Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
CSJC : Chapter 74


__ADS_3

Ridwan yang ditinggalkan oleh Airin merasa cukup sedih, ia tahu jika selama ini Airin tidak pernah menyukai dirinya. Semua yang ia lakukan untuk gadis itu hanya dianggap sebagai angin lalu saja, tapi Ridwan sudah menyukai Airin dalam waktu yang cukup lama, sehingga ia akan terus berusaha mendekati Airin dengan cara-cara yang akan ia lakukan nanti.


Ridwan berjalan ke rumah Airin dan melihat pintu rumah gadis itu sudah ditutup dan dikunci. Ridwan merasa jika perjuangannya akan sangat sulit, mencintai wanita yang tidak mencintai dirinya, begitu sesak dan menyakitkan, rasanya seperti kamu berusaha membuat api di bawah guyuran deras air hujan, per-cu-ma.


Ridwan sudah berdiri di depan pintu rumah Airin, ia menarik napasnya sejenak sambil mengumpulkan niat untuk mengetuk pintu rumah Airin. Sebenarnya sangat memalukan jika seorang laki-laki meminta belas kasih dengan bentuk cinta pada seorang wanita, yang derajatnya seharusnya masih di bawah laki-laki.


"Airin, aku tahu kamu pasti ada di dalam, di dekat pintu, 'kan?" Ridwan mengetuk pintu dengan pelan, ia harus bisa bicara dengan Airin malam ini.


Tidak ada sahutan dari dalam, Ridwan melihat tirai jendela masih sedikit terbuka sehingga ia akan bisa melihat ke dalam rumah itu. Ridwan mengintip dari sana, namun ia sama sekali tidak melihat Airin.


Dugaan Ridwan sebenarnya tidak salah, Airin memang masih berada di balik pintu, Airin duduk sambil bersandar pada pintu karena ia menunggu Ridwan datang.


Maaf, Kak. Airin nggak bisa, aku nggak mau ngasih harapan buat laki-laki yang tidak aku cintai.


"Airin, tolong buka pintunya! Kakak mau bicara sama kamu." Ridwan mencoba untuk mendobrak pintu rumah Airin, ia merasa sangat kesal karena Airin selalu menghindar dari dirinya.


Kalau aku biarin, lama-lama pintu rumah aku bisa rusak. Rese banget sih Kak Ridwan, maksa banget, kalau aku suka aku pasti bakal dengan senang hati menerima dia. Tapi, aku nggak suka sama dia.


Airin berdiri, ia mengintip dari kaca jendela rumahnya dan terkejut saat pandangan matanya beradu pada mata Ridwan.


Ridwan tersenyum puas saat melihat Airin berada di sana. Ia memberi kode pada Airin untuk keluar tapi Airin menolaknya.


"Airin, kakak mau bicara sama kamu." Ridwan memohon pada Airin untuk keluar satu kali lagi.

__ADS_1


"Kakak kalau mau bicara, bicara saja! Aku dengerin dari dalam." Akhirnya Airin buka suara juga, walaupun tidak mau membuka pintu.


"Kamu keluar dong, nggak enak kalau bicara kaya gini." Ridwan terus membujuk Airin, lama-lama Airin kesal juga dengan sikap Ridwan yang seenaknya.


Akhirnya, dengan terpaksa Airin membuka pintu rumahnya lalu ia keluar, ia duduk di kursi depan rumah sambil melihat kedua tangannya di depan dada. Ia menatap tidak suka pada laki-laki yang tersenyum lebar saat ia keluar. Ridwan menarik kursi dan mendekatkannya pada Airin, hal itu membuat Airin merasa sangat tidak nyaman.


Ridwan menarik tangan Airin dan menggenggamnya erat, ia mencium tangan Airin sampai Airin merasa sangat risih karena ulangnya. "Airin, Kak-"


"Jangan pegang-pegang, nggak sopan banget sih jadi laki-laki!" Airin menarik tangannya dengan kasar.


"Maaf." Ridwan menunduk merasa bersalah.


"Lupakan saja! Kakak mau bicara apa sama aku?" Airin bicara dengan nada yang melunak, walaupun ia kesal, ia tetap harus menghormati laki-laki yang berstatus sebagai kakak dari sahabat baiknya.


Ridwan meremas jari-jarinya dengan gugup, ia menatap mata indah Airin sejenak, ia tambah gugup saat mendapat tatapan datar dari Airin.


"Bagaimana kabar, Jasmine?" Meleset jauh dari awal, sekarang Ridwan menjadikan Jasmine sebagai topik obrolan mereka.


Kenapa Kak Ridwan malah bertanya soal, Jasmine. Aku harus menjawab apa, ya? Airin terlihat sangat bingung, dahinya berkerut, wajahnya cemas, ia mengigit kuku ibu jarinya sambil menatap Ridwan dengan sendu.


"Jangan tanya sama aku, Kak. Aku nggak berhak buat ngasih tahu masalah tentang Jasmine." Airin merasa kasihan pada Ridwan, tapi ia memang tidak boleh terlalu banyak ikut campur pada masalah orang lain.


"Benar juga, tapi aku sibuk dan belum sempat membesuk adik aku." Ridwan sekarang tidak lagi menjadi laki-laki yang menginginkan Airin untuk mengobrol dengan dirinya, tapi ia sekarang menjadi sosok kakak yang sangat mempedulikan dan menyayangi adiknya.

__ADS_1


Ridwan mengembuskan napas panjang lalu tersenyum hambar. Ia menundukkan kepalanya lalu menopang dahinya menggunakan tangan yang ia kaitkan dan bertumpu pada pahanya.


Airin jadi merasa terbawa suana sedih, ia menepuk bahu Ridwan dengan pelan seolah memberikan kekuatan dan meyakinkan Ridwan jika Jaminan pasti akan baik-baik saja.


"Jangan sedih dong, Kak. Nanti aku juga ikut sedih." Airin mengusap air matanya yang dengan berani menetes tanpa ia minta.


"Kok malah kamu yang nangis?" Ridwan melihat Airin terisak, ia jadi merasa bersalah karena telah membuat Airin menangis.


"Aku sedih, Kak. Aku kangen sama Jasmine yang cerewet dan selalu bikin aku ketawa karena tingkah konyolnya." Airin tersenyum, tapi matanya terus mengeluarkan banyak air, sampai berdeleweran di pipi dan terjun bebas ke lantai.


Ridwan yang bisa memahami perasaan Airin jadi merasa terharu. Ia sangat bersyukur karena adiknya bisa mendapatkan sahabat sebaik dan sepeduli ini padanya.


Perlahan, Ridwan menarik Airin mendekat ke arahnya dan setelah dekat, Ridwan pun langsung memeluk Airin dengan erat, ia membiarkan saja dadanya basah karena air mata Airin.


"Cup ... cup, jangan nangis!" Ridwan mengusap rambut panjang Airin dengan penuh kasih sayang, entah mengapa harapan untuk menjadikan Airin sebagai kekasihnya malah ia buang jauh-jauh sekarang.


Ada satu pasang mata seseorang yang melihat Airin memeluk seorang laki-laki yang dengan sangat jelas terlihat wajahnya. Pemilik mata itu terlihat sangat geram dan terluka, tanpa ia sadari, tangannya terkepal dengan sangat kuat seperti sudah siap untuk memukul apa saja yang bisa ia pukul.


Matanya bagaikan sinar laser yang menusuk tajam, detak jantungnya berdetak berirama sangat indah dan berisik seperti sebuah drumband. Napasnya memburu seakan ia sedang melakukan adegan action berbahaya pada sebuh film pembunuhan.


Namun, saat ia sadar dengan apa yang terjadi pada dirinya, ia malah menjadi malu sendiri. Ia tersenyum kecut sambil menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal. Ia berbalik badan lalu berjalan dengan langkah pelan meninggalkan rumah Airin.


***

__ADS_1


Tenang saja, bab berikutnya menceritakan Jasmine sama Gibran kok.


__ADS_2