
Berada di aula yang cukup besar. Gia duduk bersebelahan dengan temannya sambil mengunyah permen karet dan membuat balon darinya. Entah apa yang guru pikirkan sampai saat mereka menunggu hari kelulusan guru mengadakan seminar yang diisi oleh mahasiswa dari salah satu universitas terbaik di Indonesia.
Semua murid perempuan berteriak dengan riuh ketika melihat mahasiswa tampan yang akan mengisi seminar masuk ke aula.
"Mirip sama Mas Afgan. Ganteng banget sih," ucap sahabat Gia dengan mulut terbuka dan mata melek sempurna.
"Ingat sama pacar kamu, De!" Gia menoyor kepala sahabatnya sambil terkekeh cukup keras.
"Lu kira kepala gue bola sepak? Enak aja main ditoyor-toyor." Dea mendelik tajam pada Gia, Gia malah bersikap tidak peduli dan terus mengunyah permen karet dalam mulutnya yang sudah tidak ada rasa.
Ketika MC meminta perhatian pada semua murid yang berada di aula. Mata Gia baru melihat ke arah depan dan terkejut ketika melihat si pengisi seminar adalah laki-laki yang ia tabrak tadi.
"Mati gue, semoga aja dia gak lihat." Gia menutup wajahnya dengan buku milik Dea, hal itu tidak luput dari pengamatan mata Han sehingga laki-laki itu tersenyum kecil.
"Perkenalkan, nama saya Handian Wicaksono. Kalian bisa manggil saya Mas Han atau Kak Han atau Bang Han pun juga boleh." Han memperkenalkan dirinya dengan sangat percaya diri.
"Buahahahaha ... nama apaan tuh, nama pasaran orang jaman dulu." Tanpa sadar Gia kelepasan tertawa sambil mengejek nama laki-laki yang kata Dea mirip Afgan.
Semua orang yang berada di aula langsung menatap Gia dengan heran, sinis, dan cuek, sedangkan Gia tidak merasa malu sama sekali.
"Kamu maju ke sini sekarang!" perintah seorang MC yang tidak lain adalah wali kelas Gia.
"Dengan senang hati." Gia berdiri kemudian mengibaskan rambutnya seperti duta sampo dan berjalan bak model internasional menuju ke depan.
Sorakan murid laki-laki terdengar begitu riuh diiringi dengan suara sinis dari murid perempuan. Tapi, hal itu tidak Gia pedulikan.
Malu? Tentu saja Gia malu. Namun, ia tidak mau terlihat pemalu di depan laki-laki yang memiliki aroma parfum sama dengan Om-nya. Ingin rasanya Gia kabur dari tempat itu, tetapi dirinya tidak mungkin kabur setelah membuat keributan di aula.
Setelah perkenalan seharusnya Han harus langsung mengisi seminarnya yang bertema tentang kesuksesan menjadi mahasiswa universitas ternama. Namun, rencana itu harus tertunda karena gadis cantik bernama Gia.
"Ada apa, Pak?" tanya Gia setelah sampai di depan. Mata Gia melotot saat Han tersenyum manis padanya sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Mata Lo kenapa? Katarak?" ucap Gia dengan sinis tanpa merasa bersalah. Dasar mulut laknat, bisa ditampar aku kalau sampai papa tahu aku ngomong kurang ajar.
__ADS_1
"Minta maaf sama Handian sekarang!" perintah Pak Samsul dengan tegas.
"Lebaran masih empat bulan lagi, ngapain minta maaf sekarang?" Ya Allah, ampunilah hamba-Mu yang durhakim ini, lanjut Gia dalam hati.
"Kita kan gak tahu empat bulan lagi kamu masih hidup atau udah tinggal nama," ucap Pak Sam tegas penuh makna.
Gia terdiam beberapa saat dan mencerna ucapan Pak Sam. Gia tidak mau kalau dirinya menjadi tidak tenang karena seseorang yang tidak mau memaafkannya. Gia terbiasa minta maaf dengan mencium punggung tangan orangnya dan setelah berpikir panjang takut dosa. Gia meraih tangan Han kemudian mencium punggung tangan laki-laki itu di depan banyak orang.
"Maaf, Bang. Gue salah," ucap Gia tulus dari hatinya. Han reflek mencium dahi Gia sampai gadis itu terlonjak kaget dan memukul pangkal paha Hans dengan lututnya.
Semua orang yang berada di dalam aula melongo melihat adegan mesra yang dilihat secara live beberapa detik baru saja. Banyak murid perempuan yang hanya fokus pada wajah Han yang masih terlihat tampan walau sedang menahan rasa sakit pada pangkal pahanya.
"Oh Shit!" Han membelakangi semua orang sambil menyentuh asetnya yang berdenyut sakit.
Pak Samsul malah mematung melihat kejadian itu. Pun dengan semua orang yang berada aula.
"Aduh, maaf, Bang. Gia gak sengaja, mana yang sakit?" Gia yang panik reflek menyentuh milik Han membuat laki-laki kesal tidak tertahan.
"Jangan sentuh Pe'a!" Han mendorong tubuh Gia sampai mundur beberapa langkah. Han memegangi hidung dan juga miliknya yang masih sakit.
"Bang maaf! Gue gak sengaja!" Gia menjauhkan tangan kanan Han dari hidung Han sendiri kemudian gadis itu mengambil sapu tangan dari saku roknya dan mengusap darah Han yang masih keluar dari hidung.
"Batalin seminar saya, Pak!" ucap Han pada Pak Sam.
"Anak-anak, saya mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Seminar dibatalkan dan kalian silakan kembali ke rumah masing-masing!" ucap Pak Sam dengan berat hati.
Terdengar suara sorakan dari para murid karena kesal dengan seminar yang tiba-tiba dibatalkan. Satu per satu murid mulai meninggalkan aula dan Dea ingin menghampiri Gia tapi tangannya sudah ditarik oleh kekasihnya.
"Pulang sekarang, Gia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri," ucap Andre seraya menarik tangan kekasihnya.
Dea pun mengangguk dan terpaksa meninggalkan Gia sendirian.
"Sakit tahu, gak?" bentak Han dengan sangat kesal.
__ADS_1
"Tahu, makanya gue minta maaf." Gia terus membersihkan darah Han.
"Minggir Lo!" Han mendorong tubuh Gia karena rasa sakit pada hidungnya menjalar ke kepala.
Bruk! Gia terjatuh ke lantai dengan cukup keras karena dorongan Han. Gia sempat merintih merasakan sakit pada pergelangan kakinya.
"Gue tahu kalau salah. Tapi, gak usah kasar juga sama cewek!" bentak Gia dengan mata memerah kemudian dirinya langsung berdiri dan berlari keluar aula dengan langkah pincang untuk segera meninggalkan sekolah. Sialnya, saat ia sampai di halaman sekolah, kaki Gia semakin terasa sakit dan terpaksa harus berhenti.
Han yang merasa bersalah pada Gia langsung menyusul gadis itu tanpa peduli dengan rasa pusing pada kepalanya. Saat Han sampai di halaman sekolah, ia langsung menghentikan langkahnya.
"Gia tunggu!" teriak Han seraya berjalan cepat menghampiri gadis itu.
"Kok Lo bisa tahu nama gue, sih? Mau apa?" Gia menatap tajam mata Han.
"Gue anterin pulang mau?" Han tersenyum tampan.
"Ogah, mending gue naik onta daripada naik kendaraan sama Lo." Gia berbalik badan berniat untuk meninggalkan Han. Tapi, kakinya yang sepertinya terkilir membuat Gia hampir jatuh kalau saja tidak ditangkap oleh Han.
"Ah, lepasin gue!" bentak Gia sambil meronta minta dilepaskan.
"Nanti kalau gue lepas Lo bisa jatuh lagi," ucap Han yang malah menikmati momen ini.
"Jatuh ya biarin. Jangan jadi korban drakor yang memanfaatkan kesempitan dalam kesempatan!" Gia yang kesal sampai tidak sadar kalau dirinya telah salah bicara.
Sepertinya Allah berpihak pada Han sampai pada akhirnya mereka oleng dan Han jatuh bersamaan dengan Gia dengan posisi tumpang tindih. Gia tidak bisa bangun karena tubuhnya yang jauh lebih kecil dari Han tertimpa tubuh Han. Gia merasakan ada sesuatu yang aneh di bibirnya.
Apaan nih yang di bibir gue? Astaghfirullah, bibir perawan gue juga hilang hari ini. Huaaa ... mama, Gia kudu kumaha?
***
Bersambung ...
Siapa yang kangen sama Bayu dan Airin? Gio, Gavin, dan Gilang juga??
__ADS_1