Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
S2 : Kacamata


__ADS_3

"Om, tadi gue kira yang nutup pintu kamar gue itu, Gilang," ucap Gavin yang sekarang duduk di kursi samping kemudi mobil Gio.


"Lo apain dia?" Gio melirik Gavin dengan ekor matanya.


"Gue dorong Gilang sampai jatuh, tadi yang buang buku dia juga gue." Gio tertawa mengejek Gavin, Gio menekan pedal gas mobilnya dan mobil pun melaju semakin kencang.


"Jangan kurang ajar sama kakak, Lo. Durhaka!" Gio sok bijak, padahal nyatanya dia juga sering membuat Gilang merasa repot.


"Habis dia jadi cowok lembek banget, diam terus kerjaannya, jarang main sama teman-teman. Dia kan makhluk sosial bukan individu." Gavin membenarkan letak kacamata hitam yang ia pakai, sebenarnya tidak ada gunanya kacamata itu, Gavin memakainya hanya agar terlihat keren.


"Gilang itu introvert, Lo harus ngerti!" Gio memutar musik di mobilnya, mereka mendengarkan musik pop dan rock sambil berjoget ria dalam mobil.


***


Setelah menyelesaikan sarapannya, Gilang berpamitan kepada Gibran serta Jasmine.


"Gilang berangkat dulu, Ma, Pa." Gilang mencium dahi dan pipi Jasmin kemudian berjabat tangan dengan Gibran.


Saat Gilang sudah sampai di luar rumah dan hendak menaiki motornya, Gibran memanggil nama Gilang.

__ADS_1


"Gilang," panggil Gibran sambil berlari keluar dari rumah dan menghampiri dirinya.


"Kenapa?" Gilang tersenyum melihat wajah Gibran yang mengeluarkan keringat.


"Uang saku adik kamu ketinggalan, nanti kasih ke dia kalau kamu sampai di sekolah!" Gibran memberikan lima lembar uang merah kepada Gilang.


"Dia gak bawa kartu?" tanya Gilang pelan.


"Bawa sih kartu barcode." Gibran menepuk bahu Gilang pelan.


"Berangkat dulu, ya, Pa." Gibran mengangguk, Gilang segera memakai helm dan menaiki motornya. Setelah itu, ia menyalahkan mesin motor dan langsung memutar gas meninggalkan rumah.



***


Gavin membiarkan saja rambutnya berantakan, cewek-cewek bahkan suka melihat dirinya yang keren dengan kesan bad boy tampan dan tajir.


"Ujian akhir, Om. Sebentar lagi gue juga udah kuliah." Gavin tersenyum bangga, ia langsung membuka pintu mobil kemudian turun. Gavin melangkah masuk ke halaman sekolah tanpa berpamitan pada Gio.

__ADS_1


"Bad boy," gumam Gio dan kembali melajukan mobilnya menuju kampus.


"Vin, ini berapa?" Dion, teman Gavin menunjukkan jadi telunjuknya di depan mata Gavin yang tertutup kacamata hitam.


"Satu," jawab Gavin cepat.


"Kalau ini," tanya Dion lagi.


"Gue gak buta, kawan." Dion terkekeh, padahal ia hanya berniat untuk menganggu Gavin, ternyata Gavin lebih cepat responnya.


"Pagi Kak Gavin," sapa seorang murid wanita yang merupakan adik kelas Gavin.


"Malam juga," balas Gavin sambil tersenyum manis, membuat murid perempuan itu menjerit histeris sambil melompat kesenangan.


"Ini pagi, Vin." Dion memperingatkan sahabat dekatnya.


"Kalau pagi kenapa gelap?" Dion langsung memukul kepala Gavin dengan buku paket yang cukup tebal sampai Gavin mengaduh karena merasa sakit.


"Jangan main pukul! Kalau gue nanti insomnia Lo mau tanggung jawab?" Gavin mengusap kepala bekas pukulan Dion tadi.

__ADS_1


"Amnesia, koplak. Makannya buka kacamata yang Lo pakai biar gak gelap lihatnya!" Gavin langsung melepas kacamata yang ia pakai kemudian memakaikannya pada murid perempuan yang berjalan melewati dirinya dan kebetulan ia adalah murid satu angkatan yang kebetulan naksir dengannya.


"Buat, Lo cantik." Gavin mencubit hidung murid perempuan itu sambil mengedipkan sebelah matanya.


__ADS_2