Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
S2 : Pengacau


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 18.30 WIB. Semua penghuni kediaman Satya minus Gibran dan pelayan berada di musala belakang rumah yang memang dibangun khusus untuk mereka dan tidak terlalu besar.


Mereka sudah selesai salat maghrib, kini mereka menunggu waktu Isya seraya membaca Al-Quran.


Sejak bangun dari tidur, Gavin terus menempel pada Gilang. Ia sudah seperti perangko pada surat, Gilang membiarkan saja tetapi ia mengabaikan Gavin dengan tidak mengajaknya bicara.


Gio sudah menyelesaikan bacaannya. Ia mendekati Gavin lalu berbisik di telinga keponakannya.


"Vin, kamu ingat Syala Seira, gak?" bisiknya sangat lirih, Gavin tidak mendengar malah menggeliat geli karena Gio.


"Kenapa? Kok malah ngulet-ngulet seperti ulat keket?" Gio menggaruk kepala yang tidak gatal karena sedang mencoba berpikir apa yang sedang terjadi pada Gavin.


"Om ngomong apa, sih?" Gavin menatap Gio dengan wajah polos.


"Kamu gak dengar? Ingat! Panggil kakak jangan om!" Lah, pada dasarnya Gio memang om-nya Gavin, kenapa gak mau dipanggil om?


"Iya-iya.Tadi Kakek ngomong apa?" Gio menjewer Gavin karena gemas dengan keponakannya yang selalu saja melawan kalau diperintah.


"Percuma ngomong sama kamu, gak berguna!" ucap Gio kesal.


Gavin terkekeh, ia menjulurkan lidahnya pada Gio untuk mengejek om-nya yang sekarang hanya menatap datar dirinya.


Melihat Gilang sudah selesai mengaji, Gio memilih untuk bicara langsung dengan Gilang saja.


"Gi, om mau bicara sama kamu," ucapnya lembut, Gavin melotot ke arah Gio karena tidak suka dengan om-nya.


Tadi dia menyuruhku untuk memanggil kakek ... eh, kakak. Sekarang dia manggil diri sendiri om, emang minta disuapi sambal terasi si om. Gavin bergerak cepat pindah posisi di belakang Gilang dan menopang dagunya di bahu Gilang.


"Bicara apa?" Bukan Gilang yang menjawab, tetapi Jasmine yang sudah sejak tadi mengamati gerak-gerik anak dan adiknya.


Gio langsung menatap Jasmine dengan memasang senyum andalannya. Gio bangkit kemudian menghampiri Jasmine yang jaraknya tidak terlalu jauh di belakang.


"Waktu di rumah sakit, Gilang dapat surat. Awalnya aku gak tahu surat itu dari siapa, tapi sekarang aku sudah tahu," ucap Gio bisik-bisik.


Jasmine manggut-manggut paham, tanpa Gio beritahu pun. Jasmine pasti sudah bisa menebak siapa si pengirim surat itu.


"Isi suratnya apa?" tanya Jasmine dengan bisik-bisik juga.

__ADS_1


Gio mengangkat kedua bahunya dan menggeleng karena ia tidak tahu. Orang yang tahu isi surat itu mungkin hanya Allah, si pengirim, dan Gilang.


Jasmine mengangguk, ia langsung menatap Gilang dan tersenyum manis padanya. Satya dan Ranti yang sejak tadi mengamati anak dan cucunya tidak berkomentar apa-apa.


Jasmine bangkit kemudian berjalan pelan menghampiri Gilang dan Gavin. Perasaan Gilang sudah tidak tenang sekarang. Saat Jasmine mau bicara dengan Gilang, sebuah suara anak perempuan membuat perhatiannya teralihkan.


"Kakek, Nenek, Mama, Kakak. Gia pulaaang," teriak Gia dengan semangat.


***


Beberapa jam yang lalu, saat masih di perjalanan menuju rumah.


"Papa Gibran, nanti kalau Gia masuk sekolah. Gia mau tinggal di rumah Nenek Ayu aja," ucap Gia dengan sangat yakin.


"Gia, kamu betah tinggal sama kakek dan nenek?" tanya papa Gia yang tidak lain adalah Gibran seraya menatapnya lembut.


"Betah, Pa. Apalagi kalau Paman Ridwan sama Tante Siksa di rumah, seru banget. Ah ... Gia jadi rindu," ucap Gia memasang wajah layunya, padahal baru beberapa menit mereka meninggalkan rumah nenek dan kakek.


"Kamu gak rindu sama nenek dan kakek dari papa?" tanya Gibran, sekarang pandangannya fokus pada jalanan.


"Rindu banget dong, Pa. Gia rindu sama Gavin, sama Gilang, sama Om Gio juga," jawab Gia semangat.


"Gak," jawab Gia tanpa beban.


"Kok gak rindu? Papa sedih." Gibran tidak pura-pura, ia memang merasa sedih sekarang.


"Papa sudah ada di sini sama aku. Jadi, aku gak rindu lagi sama, Papa." Cup ... satu kecupan mendarat di pipi kiri Gibran.


Seketika, wajah Gibran jadi cerah. Putrinya benar-benar pintar membuat alasan dan Gibran tidak pernah bisa marah padanya.


"Kalau kamu SMA, kamu tinggal sama papa dan mama saja, ya?" pinta Gibran sungguh-sungguh.


"Gak mau, aku lebih nyaman tinggal sama orangtuanya mama," jawab Gia tegas.


"Sejak kamu kelas satu SD, kamu tinggal di rumah Nenek Ayu terus, kamu gak kasihan sama mama dan kakak-kakak kamu?" Gibran terlihat tidak mau jika Gia tinggal bersama mertuanya lagi.


Sejak kecil, Gia memang memilih untuk tinggal bersama mertuanya. Bukan tanpa asalan Gia mau tinggal di sana.

__ADS_1


Ridwan sangat menyayangi Gia, terlebih saat Ridwan patah hati parah karena Airin menikah dengan Bayu saat usia Gilang dan Gavin tiga tahun, membuat Ridwan merasa kesepian. Sampai, waktu Jasmine hamil yang kedua dan melahirkan anak ketiga yang tidak lain adalah Gia, Ridwan sedikit terhibur dengan kehadiran bayi perempuan itu.


Ridwan sering menghabiskan waktunya bersama Gia, bahkan nama Gia juga Ridwan yang memberikannya.


Ridwan memperlakukan Gia seperti anak sendiri sehingga Gia sangat lengket dengannya. Pada saat Gia bersekolah, jarak rumah Ridwan dengan sekolahnya sangat dekat sehingga Ridwan memilih untuk mengajak Gia tinggal bersama.


Gibran dan Jasmine jelas sangat keberatan, tapi Gia menangis dan meminta tinggal bersama Ridwan. Dengan berat hati, Gibran dan Jasmine mengizinkan Gia.


"Kamu sudah delapan tahun tinggal di sana, Gia. Mama sama papa juga ingin merawat kamu seperti merawat kakak-kakak kamu." Gibran tidak ingin berpisah lagi dengan putrinya.


"Gia masuk SMA masih satu tahun lagi, Pa. Di rumah Papa ada Om Gio, Gilang, dan Gavin," ucap Gia keras kepala.


"Jangan panggil nama, gak sopan!" ucap Gibran tegas.


"Iya, maaf. Ko Ko Gilang sudah sehat?" Gia pintar sekali mengalihkan topik percakapan rupanya.


"Masih masa pemulihan, kamu kalau ketemu sama koko kamu jangan ribut, ya!" Gibran langsung memberi peringatan.


"Papa pikir aku ini angin ribut?" Gia mengerucutkan bibitnya.


"Ultraman Ribut," jawab Gibran santai.


Gia mengerutkan dahinya karena tidak tahu apa yang disebutkan Gibran barusan.


***


Sesampainya di rumah, Gia langsung turun dari mobil dan berlari mencari semua orang ke musala, karena Gia sudah hafal di jam ini semua orang berada di sana.


Gibran membuka bagasi mobil dan mengeluarkan koper Gia. Gibran membawanya ke kamar Gia dan membiarkan putrinya pergi sendiri.


Gia yang sudah sampai di depan musala tersenyum senang melihat orang-orang yang ia rindukan berkumpul di sana semua


"Kakek, Nenek, Mama, Kakak. Gia pulaaang," teriak Gia dengan semangat.


Gilang, Gavin, dan Gio reflek menutup telinganya sambil berkata. "Si Pengacau datang," kata mereka sambil terkekeh.


***

__ADS_1


Bersambung ...


Kemarin sudah bocor ini rahasia karena author sudah menyebut nama. Sekarang sih sudah direvisi, tapi beberapa dari kalian sudah tahu dari kemarin huhu.


__ADS_2