Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
CSJC : Chapter 27


__ADS_3

Jasmine bisa memaklumi pikiran laki-laki yang walaupun, laki-laki terlihat alim pasti ada pikirannya mesumnya, tidak mungkin tidak apalagi kalau yang sudah menikah laki-laki alim kadang buas menurut Jasmine. Bukankah godaan wanita itu yang paling berbahaya? (Author masih polos nggak paham maksud Jasmine 🤭).


Karena melihat Gibran yang isi otaknya rada tertimbun sama hal-hal berbau mesum maka Jasmine akan menyadarkan Gibran dengan satu cara. Saat ini Jasmine menatap Gibran dengan tatapan sengit lalu menanggapi pertanyaan Gibran.


"Tentu saja aku serius, tapi sebelum minum, rasakan ini, hyaaa ...." Jasmine mengangkat kaki kanannya lalu tanpa rasa bersalah dia menendang belalai milik Gibran sampai Gibran merasakan sakit yang luar biasa.


Karena sangat tepat sasaran, Jasmine diam beberapa saat dan setelah merasa puas karena berhasil, Jasmine langsung lari seribu satu langkah agar tidak mendapat omelan dari Gibran si mesum.


"Dada, Tuan Gajah," ucap Jasmine sambil berlari.


Gibran yang mendapat serangan mendadak di area sensitifnya langsung berteriak dan memegangi miliknya.


"Aaah ... Jasmine!" Gibran berteriak keras sampai dua orang perawat yang masih berada di dalam ruangan menutup telinga mereka masing-masing.


Gibran masih terus memegangi miliknya sambil meringis karena tendangan Jasmine benar-benar tendangan maut.


"Dasar Jasmine gila, Ronaldowati si kepala batok ... saja kalah sama dia," ucap Gibran yang membuat dua perawat wanita terkekeh kecil.


"Kenapa kalian ketawa, apa yang kalian tertawakan?" tanya Gibran dengan mata melotot.


"Ronaldowati bukan kepala batok, Tuan. Tapi si kepala botak." Perawat wanita meralat perkataan Gibran.


"Kalian suka nonton kartun BoBoiBoy ya?" tanya Gibran menaruh rasa curiga pada dua orang perawat wanita tersebut.


"Kartun BoBoiBoy itu kartun apa?" Perawat wanita malah balik bertanya.


"Payah kalian ini, tadi kan kalian bilang kepala kotak, nah yang kepala kotak itu alien adudu." Gibran menjelaskan.


"Tuan, sepertinya Anda harus tes psikis," ucap salah satu perawat.


"Memang saya kenapa?"

__ADS_1


"Anda sedikit gesrek," ucap perawat itu lagi, dan mereka pun terkekeh karena ucapan mereka.


"Kalian bisa diam tidak?" ucap Gibran sengit karena malah ditertawakan oleh perawat wanita tersebut.


Dua orang perawat wanita itu saling pandang kemudian mengangkat kedua bahu mereka dan tersenyum bersama. Karena tugas mereka sudah selesai, mereka memilih untuk segera pergi meninggalkan ruangan Bayu daripada harus mendapat amarah dari Gibran sang Beruang Jantan. Perawat wanita itu hanya mengangguk saat melewati Gibran dan tidak bicara sepatah kata pun.


Merasa miliknya sudah agak baikan, Gibran menarik kursi di sebelah ranjang Bayu lalu dia duduk di sana sambil memandang wajah Bayu yang terlihat masih pucat pasi.


"Bay, kamu nggak mau bangun dan melihat wajahku yang tampan ini?" kata Gibran sambil menggenggam erat tangan kanan Bayu.


"Bay, jangan diam terus dong! Ah ... kamu nggak asik, Bay. Masa jatuh dari pesawat aja harus sampai nggak mau bangun kaya gini."


Gibran hanya bisa mengembuskan napas kasar saat tidak mendapat respon apa-apa dari Bayu. Bukankah tadi Bayu sempat menahan sakit saat Jasmine menginjak jari tangannya, tapi kenapa sekarang tidak ada respon. Bayu ini sebenarnya kenapa?


Gibran tidak menyerah begitu saja, hatinya sangat hancur saat melihat sahabat, adik, musuh, dan sekretaris pribadinya itu terbaring lemah di rumah sakit. Bayu yang selama ini menemaninya melakukan hal gila sudah tidak ada lagi, yang ada hanya Bayu yang diam dan dengan nyamannya tidur sendiri tidak mau bangun untuk sekadar mengingatkan Gibran kalau dia berbuat salah.


Gibran terus mengajak Bayu bicara dan sesekali tangan Gibran jail menoel-noel pipi Bayu atau bahkan mencabut bulu hidung Bayu berharap dengan begitu Bayu bisa bangun.


Gue pengen bangun dan mematahkan tangan Lo, Gib. Tapi sayangnya gue nggak bisa, mata gue barat mau gue buka. Kira-kira begitulah respon yang diberikan Bayu saat mendengar Gibran yang terus nerocos tanpa henti. Bayu memang bisa mendengar perkataan orang-orang yang dekat dengannya tapi untuk merespon yang dia tidak bisa.


Intan dari mana, emas satu gram saja gue nggak punya. Lagi-lagi Bayu merespon dengan kata hatinya.


"Gue nggak percaya kalau Lo nggak punya emas. Lo bahkan punya emas seberat 55 kg, Bay." Gibran masih terus menanggapi kata hati Bayu.


Udah gue bilang kalau gue satu gram saja nggak punya, kok masih ngeyel sih Lo, Gib. Kalau gue bisa bangun gue pasti udah naruh kepala Lo di bawah ketiak gue.


"Lo kan punya, emas Gibran, hahaha ...." Gibran mencubit hidung pesek Bayu sampai memerah.


Sialan Lo Gib. Gue nggak bisa apa-apa sekarang. Eh ... tunggu! Kok Lo bisa dengar suara gue?


"Gue udah pernah mati, jadi gue bisa denger semua kata, Lo." Gibran menjawab lalu mencium dahi Bayu.

__ADS_1


Ingin rasanya Bayu mengumpat Gibran karena berani menciumnya. Namun, Bayu memilih untuk diam dan tidak membatin lagi karena takut jika Gibran akan berbuat semakin semakin jauh.


***


Jasmine yang tadi melarikan diri sekarang sedang duduk bersantai di bawah pohon beringin yang memang berada di taman rumah sakit tempat Bayu dirawat.


Ada sebuah ayunan bambu dengan tali tambang yang terikat dengan salah satu cabang pohon lain di samping pohon beringin. Yang pasti, ukuran pohon itu lebih kecil dari ukuran pohon beringin.


Jasmine awalnya mengira kalau Gibran akan mengejarnya layaknya film-film India yang sering dia tonton dan menangkap serta menciumnya seperti keromantisan monoton pada drama Korea. Membayangkan sudah membuat Jasmine seperti orang gila karena terus tersenyum tanpa peduli dengan sekitarnya.


Namun, bayangan hanya tinggal bayangan saja karena Gibran tidak mengejarnya sama sekali. Jujur, ada rasa kecewa di hati Jasmine tapi gadis itu tidak menunjukkannya.


"Daripada mikirin Tuan Beruang mendingan aku main ayunan di sini, sepi dan nyaman nggak bikin pusing." Jasmine bermonolog dan melangkah ke arah ayunan lalu tanpa permisi duduk di sana dengan tenang.


Angin berembus sepoi-sepoi membuat suana di sana semakin nyaman dan menenangkan. Gaun yang dipakai Jasmine melambai-lambai dengan pelan karena tertiup angin.


Kaki Jasmine bertumpu pada tanah, dan dengan gerakan pelan mengayunkan ayunan kayu itu. Sungguh sangat nyaman rasanya, sehingga Jasmine bisa sedikit melupakan masalah yang sedang menyapanya.


Andai waktu bisa diputar, eh bisa berhenti saat ini, pasti aku bakal sangat bahagia.


Dari kejauhan terlihat satu pasang mata melihat ke arah di mana Jasmine berada. Namun, bulu kuduk pemilik mata itu malah berdiri karena yang dia lihat adalah sosok wanita berambut panjang yang sedang duduk di ayunan di bawah pohon beringin.


"Serem banget, masa siang bolong begini ada tante kun** di bawah pohon."



Copyright by Pinterest


Kira-kira begini lah ekspresi Gibran saat ngintip Jasmine di Tante Kunti.


.

__ADS_1


.


Bersambung ....


__ADS_2