarkan tangannya ke leher Gibran lalu menempelkan kepalanya di dada bidang suaminya.
Gibran menurunkan Jasmine dengan perlahan di ranjang, ia mengusap dahi Jasmine yang berkeringat dingin dengan handuk kecil yang ia ambil dari dalam tas baru saja.
Wajah Jasmine puas pasi, selera makannya sudah hilang, tidak akan lagi rasa ingin makan soto atau bahkan hanya sekadar minum pun tidak berselera lagi.
"Kamu sakit?" Gibran sangat cemas, keceriaannya sudah hilang, lagi-lagi Gibran melakukan kesalahan yang membuat istrinya kembali tidak bersemangat.
"Enggak, cuma lemas doang." Jasmine memejamkan matanya, ia memilih untuk tidur karena rasa kantuk tiba-tiba menyerangnya.
"Maaf, Sayang." Gibran merapikan selimut Jasmine, ia mencium dahi Jasmine dengan perasaan sayang.
Gibran menatap wajah pucat itu dengan sendu, perasaan bersalah menghantui dirinya. Karena Jasmine memilih untuk tidur, maka Gibran juga ikut tidur dengan duduk di kursi dekat dengannya, Gibran melipat tangan kirinya di ranjang lalu menjadikannya sebagai bantal.
__ADS_1
Tangan kanannya menggenggam erat tangan Jasmine dan menempelkannya di pipi. Gibran memejamkan matanya perlahan lalu beberapa menit kemudian, ia terlelap dalam tidurnya.