Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
CSJC : Chapter 28


__ADS_3

"Serem banget, masa siang bolong begini ada tante kun** di bawah pohon." Gibran melihat wanita itu dengan posisi tangan kiri seperti orang sedang hormat, mulut terbuka, dan mata memicing serta tangan kanannya memegang kacamata yang tadi dia lepas untuk melihat wujud wanita itu agar jelas.


"Eh, kalau dilihat dari bodynya seperti Jasmine si cewek tengil. Aku samperin aja kali, ya?" Gibran pun berjalan mendekati Jasmine yang masih asik bermain ayunan di bawah pohon beringin.


Sial atau memang rejeki, saat Gibran melangkah hampir mendekati Jasmine. Gibran malah terdorong ayunan Jasmine dari depan sehingga Gibran jatuh terduduk dengan dahi yang memar karena saat dia jatuh terduduk, ujung ayunan dari kayu itu mengenai dahinya.


Jasmine yang merasa ayunannya terhalang oleh sesuatu di belakang reflek menolehkan kepalanya ke belakang tapi sayangnya dia tidak melihat siapa pun di sana. Jasmine menoleh ke kanan dan ke kiri namun sama saja tidak ada orang lain selain dirinya.


"Perasaan tadi nabrak sesuatu tapi kok nggak ada siapa-siapa di sini, ya? Apa cuma perasaanku aja?" Jasmine bisa berkata seperti itu karena tidak melihat adanya Gibran. Lagipula Gibran juga tidak bersuara saat dahinya terbentur sudut ayunan jadi maklum kalau Jasmine tidak melihat Gibran yang sedang terduduk sambil mengusap-usap dahinya.


Sabar Gibran sabar, jangan marah atau nanti hilang gantengnya. Gibran menarik napas panjang dan menahan emosinya agar tidak meledak seperti bom Hiroshima dan Nagasaki dan memulai perang dunia ke tiga sendiri. Gibran melihat Jasmine yang hendak kembali mengayunkan ayunannya dan Gibran pun dengan cepat berguling ke kiri agar tidak terbentur ayunan lagi.


"Jasmine." Gibran memanggil Jasmine dengan suara yang keras agar gadis itu mendengarnya. Dan benar saja, setelah Gibran memanggil nama Jasmine gadis itu menoleh lalu tersenyum kepadanya. Jasmine turun dari ayunan dan berjalan mendekati Gibran yang masih duduk di atas rerumputan.


"Tuan Gibran, sejak kapan kamu di sini? Mari saya bantu berdiri!" Jasmine bertanya sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Gibran berdiri dan menggandengnya. Jasmine mengajak Gibran duduk di salah satu kursi taman rumah sakit.


"Sejak tadi, kamu tadi nggak lihat ya kalau saya ada di belakang kamu? Lihat ini dahi saya jadi memar!" Gibran menunjukkan luka memar di dahinya yang sudah semakin membiru.


(Jangan bingung kalau bahasanya ganti-ganti ya reader's, karena author menyesuaikan situasi.)


"Saya nggak lihat, Tuan. Kan tadi Tuan di belakang saya bukan di depan." Jasmine memerhatikan luka di dahi Gibran seksama, ada rasa bersalah yang tiba-tiba hadir setelah Jasmine tahu penyebab Gibran terluka.


Jasmine mendekat kepada Gibran lalu tangan Jasmine merengkuh kepala Gibran agar mendekat ke arahnya dan cup ... Jasmine memberikan kecupan yang cukup lama di dahi Gibran yang memar. Tindakan Jasmine tersebut tentu saja membuat Gibran sangat terkejut sehingga Gibran membelalakkan matanya.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Gibran setelah Jasmine menjauhkan bibirnya dari dahi Gibran.


"Mencium luka kamu agar cepat sembuh, biasanya kan kalau sakit dicium terus sembuh, Tuan," ucap Jasmine dengan sangat percaya diri.


"Tapi saya bukan Dilan yang modus minta dicium sama ceweknya," balas Gibran sambil menatap mata Jasmine yang indah.


"Kamu kan memang bukan Dilan tapi Gibran, Tuan." Jasmine mencubit hidung Gibran dengan perasaan gemas di hatinya.


"Kamu sudah mulai berani ya sama saya?" Gibran menahan tangan Jasmine agar gadis itu tidak menjauh darinya. Gibran mencondongkan tubuhnya mendekati Jasmine lalu mendekatkan mulutnya di telinga Jasmine.


"Punya saya yang kamu buat sakit bukan cuma dahi, Jasmine. Burung saya juga kamu buat sakit dengan tendangan kamu, bagaimana kamu mau mengatasinya?" bisik Gibran dengan suara yang serak menggoda. Posisi yang seperti ini membuat tubuh Jasmine bergejolak aneh karena telinganya merasakan embusan napas Gibran yang hangat.


"Jangan gila dong, Tuan. Saya kan memang sengaja," ucap Jasmine tanpa rasa bersalah sedikit pun. Dia mendorong dada Gibran agar menjauh dari tubuhnya, bisa meledak jantung Jasmine kalau kelamaan berdekatan dengan sang ceo.


"Jangan gila dong, jangan gila dong! Kamu ketahuan bohong. Jangan gila, jangan gila dong! Kamu ketahuan bohong." Gibran yang mendengar perkataan Jasmine reflek malah bernyanyi dengan ibu jari bergoyang ke kanan dan ke kiri.


Hancur sudah wibawa seorang ceo di depan gadis cantik dan seksi di depannya itu.


"Jasmine, jadi tadi kamu sengaja menendang burung saya?" tanya Gibran mengalihkan pembicaraan yang tadi. Tatapan Gibran sudah menghunus tajam pada mata Jasmine yang indah.


"Iya, Tuan. Habis saya kesal sama kamu, Tuan. Pikiran kamu mesum terus kalau lihat saya." Jasmine mengatakan alasan yang sejujurnya. Dia menatap mata Gibran agar Gibran tidak mengira kalau dia berbohong.


"Oh, saya akan memberikan kamu hukuman karena telah membuat milik saya sakit. Bagaimana kalau saya tidak bisa punya anak karena ulah kamu, apa kamu mau bertanggungjawab?" Gibran menatap Jasmine dengan serius, hawa dingin tiba-tiba menyeruak di antara mereka.

__ADS_1


"Jelas tidak punya anak, istri aja belum punya kan, Tuan?" tanya Jasmine sambil meremas ujung dress yang dia pakai.


"Bagaimana kalau kamu yang jadi istri saya?" Gibran menaik turunkan alisnya sambil tersenyum menggoda Jasmine si bunga melati.


"Terima kasih tawarannya. Tapi saya tidak berminat." Jasmine menguyel-uyel pipi Gibran lalu menciumnya, tidak tahu juga asal keberanian dia dapat dari mana.


Karena merasa kesal dengan Jasmine yang selalu mencium dirinya tanpa permisi. Gibran akhirnya menahan tengkuk leher Jasmine lalu dia membenamkan bibirnya pada bibir Jasmine, Gibran menggigit bibir Jasmine sehingga mulutnya terbuka dan dengan leluasa Gibran bisa menjamah setiap bagian dari mulut Jasmine.


Jasmine berkali-kali memukul dada Gibran tapi semuanya percuma karena tenaga Gibran jauh lebih kuat dari dirinya. Terbawa suana akhirnya Jasmine malah membalas ciuman Gibran dengan hangat, tidak ada birahi napsu di dalamnya.


Mereka saling melepas bibir mereka saat napas mereka hampir habis. Gibran tersenyum sinis tanda dia puas dengan ciuman itu.


"Apa kamu mau mengulanginya?" tanya Gibran merangkul bahu Jasmine sehingga posisi mereka sangat intim.


"Tidak, ogah saya ciuman saya kamu lagi, Tuan." Jasmine menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri dengan cepat, pipinya sudah merona merah menahan rasa malu karena perbuatannya tadi.


"Haha, kamu malu?" Gibran menoel-noel pipi kiri Jasmine dengan tangan kirinya, membuat wajah Jasmine semakin memerah karenanya.


"Jangan nakal dong, Tuan. Nanti saya adukan ke teman saya!" ancam Jasmine yang malah membuat tawa Gibran pecah seketika.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung ...


__ADS_2