Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
CSJC : Chapter 103


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, Gibran memarkirkan mobilnya kemudian langsung turun dan berlari menuju bagian administrasi untuk bertanya di mana istrinya sekarang. Setelah Gibran tahu, Gibran langsung menuju ke ruang bersalin tempat istrinya berada sekarang.


"Saya mengucapkan terima kasih karena kalian sudah membawa istriku ke sini. Sekarang kalian berdua pulanglah!" Gibran menyuruh Lela dan Pak Mamat untuk pulang ketika Gibran melihat mereka. Dengan berat hati kedua orang itu akhirnya mau pulang.


Jasmine memang sudah dibawa ke ruang bersalin karena ternyata Jasmine sudah pembukaan empat. Dokter memperkirakan Jasmine akan melahirkan sekitar 3-4 jam lagi. Gibran masuk ke dalam ruang persalinan setelah memberitahu dokter jika dirinya adalah suami pasien.


Kaki Gibran rasanya gemetar saat melihat istrinya tengah merintih sambil mengusap-usap perutnya. Jasmine tersenyum lebar ketika melihat suaminya telah datang.


"Mas, sini deh!" pinta Jasmine tenang karena tidak lagi kontraksi.


Gibran langsung mendekat kemudian menggenggam tangan Jasmine sambil mencium dari istrinya dengan dengan sayang. "Kamu harus sehat, Sayang," bisik Gibran lembut.


Jasmine mengangguk perlahan, dia mengarahkan tangan Gibran ke perutnya dan meminta Gibran untuk mengusapnya. Gibran melakukan apa yang diminta Jasmine dengan senang hati.


"Sebentar lagi kalian akan bertemu dengan papa, kalian harus berjuang dan tidak boleh menyerah untuk melihat dunia yang indah ini." Gibran mengajak anak-anaknya berbicara. Gibran mengusap kepala suaminya dengan lembut, sekarang Jasmine sedang menikmati rasa sakit karena kontraksi seorang ibu hamil yang akan melahirkan anaknya.


Semoga saja aku bisa melahirkan mereka ke dunia dengan selamat. Walaupun, aku tidak

__ADS_1


tahu apakah aku sanggup atau tidak.


Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat, tangan Gibran mulai sakit karena Jasmine mencengkeram dengan erat. Jasmine merasakan nyeri yang luar biasa nikmat dan perutnya sangat sakit, tubuhnya terasa panas sampai keringat terus bercucuran di dahinya.


Dokter Hani masuk ke dalam ruangan untuk melihat sudah pembukaan berapa Jasmine sekarang. "Jasmine, kamu sudah siap untuk melahirkan sekarang?" tanya dr. Hani dengan suara yang lembut dan tidak ketinggalan senyum manisnya.


Jasmine mengangguk lemah. Beberapa perawat dan dua orang dokter sudah berada di dalam ruang bersalin. Dokter Hani menata posisi kaki Jasmine, posisi paling nyaman dan aman untuk ibu melahirkan.


"Doakan aku, Mas!" Gibran mengangguk, ia membawa ayat-ayat suci sambil sesekali bershalawat. Perjuangan Jasmine pun dimulai.


"Tarik napas kemudian embuskan perlahan, lakukan beberapa kali, Bu!" Dokter mulai memberikan intruksi.


"Huh ... huh ... ahhh ...." Bukan hanya Jasmine yang mengejan tapi Gibran juga ikut mengejan sekuat tenaga. Dokter sengaja merobek jalan lahir Jasmine untuk mempermudah bayi itu lahir. Butuh lima kali mengejan sampai Jasmine merasakan rasa yang teramat sakit yang baru pertama kali ia rasakan.


Akhirnya, setelah berjuang antara hidup dan mati Jasmine berhasil melahirkan anak pertamanya dengan selamat. Suara tangisan bayi memenuhi ruang bersalin itu, Jasmine tidak bisa tersenyum kerena ia mengatur napasnya. Gibran langsung mencium wajah Jasmine bertubi-tubi. Lima belas menit kemudian bayi kedua siap untuk dilahirkan, kali ini Jasmine tidak terlalu merasa sakit karena jalan lahir yang sudah terbuka lebar.


Suara tangisan anak kedua juga terdengar nyaring dan merdu seakan itu adalah sebuah nada permainan piano yang begitu menyejukkan hati.

__ADS_1


"Terima kasih, Sayang!"


Jasmine tersenyum tipis, ia merasakan tubuhnya sangat lemas karena sudah banyak menguras tenaga untuk melahirkan dua buah hati kecilnya. Jasmine tidak kuat untuk membuka matanya, untuk menggerakkan jari rasanya juga sangat berat, napas Jasmine melemah dengan detak jantung yang juga melemah.


Alat-alat medis mulai dipasang ke tubuh Jasmine. Gibran sangat panik dan takut jika Jasmine kenapa-napa, sekarang bahkan tangan istrinya terasa sangat dingin.


Bedside Monitor garis yang semula bergelombang kini berubah menjadi lurus kemudian terdengar suara.


Tuuuuttt ....


"Tidaaaak!" tangis Gibran pecah saat itu juga.


***


Bersambung ...


Perjuangan seorang istri begitu besar, ia rela tubuhnya gendut demi anak-anaknya, ia berjuang diantara hidup dan mati untuk melahirkan buah hatinya dengan suami. Maka, jangan pernah para laki-laki menyakiti istrimu dan untuk anak-anak jangan pernah lukai hati ibumu!

__ADS_1


Banyak ibu yang meninggal ketika melahirkan karena perjuangannya telah selesai.


__ADS_2