
"Ayah kok malah main catur di sini? Ayo masuk!" Ranti menarik telinga Satya sambil mengajak suaminya itu masuk ke rumah.
"Belum selesai mainnya itu, Bun." Satya tidak mau diajak masuk.
"Oh, jadi mau main catur aja? Nggak mau main sama bunda?" Ranti membebaskan telinga Satya yang dia jewer, lalu dia menatap mata suaminya itu dengan tatapan tidak suka.
"Enggak deh, Bun. Asik main catur sama Pak Mamat, kalau main sama Bunda palingan cuma main masak-masakan. Ayah kan bukan bocil (bocah kecil), Bun," ucap Satya dengan santai, tidak takut dengan istrinya.
"Kalau gitu, lanjutkan main catur-nya, Yah!" Bunda mau masuk." Ranti sedikit menggertak agar suaminya itu mau ikut masuk bersamanya, namun dia salah karena ternyata dengan cepat Satya sudah duduk dengan posisi wuenak di depan Pak Mamat.
"Ayah nggak mau masuk?" tanya Ranti dengan sedikit kesal.
"Enggak, Bun. Nanti aja masuknya." Satya menjawab tanpa melihat wajah istrinya yang sudah kusut.
"Oh, kalau begitu, nanti malam Ayah tidur di sini saja sama Pak Mamat, nggak usah tidur sama bunda, bye!" Ranti mengibaskan rambut panjangnya bak model profesional dan berbalik badan lalu meninggalkan Satya yang melongo mendengar ucapan sang istri.
"Pak, tadi ibu menyuruh saya tidur di sini nanti malam?" tanya Satya menatap Pak Mamat, dengan tujuan untuk membuktikan kalau ini bukan mimpi.
"Betul, Pak. Tadi ibu menyuruh Bapak tidur di sini nanti malam. Ibu tidak mau tidur sama Bapak." Pak Mamat menjawab dengan senyum tipis di bibirnya. Dia tahu pasti sekarang Satya sedang kebingungan harus berbuat apa menghadapi kekesalan sang istri.
"Pak Mamat lanjut main catur sendiri, ya! Saya harus membujuk istri saya supaya tidak menyuruh saya tidur di sini." Tanpa menunggu jawaban dari Pak Mamat, Satya segera menyusul istrinya masuk ke dalam rumah.
Saat Satya hentak masuk pintu utama, dia berpapasan dengan Pak Jumat.
"Pak Jumat lihat istri saya?" tanya Satya dengan cepat, sehingga Pak Jumat tidak mendengar dengan jelas.
"Bapak tanya apa?" tanya Pak Jumat menatap Satya.
"Istri saya di mana?" ucap Satya dengan nada tinggi.
"Saya tidak tahu, Pak." Pak Jumat menjawab dengan kebingungan.
"Kirain masih tempe, dasar kedelai." Satya langsung masuk dengan hati yang uring-uringan karena tidak melihat istrinya.
Satya berpikir mungkin istrinya sekarang ada di dalam kamar mereka. Sehingga Satya memutuskan untuk mencari istrinya di sana.
Satya melihat pintu kamar mereka ditutup namun tidak dikunci saat dia mencoba untuk membuka pintu kamar itu. Dengan langkah ragu dan pelan, Satya masuk ke dalam kamar dan melihat istrinya sedang duduk selonjoran sambil bersandar di bahu ranjang.
"Ngapain apa ke sini?" Tatapan tajam diberikan Ranti untuk Satya, atmosfer di dalam kamar mendadak menjadi sangat dingin. Satya tersenyum pelik dengan bulu kuduk berdiri tegak.
Satya tahu ini adalah malam Jumat, malam di mana seharusnya dia melakukan sunnah rasul bersama istrinya. Satya akhirnya mendekati istrinya lalu duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
"Sayang, mas boleh kan tidur di sini?" Satya membujuk istrinya dengan mesra, hatinya berdetak cepat tidak karuan saat melihat tatapan menghunus bak pedang samurai dari Jepang dari mata istrinya.
"Boleh, kok. Kalau Mas mau tidur di sini, saya yang akan tidur di luar." Rupanya Ranti masih marah dengan suaminya.
"Mas mau bernyanyi satu lagu romantis untuk kesayangan mas tercinta." Satya tahu kalau Ranti akan luluh jika dia nyanyikan, namun mungkin kali ini dia malah akan membuat istrinya semakin kesal dengan dirinya.
Satya pun berdehem dahulu sebelum memulai bernyanyi. Setelah sekiranya suaranya nyaman, dia pun mulai bernyanyi dengan jiwa-jiwa 45.
Pada malam jumat kliwon
Aku pulang lewat kuburan
Aku bertemu perempuan
Duduk rileks di batu nisan
Aku nyengir dia tertawa
Gigi ompong, panjang taringnya
Rambut gondrong, botak atasnya
Jari tangan keriting semua
Tak dapat kuberlalu
Ketika aku mau pingsan
Akhirnya dia pingsan duluan
Melihat celana kedodoran
Malam jumat yang selanjutnya
Kubermaksud lewat lainnya
Malah nyasar ke hutan rimba
Tempat setan pesta narkoba
Pada malam jumat kliwon
__ADS_1
Aku pulang lewat kuburan
Aku bertemu perempuan
Duduk rileks di batu nisan
Tubuh Ranti mendadak panas saat Satya selesai bernyanyi, darahnya seakan mendidih sampai ke ubun-ubun, matanya melotot menatap suaminya yang tersenyum hangat kepadanya.
"Ayaaah ...." Ranti berteriak dengan sangat keras, membuat rumahnya sedikit berguncang seperti terjadi gempa bumi.
"Iya, Sayang." Satya langsung naik ke ranjang dan memeluk Ranti dengan sangat erat, dan dia tidak berniat untuk melepaskan pelukan itu.
"Ayah kira bunda ini setan?" ucap Ranti dengan menggebu-gebu.
"Enggak, Bunda. Ayah kan cuma bernyanyi." Satya membenamkan wajah istrinya di dada bidangnya.
"Tidur di luar sana!" Ranti melepaskan diri dari pelukan suaminya, setelah berhasil lepas, dia menarik tangan Satya dan menariknya keluar kamar.
Ranti mendorong tubuh Satya sampai jatuh tersungkur di depan pintu kamar, Ranti merasa bersalah namun dia tidak mau membatalkan hukumannya.
"Aduh, Bun. Durhaka kamu sama suami berbuat kasar." Satya berkata dengan nada sedikit tinggi.
"Maaf, Yah." Ranti menitikkan air mata, dia menutup pintu kamar mereka dengan pelan, tidak lupa dia mengunci kamar mereka dari dalam.
Satya menatap pintu kamar yang telah tertutup dengan tatapan sendu. Hatinya merasa tercabik-cabik karena ucapan istrinya yang sangat sederhana, air matanya luruh dengan lihai di pipinya saat dia merasakan sakit di lututnya.
Satya berdiri dengan sedikit susah payah, dia berjalan ke kamar sebelah dengan langkah tertatih-tatih. Terlihat darah keluar dari lututnya, padahal dia hanya menghantam lantai marmer. Mungkin saking kerasnya benturan itu, sehingga bukan lebam dari malah luka.
"Yo wes ben, duwe bojo sing galak, yo wes ben seng omongane sengak. Seneng gawe aku susah, nanging aku wegah pisah." Satya bernyanyi sambil menitikkan air mata, ini adalah kali pertama Ranti berbuat kasar padanya.
Satya berjalan berpegangan pada tembok rumah, dia menunduk, langkahnya sangat pelan dengan badan sedikit membungkuk menahan agar sakit di lututnya berkurang.
Setelah sampai di dalam kamar, Satya menampilkan kotak P3K yang berada di atas nakas samping tempat tidur.
Satya mengobati luka di lutut kanannya, dan mengoleskan salep di lutut kirinya yang memar. Setelah selesai, dia merapikan kotak obat dan menaruhnya kembali ke tempat semula.
Satya berbaring dengan melipat kedua tangannya di belakang kepala yang dia jadikan bantal. Dia menarik napas panjang dan mengembuskannya secara perlahan.
"Perempuan kalau marah ternyata sangat menakutkan, bisa berbuat kejam tanpa adanya rasa takut dengan dosa." Satya tersenyum hambar, dia menutup matanya dan segera terlelap dalam tidur panjang seorang diri.
***
__ADS_1
Kalau bercanda jangan kelewatan ya, jadi istri harus nurut dan hormat dengan suami, jika suami salah diingatkan tapi ingat dengan nada yang rendah jangan sampai melebihi nada suami.
Ingat, surga istri pada suami, surga suami di antara kaki istri 😁🙈.