
Detik, menit, jam, hari, bulan, dan tahun telah berganti. Meninggalkan masa lalu yang menjadi sebuah kenangan pahit dan manis serta menyambut masa depan yang lebih baik dari sebelumnya.
Dua anggota keluarga besar sangat sibuk karena sedang mengurus acara tujuh bulanan putri keluarga mereka. Banyak orang berlalu lalang mengerjakan tugasnya masing-masing dan berharap pekerjaan itu cepat selesai.
Seorang wanita hamil terlihat duduk sendirian di kursi yang terletak di balkon kamarnya. Dia sedang menikmati buah stroberi yang rasanya cukup asam sambil menonton drama menggunakan laptop miliknya.
Bosan, sebenarnya dia bosan karena dilarang melakukan aktivitas yang berat. Padahal dokter sudah mengatakan kalau dia sudah sembuh total dan kandungannya baik-baik saja. Namun, keluarganya masih saja khawatir setelah dia terjatuh dari kamar mandi dan hampir keguguran ketika usia kandungannya menginjak empat bulan.
"Sayang, kamu menendang bunda terlalu kuat." Wanita itu mengusap lembut perut buncitnya seraya tersenyum manis, dia sangat bahagia karena anaknya sangat aktif dan kuat dalam kandungannya.
Ponsel yang dia letakkan di sebelah laptop tiba-tiba menyala dan nada notifikasi panggilan masuk pun terdengar. Wanita itu tersenyum melihat nama pemanggil yang tertera di layar ponselnya.
"Ternyata dia masih ingat untuk menghubungiku, ya?" Senyuman wanita itu perlahan pudar. Dia menatap sinis ponselnya dan mengambilnya dari atas meja.
"Selamat siang, maaf dengan siapa saya bicara?" ucapnya setelah menggeser tombol hijau menerima panggilan itu.
__ADS_1
"Sayang, kamu sengaja, ya?" keluhan kecil terdengar di seberang telepon.
"Kamu siapa berani memanggilku dengan sebutan menggelikan itu?" Bibir wanita itu mengerucut tanda kesal. Bagaimana tidak kesal? Sudah dua bulan lebih suaminya itu tidak pulang karena harus mengurus perusahaan yang berada di luar negeri karena mengalami masalah yang cukup serius akibat ulah orang-orang yang tidak bertanggung-jawab.
Ya, mereka adalah Gia dan Han. Pasangan suami istri yang telah terpisah cukup lama karena keadaan yang memaksa.
"Gia, Sayang. Istriku yang cantik, bawel, galak, manja, manis, imut seperti marmut. Suamimu di sini sangat sibuk sehingga tidak bisa menghubungimu sesering sebelumnya. Jangan marah, ya!" Han sudah terlalu lelah dengan pekerjaannya dan dia tidak mau berdebat dengan istri kesayangannya hanya karena masalah sepele.
"Kapan sih kamu pulangnya? Aku kangen." Terdengar suara isakan kecil. Gia menangis karena sudah tidak kuat lagi menahan rindunya pada Han.
"Hallo, Sayang. Suaranya gak kedengeran, aku sudahi dulu, ya." Han mengakhiri teleponnya dengan sengaja karena tidak mau mendengar suara tangisan sang istri.
Gia melihat layar ponselnya dengan sangat kesal, dia membanting ponsel miliknya dengan keras sampai terdengar bunyi yang menarik perhatian seorang laki-laki yang baru saja mau menghampiri dirinya di balkon.
"Wah, wah, kamu kenapa?" tanya laki-laki itu seraya tersenyum sinis. Adiknya benar-benar sangat aneh setelah hamil.
__ADS_1
"Kesel, Bang. Tadi suami aku telepon, tapi cuma sebentar terus udahan hiks ... hiks ...." Gia beranjak berdiri dan berjalan menghampiri Gavin lalu memeluknya dengan cukup erat.
Gavin membalas pelukan adiknya dan mengusap punggung Gia dengan penuh kasih sayang.
"Gak usah nangis, udah mau jadi ibu juga masih suka mewek. Abang gak punya dot gak bisa nyusuin kamu," canda Gavin seperti biasanya.
"Abang kira aku bayi?" Gia menggigit put*ng Gavin karena kakaknya itu hanya memakai kaus tipis yang menonjolkan otot-otot tubuhnya.
"Aakkh! Sakit, Dek!" Gavin melepaskan pelukannya dan menoyor kepala adiknya pelan.
"Kamu setelah hamil semakin ganas, ya?" Sebuah suara yang sangat familiar di telinga Gia tepat berada di belakangnya.
Gia membalikkan badan lalu tersenyum lebar dengan mata berkaca-kaca mengetahui suaminya sudah pulang.
"Rindu." Gia memukuli dada Han berulang-ulang kemudian menghambur memeluk laki-laki yang telah menghamilinya itu.
__ADS_1
***