Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
S2 : Putus Asa


__ADS_3

Saat keluar dari kamar Gavin, Gilang menutup matanya dengan lengan bagain bawah agar air matanya tidak menetes sampai di lantai. Gilang merasa sangat sakit karena merasa hidupnya tidak diharapkan oleh orang yang ia sayangi.


Gilang berpapasan dengan Gio yang entah mau ke mana. Gio menghentikan langkah Gilang karena penasaran kenapa Gilang menangis.


"Lo kenapa?" tanya Gio datar, matanya menatap lekat Gilang dan tidak melepaskan tatapannya walau hanya satu detik.


Gilang tidak menjawab, Gilang terus melangkah menuju kamarnya tanpa peduli dengan Gio.


"Tunggu, Gilang!" Gio menahan tangan kanan Gilang sehingga Gilang terpaksa berhenti.


Posisi mereka saling membelakangi dan Gio bisa merasakan tangan Gilang bergetar dan sedikit berkeringat.


"Lo sakit, Gi?" Gio berjalan mundur sehingga sekarang ia berdiri berhadapan dengan Gilang.


"Aku baik-baik saja, Om. Aku titip Gavin, Om," pinta Gilang dengan suara yang bergetar.


"Dia bukan barang, ngapain di titipin ke gue?" Gio menurunkan tangan Gilang yang menutup mata.


"Lo kenapa nangis?" Satu kali lagi Gio bertanya, Gio sedikit mengguncang tubuh Gilang agar segera menjawab pertanyaannya.


Gilang menatap wajah Gio dengan seksama, kelopak matanya hampir bengkak, hidungnya memerah, dan matanya juga sudah merah. Gio menatap mata Gilang dengan lekat, tatapan mata Gio lebih hangat daripada tatapan mata Gavin.


"Maafin aku, Om." Gilang menghambur ke pelukan Gio. Gilang menumpahkan semua air matanya di bahu Gio. Tubuh Gilang berguncang hebat dan suara isakannya terdengar sangat memilukan.


Gio bergeming, hatinya merasa perih melihat keponakan yang selama ini selalu terlihat ceria dan baik-baik saja menangis di pelukannya.


"Lo kenapa, Gi?" Gio masih terus bertanya alasan Gilang menangis.


"Jaga Gavin kalau aku pergi, Om. Jangan biarkan dia salah jalan hidup dan melakukan hal yang buruk!" Gio semakin bingung, pelukan Gilang semakin erat seakan Keponakannya itu memang sedang butuh seseorang untuk berbagi duka.


"Memang Lo mau pergi ke mana?" Gio memang tidak suka dengan Gilang. Namun, Gio diam-diam sangat menyayangi Gilang, perlakukan dingin dan buruknya selama ini hanya karena ingin membuat Gilang sadar kalau hidup menyendiri itu tidak menyenangkan.


"Makasih pelukannya, lain kali peluk lagi, ya, Om." Gilang melepas pelukannya kemudian dengan langkah cepat meninggalkan Gio sendiri.


Gio berlari menyusul Gilang tapi Gilang sudah masuk ke kamar dan menutup pintu kamarnya.


"Gilang, buka pintunya!" teriak Gio sambil menggedor pintu kamar Gilang yang sepertinya dikunci dari dalam.

__ADS_1


"Gilang, buka pintunya sekarang juga! Om mau bicara sama kamu." Gio terus menggedor pintu kamar Gilang dengan panik.


"Gi, Lo baik-baik aja, 'kan?" teriak Gio panik.


Gilang berdiri di balik pintu, punggungnya bersandar pada pintu dan Gilang menekan dadanya yang terasa sakit.


Perlahan tapi pasti, tubuh Gilang merosot hingga Gilang terduduk di lantai dengan punggung masih bersandar pada pintu. Gilang menutup telinganya dengan kedua tangan agar suara Gio tidak lagi ia dengar, Gilang menggelengkan kepalanya dengan kuat karena tidak sanggup dengan semua masalah yang sedang ia hadapi.


"Tuhan, apa aku salah hidup di dunia?" gumam Gilang lirih.


"Kenapa mereka tidak ingin aku hidup? Kenapa Tuhan kenapaaaa?" Gilang berteriak keras. Batin Gilang menjerit pilu, hatinya perih seperti ditusuk puluhan juta jarum yang ujungnya sangat tajam.


"Gilang, buka pintunya atau gue aduin ke ayah," teriak Gio, ia semakin panik ketika mendengar suara teriakan Gilang yang seperti orang putus asa.


Gilang merasakan sesuatu mengalir dari hidungnya, Gilang mengumpulkan tenaganya agar bisa berdiri dan berjalan ke ranjang. Gilang duduk di tepi ranjang dan mengambil tisu untuk mengusap cairan yang keluar dari hidung.


Gilang menghabiskan hampir satu bungkus tisu besar hanya untuk mengusap cairan itu.


"Tuhan, ijinkan aku hidup! Jika tujuan awalku hidup dengan untuk orang lain yang tidak menginginkan aku. Sekarang aku rubah tujuan hidupku untukku sendiri." Gilang menatap ke atas seakan di sana Tuhan melihat dirinya.


Definisi kata istirahat itu banyak, banyak sekali orang yang mengatakan ingin istirahat karena lelah dan tidak pernah bangun lagi. Semoga saja Gilang bukan salah satu di antara mereka.


"Gilang buka!" teriak Gio, Gio yang kesal langsung menendang pintu kamar Gilang dengan kuat.


Satya, Ranti, Gibran, dan Jasmine yang mendengar suara teriakan Gio langsung naik ke lantai dua.


"Kenapa teriak-teriak?" tanya Gibran yang sampai lebih dulu dari yang lain.


"Gilang gak mau buka pintu, Kak.Suruh Gilang buka pintunya sekarang, Kak!" pinta Gio dengan memohon sungguh-sungguh.


"Gilang, ini papa, Sayang. Buka pintunya!" teriak Gibran.


"Yah, Gilang gak mau pintu. Gio khawatir sama dia, Yah." Gio menempelkan dahinya di dada Satya ketika Satya baru saja sampai.


"Kamu apakan dia, Gio?" tanya Jasmine dengan suara lembut tapi terdengar menyayat hati Gio.


"Aku gak ngapa-ngapain, Kak." Gio menatap mata Jasmine yang menyimpan penuh luka di sana.

__ADS_1


"Gilang, buka pintunya!" teriak Jasmine kencang.


Gavin menangis tersedu di dalam kamar, Gavin menarik kata-katanya tadi. Sekarang Gavin tidak mau kehilangan Gilang, Gilang adalah separuh dari kehidupannya, kalau Gilang meninggal, maka Gavin juga akan seperti Gilang.


"Kak, Gavin gak mau kehilangan, Kakak." Gavin mengusap air matanya dengan kasar, Gavin ingin menemui Gilang sekarang juga.


Suara pintu yang dibuka dengan paksa terdengar memekakkan telinga. Gavin berlari keluar dari kamarnya menuju kamar saudara kembarnya.


Gavin tidak memedulikan orang-orang yang berada di sana karena yang ia pedulikan saat ini hanya Gilang.


Gavin menendang pintu kamar Gilang dengan kuat, tidak hanya satu kali ia melakukannya, tetapi berkali-kali.


"Gavin, jangan seperti ini!" Gibran menahan tubuh Gavin yang terus meronta dengan tangisan yang semakin kencang.


"Lepasin, Pa!" Gavin melepaskan tangan Gilang yang melingkar di perutnya dengan pelan karena Gavin tidak ingin melukai Gibran.


"Gak akan!" ucap Gibran tegas.


"Lepasin Gavin, Pa!" Gavin sedikit mendorong Gibran hingga tangan Gibran yang melingkar di perutnya lepas.


Gavin sekali lagi menendang pintu kamar Gilang sampai kakinya terasa sakit. Pintu kamar Gilang berhasil Gavin buka, Gavin tersenyum puas dan langsung masuk ke kamar Gilang.


Gio yang melihat pintu kamar Gilang terbuka juga langsung masuk. Gio melihat banyak sekali tisu yang berserakan di lantai dengan noda berwarna merah.


Gavin dan Gio melihat Gilang berbaring di ranjang kamar itu.


Mereka berdua berjalan mendekati Gilang yang berbaring membelakangi mereka di ranjang dan tidak bergerak sama sekali.


Gavin membalikkan tubuh Gilang yang terasa cukup berat. Tangisan Gavin pecah ketika melihat banyak sekali darah yang mengalir dari hidung Gilang.


"Bangun, Gilang! Gilaaaaaaaang ...."


***


Bersambung ...


Huwaaaa aku kudu piye, nyesek banget. Mas Gilang kenapa? Huhuhu ...

__ADS_1


__ADS_2