
Mereka di dalam mobil terus saja bercanda tidak ada habisnya. Walaupun, Gibran masih lemas tapi dia tetap terlihat ceria dan berbahagia karena memang begitulah hidupnya. Mobil yang mereka kendarai sudah memasuki halaman rumah mereka. Setelah memarkirkan mobilnya, mereka segera masuk ke dalam rumah.
"Bran, kapan kamu mau ngasih bunda menantu? Bunda udah nggak sabar pengen nimang cucu dari kamu," tanya Ranti ketika mereka duduk di ruang keluarga.
"Gibran belum punya calon, Bun. Kalau Bunda udah nggak sabar pengen nimang anak kecil, kenapa Bunda nggak buat lagi aja?" Gibran sebenarnya sangat menginginkan sesorang adik, tapi karena orangtuanya tidak mau memberikan dia adik, Gibran jadi pribadi yang serius namun suka bercanda hanya untuk menutupi rasa kesepiannya.
"Bunda kamu nggak minta jatah sama ayah, kalau buat minta keluarin di luar." Satya menyela obrolan mereka.
"Apanya yang keluarin di luar, Yah?" tanya Gibran polos sepolos authornya.
"Lupain, kamu tidur sana!" perintah Ranti agar obrolan mereka tidak merambah ke mana-mana seperti pohon semangka.
"Gibran belum mau tidur, Bun. Kiranya Bunda ingin segera punya menantu, Gibran nggak masalah kalau misal Bunda yang milih," ucap Gibran tidak main-main.
"Maksud kamu? Kamu mau menikah dengan pilihan, bunda? Kamu nggak mau milih sendiri?" tanya Ranti memastikan.
"Gibran tentu saja mau milih. Tapi kalau Bunda memang nggak sabar, Gibran ngikut aja." Gibran tersenyum dengan sangat manis, semanis madu tapi pas ambil di sengat lebahnya.
"Bunda nggak mau maksa kamu, Sayang. Kamu boleh menikah di waktu yang kamu inginkan." Ranti tersenyum dan mengusap dan mengacak rambut anaknya dengan sayang.
"Bun, aku bukan kucing jangan elus-elus rambutku! Apalagi mengacak-acaknya."
"Kamu kan menang kucing manis bunda, Sayang." Ranti terkekeh melihat wajah Gibran yang masam, semasam mangga muda.
"Iya, karena Bunda kucing garongnya." Satya berkata sambil tertawa terbahak-bahak.
"Ayah buaya." Ranti berkata dengan kesal.
"Bunda lubangnya." Satya bangun dari duduknya dan berlari menjauh dari mereka.
"Hahaha ... lubang buaya." Gibran menertawakan Ranti yang kepalanya sudah bertanduk.
"Astaghfirullah, Ayah!" Ranti mengejar Satya dengan kesal, mereka kejar-kejaran sampai memutari meja makan dan meja ruang tamu. Gibran yang melihat itu menjadi sangat pusing, sehingga dia hanya bisa menepuk jidatnya.
__ADS_1
"Wekk ... ayo tangkap! Nggak bisa kan hahaha ...." Satya tertawa meledek Ranti dan sesekali dia menjulurkan lidahnya.
"Eladalah, kurang asem!" Ranti mengejar Satya dengan membawa kemoceng di tangan kanannya.
"Nggak kena, nggak kena!" Satya terus mengejek Ranti. Karena keasikan mengejek istrinya yang cantik jelita bak bunga kamboja, dia tidak memerhatikan langkahnya. Sehingga bruk ... Satya terjatuh dengan posisi hampir tengkurap karena kakinya tersandung kaki Gibran yang terlihat dengan sengaja dijulurkan.
Melihat suaminya jatuh, Ranti segera menggelitik perut suaminya hingga Satya tertawa terbahak karena merasa geli.
Aku seperti pengasuh untuk kedua orangtuaku sendiri. Gibran berkata dalam hati.
Karena merasa kesal dengan istrinya, Satya mengubah posisi mereka, sekarang Ranti berada di bawah tubuhnya sedangkan Satya di atasnya. Satya menghukum Ranti dengan menciumi semua bagian wajah istrinya.
"Gibran kamu pergi ke kamar sana!" perintah Ranti yang masih dihukum suaminya.
"Iya, Bun. Selamat malam." Gibran mencium pipi Ranti yang masih terlentang di atas lantai dan menepuk pundak ayahnya, kemudian segera kabur menuju ke kamar, samar-samar Gibran mendengar suara Ranti yang menyuruhnya untuk berhati-hati siapa tahu di kamarnya ada tante kunti yang udah nunggu.
Gibran sudah terbiasa tidur dengan kondisi ruangan yang gelap, sehingga saat dia tidur
"Andai dia tidak pergi, mungkin aku sudah punya anak sekarang." Tidak terasa air mata mengalir pelan dari sudut matanya.
Belum punya anak, aku sudah harus mengurus kedua anak kecil itu. Gibran tersenyum mengingat kelakuan kedua orangtuanya.
Dulu Gibran adalah orang yang hangat namun jarang tersenyum. Dia hanya tersenyum kepada wanita yang dia cintai. Namun, tiba-tiba wanita itu meninggalkan dia dan menikah dengan orang lain.
Berbeda dengan kebanyakan orang yang akan terpuruk atau menderita saat ditinggalkan. Gibran malah menjadi pribadi yang lebih hangat, ceria dan menjalani hidup dengan bahagia. Walaupun kadang saat dia teringat akan masa lalunya, air matanya mengalir begitu saja.
Bagi Gibran, membuat dirinya sedih hanya untuk sesuatu yang tidak bisa dia rubah hanya akan membuang waktu berharga dan akan membuat dirinya jatuh ke dalam jurang yang paling dalam. Gibran menjadikan kegagalan cinta dalam hidupnya sebagai pelajaran yang berharga agar ke depannya dia tidak harus mengalami hal yang sama.
"Wes tak coba, nglaleake jenengmu seka atiku, sak tenane aku ora ngapusi iseh tresna sliramu." ( Sudah ku coba, melupakan namamu dari hatiku, sebenarnya aku tidak berbohong masih cinta dirimu.)
Gibran menarik selimut dan menutup tubuhnya sampai sebatas leher. Dia akan tidur sekarang.
***
__ADS_1
Pagi harinya Gibran sudah berada di perusahaan. Pagi ini dia akan mengadakan pertemuan dengan semua pemegang saham untuk membahasa perkembangan perusahaan mereka.
Pertemuan berlangsung selama dua jam dan diakhiri dengan saling berjabat tangan dan mengucapkan terima kasih.
"Tuan, ada teman lama Anda yang ingin bertemu dengan Anda," ucap Bayu memberitahu Gibran.
"Siapa?"
"Teman lama Anda, Tuan. Dia adalah-"
"Yang nanya," ucap Gibran dengan begitu menyebalkan.
"Tuan, saya sedang serius, jangan bercanda! Kalau Anda bercanda terus semua akan berubah." Bayu berkata dengan sangat kesal, dia sangat tidak menyukai sikap Gibran yang suka bercanda di saat serius.
"Berubah jadi apa prok prok prok." Gibran bertepuk tangan dengan senangnya tanpa mempedulikan wajah Bayu yang terlihat seperti pakaian kusut.
"Astaga, Tuan Gibran yang terhormat. Sudikah kiranya Tuan tidak bercanda?" Bayu sudah terlihat semakin kesal dengan tingkah Gibran.
"Sekretaris Bayu, kamu tidak bisa diajak bercanda, menyebalkan!" Gibran menggerutu, dia berjalan ke arah pintu untuk pergi ke luar.
"Anda mau ke mana?" teriak Bayu membuntuti Gibran.
"Bertemu dengan unta." Gibran menjawab tanpa menoleh ke arah Bayu yang berada di belakangnya.
"Di sini tidak ada unta, Bos." Panggilan Bayu sudah berubah dari tuan menjadi bos.
Gibran semakin kesal dengan Bayu, hingga tanpa aba-aba dia berhenti berjalan dan karena Bayu tidak mempersiapkan diri untuk mengerem, dia menabrak Gibran hingga jatuhlah mereka berdua dengan posisi Bayu menindih Gibran.
Kualat aku karena tadi malam mengerjai ayah dan bunda. Gibran tersenyum simpul saat dirinya teringat kejadian tadi malam di rumahnya.
Bersambung ...
Aku nggak up setiap hari ya. Tapi aku kalau up jam delapan pagi.
__ADS_1