Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
CSJC : Chapter 59


__ADS_3

Gibran menikah dengan Jasmine melewati batas waktu yang telah Ranti tentukan yaitu, satu bulan. Namun, Ranti tidak mempermasalahkan itu karena dia sudah cukup bahagia saat Jasmine lah yang menjadi menantunya.


Di dalam kamar pengantin dengan hiasan yang sangat romantis dengan ranjang berwarna putih bersih ditambah dengan taburan bunga mawar merah yang harum semerbak di seluruh ruangan kamar itu membuat Jasmine merasa sangat tidak nyaman.


Jika pengantin baru pada umumnya akan menyukai suasana dan dekorasi seperti ini, tidak dengan Jasmine yang malah sangat membenci semua yang dia lihat dan dia rasakan. Menurut Jasmine, hal seperti ini terlalu berlebihan dan akan lebih cocok untuk acara pemakaman.


Jasmine menunggu Gibran yang sedang mandi dengan memilih untuk duduk di tepi ranjang kamar yang sangat mewah untuknya. Jika dibilang Jasmine menderita, jawabannya sama sekali tidak. Jasmine tidak menderita dengan pernikahan ini karena banyak menguntungkan dirinya. Tidak perlu dijelaskan sampai detail kalian pasti sudah bisa menebak kehidupan Jasmine ke depan.


"Kamu nggak mandi?" tanya Gibran setelah keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai sebuah handuk berwarna putih yang melingkar di pinggangnya.


"Aku mau mandi kok, tapi kan aku nungguin Mas sampai selesai mandi dulu." Jasmine tidak berani menatap Gibran karena dia sangat malu saat ini. Walaupun, ini bukan pertama kalinya Jasmine melihat Gibran seperti ini, namun rasa malu itu tetaplah masih ada.


"Kamu nggak usah malu, Jasmine. Kita ini sudah halal, walau saya memaksa kamu." Gibran tersenyum, diusapnya kepala Jasmine dengan lembut dan penuh kasih.


"Iya aku tahu. Mas, aku boleh minta tolong sama kamu nggak?" Jasmine masih bicara dengan kepala menunduk.


"Kamu mau minta tolong apa?" Gibran duduk di sebelah Jasmine dan tangan kanannya merangkul bahu Jasmine, membuat jarak di antara mereka semakin sempit.


"Nanti suruh pelayan kamu buat bersihin kamar ini deh, Mas. Aku nggak suka sama baunya, kita ini kan pengantin baru, bukan penghuni kuburan baru hehe." Jasmine tersenyum, Gibran menggelengkan kepalanya mendengar alasan Jasmine yang mengada-ada.


"Mau diganti wangi melati?" tanya Gibran dengan nada menggoda istrinya.


"Kenapa tidak kemenyan sekalian." Jasmine mencubit paha Gibran dengan sangat kesal.


"Jadi, saya menikah sama hantu nih ceritanya?" Gibran mengacak rambut Jasmine lalu berpindah posisi menjadi berlutut di depan Jasmine yang masih duduk di tepi ranjang.

__ADS_1


Gibran memandang wajah cantik Jasmine yang menundukkan kepalanya sejak tadi, Jasmine tersenyum malu saat pandangan mata mereka bertemu. "Kamu kalau bicara suka sembarangan, jelek-jelek begini, aku ini masih manusia lho, Mas," ucap Jasmine sambil mencubit pipi Gibran dengan berani.


"Siapa yang bilang kalau kamu jelek, di mata saya, kamu itu sangat cantik." Memuji istri sendiri tidak ada salahnya 'kan?


"Nggak usah modus, Mas. Sana gih kamu pakai baju dulu. Aku mau mandi, setelah itu kita makan malam bersama, ya, Mas!" Jasmine berdiri ketika Gibran sudah tidak berlutut lagi.


"Iya, mandi yang bersih!" Gibran mendorong punggung Jasmine sampai istrinya itu masuk ke kamar mandi. Setelah istrinya masuk ke kamar mandi, Gibran menuju ke lemari pakaiannya dan mengambil kaus oblong serta celana boxer yang sudah biasa dia pakai saat berada di rumah.


Setelah memakai pakaiannya, Gibran merangkak naik ke tempat tidur, dia lupa menyuruh pelayan untuk membersihkan kamarnya. Gibran meraih novel yang berada di atas nakas dan mulai membacanya, novel Harry Potter adalah novel yang sedang dia baca saat ini.


***


"Aku masih nggak percaya kalau aku sudah menikah, terlebih yang aku nikahi itu bosku sendiri, CEO di perusahaan tempat aku sudah diterima kerja." Jasmine memanjakan diri dengan berendam air hangat dengan aromaterapi yang membuatnya semakin rileks.


Mulai saat ini, Jasmine sudah tahu jika dia tidak boleh bersikap seenaknya sendiri dan berperilaku layaknya orang yang masih lajang. Lima belas menit berlalu, Jasmine hendak keluar dari kamar mandi, tapi dia lupa jika dia tidak membawa handuk ke dalam sana tadi.


Jasmine membuka pintu kamar mandi untuk mengintip apakah suaminya ada di sana atau tidak. Jasmine tersenyum saat melihat suaminya duduk bersandar di sandaran ranjang sambil membaca buku.


"Mas," panggil Jasmine dengan suara sedikit keras.


"Kenapa?" Gibran menoleh untuk melihat Jasmine yang memanggil namanya.


"Aku lupa nggak bawa handuk, bisa tolong ambilkan?" Jasmine terlihat sangat manis jika bicara dengan lembut dan sopan seperti yang dia lakukan sekarang.


"Ke sini saja, tidak usah memakai handuk." Gibran pura-pura tidak mau dan sengaja menggoda istri barunya.

__ADS_1


"Nanti lantai kamar kamu basah semua kalau aku nggak pakai handuk." Jasmine sepertinya belum menyadari jika suaminya berniat untuk menggoda dirinya.


"Nanti tinggal dikeringkan menggunakan kain pel yang kering." Gibran menjawab dengan santai.


"Kamu serius nih tidak apa-apa kalau lantainya jadi basah?" Jasmine masih ragu untuk mengiyakan perintah Gibran.


"Iya, nggak masalah kalau lantainya basah kok. Tapi, kalau kamu yang membuat saya basah itu baru masalah." Jasmine langsung membuka pintu kamar mandi dengan lebar lalu berjalan cepat naik ke atas ranjang dan menutup mulut Gibran dengan tangannya.


Kena jebakan kan kamu sekarang, hehe. Bukan aku yang akan malu dengan kamu Jasmine tapi kamu pasti yang akan malu jika menyadari kamu masih telanjang bulat di depanku.


Gibran sebenernya sudah panas dingin melihat tubuh polos istrinya. Namun, bersyukur karena dia masih bisa mengendalikan diri untuk tidak menerkam istrinya yang sangat menggoda.


"Kamu kalau bicara kok nggak disaring dulu sih, Mas." Jasmine menatap mata Gibran dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


"Kamu mau main di bawah sarung?" Gibran menjauhkan tangan Jasmine dari mulutnya saat dia bicara.


"Kamu mah pikirannya burung terus, jangan mesum kamu, Mas!" Jasmine menjitak dahi Gibran dengan kesal karena suaminya ini benar-benar tidak bisa diajak bicara serius.


"Mesum sama istri sendiri nggak salah, Jasmine." Gibran mengusap wajah Jasmine yang basah karena rambutnya yang masih meneteskan air.


"Mas, jangan melakukan hubungan suami istri dengan diriku karena aku belum siap." Jasmine menatap Gibran sambil memohon padanya.


"Serius kamu belum siap?" Gibran tersenyum sambil menyentuh dada Jasmine yang tidak terbungkus apa pun. Sentuhan itu membuat Jasmine sadar jika dia sekarang sedang tidak memakai pakaian sama sekali.


"Mas Gibran kenapa nggak bilang kalau aku masih telanjang?" Jasmine berteriak malu dengan wajah memerah dan langsung masuk ke dalam selimut, Jasmine menutupi tubuhnya sampai kepala dan tidak peduli dengan wangi bunga yang menganggu dirinya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2