Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
CSJC : Chapter 110


__ADS_3

Setelah berbincang beberapa saat, akhirnya mereka berdua pun turun ke lantai satu untuk makan malam di waktu yang lebih awal.


"Gio di mana?" tanya Ranti yang baru datang dari luar rumah.


"Bunda dari mana?" tanya Gibran ketika melihat Ranti dari luar rumah.


"Nyari macan," jawab Ranti dengan asal, kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri seperti sedang melakukan pemanasan untuk senam robotik eh ... aerobik.


"Ketemu nggak macannya?" tanya Ayunda yang juga ikut mengobrol dengan mereka.


"Ibu nggak gaul, tante cuma bercanda kali," ucap Ridwan menimpali ibunya. Ayunda menatap putranya datar karena ia juga tahu kalau Ranti hanya bercanda.


"Dapat, nih!" Ranti menunjuk hewan di gendongannya yang meringkuk nikmat karena diusap bulunya.


"Itu bukan macam, Tan. Tapi, cat," ucap Airin sambil tersenyum manis semanis madu.


"Cat apa? Tembok atau dinding?" sahut Gibran sambil menahan tawa.


"Catarak, (katarak)" Jasmine berdecak malas mendengar obrolan tidak penting orang-orang itu.


"Makan-makan." Jasmine berbicara dengan suara sedikit keras kemudian menarik kursi di sebelah kanan Ridwan.


"Jangan duduk di sana!" Gibran melarang, matanya sudah melotot seperti ingin keluar dari wajahnya.

__ADS_1


"Emang kenapa?" tanya Jasmine dengan wajah yang polos.


"Aku-"


"Cemburu tanda cinta, marah tandanya minta di hajar," sahut Satya yang sejak tadi diam dan hanya menjadi penonton tanpa membayar dan tidak dibayar.


"Ini mah kucing garong, Rin." Ranti menurunkan kucing dari gendongannya, Gibran langsung bersin karena ia tidak kuat dengan buku kucing.


"Ha-hachim!"


"Kucing kawin beranak lima," latah Bayu yang membuat Airin tertawa keras sambil menjejakkan kakinya keras di lantai hingga kursi yang ia duduki oleng dan akhirnya Airin terjatuh ke lantai dengan menyedihkan.


Sakitnya sih nggak masalah, tapi malunya walah parah. Airin tersenyum malu dan menutup wajahnya dengan telapak tangan.


"Modus!" ucap Bayu dengan sinis.


"Iri bilang, Bos!" Gibran tertawa mendengar perkataan Satya yang sedikit gaul.


"Apaan sih, Yah. Aku iri sama dia, hahaha ... nggak akan terjadi." Bayu mengelak tegas karena dirinya memang tidak iri, hanya saja hatinya merasa sedikit terusik melihat ada laki-laki lain yang mengkhawatirkan Airin.


"Aku nggak apa-apa, kok. Jangan sok perhatian gitu, Kak! Aku nggak suka sama cowo yang terlalu baik dan lemah lembut." Airin bangun sendiri dan tidak menerima bantuan Ridwan yang berniat baik.


"Kamu perempuan ngomongnya pedas banget," komentar Ridwan sambil tersenyum manis dan tidak tersinggung dengan perkataan Airin.

__ADS_1


"Gue makan carolina reaper jadi kalau ngomong suka ngegas," jawab Airin asal dan kesal.


"Kok Lo nggak mati?" ucap Bayu dengan sarkas.


"Kalau gue mati Lo jomblo seumur hidup," ucap Airin menimpali Bayu.


"Apa hubungannya?" Bayu menatap tajam Airin.


"Karena gue jodoh, Lo." Airin mengedipkan sebelah matanya membuat Bayu bergidik ngeri sambil beristighfar dalam hati.


"Kamu jangan marah-marah terus! Nanti tambah cantik dan aku makin suka." Ridwan menepuk puncak kepala Airin pelan.


Gila nih orang nggak ada kapoknya ngejar-ngejar gue. Gue yang dikejar saja capek dan kapok. Airin bergumam kesal dalam hati.


"Bunda kalau nyari Gio dia tidur sama anak aku," ucap Jasmine memberitahu mertuanya yang kini hendak duduk di sebelahnya.


"Nggak ada yang jaga dong? Kalau dia jatuh dari kasur gimana?" tanya Ranti sedikit khawatir.


"Tenang aja, Bun. Ada karpet bulu kok, tapi kalau jatuhnya dari ranjang sih pasti bakal nangis kalau kepalanya benjol." Ranti menjitak dahi menantunya yang berkata dengan begitu santai padahal sedang bicara masalah yang serius.


"Bunda lihat ke atas deh, nanti makannya bunda nyusul aja." Ranti berjalan pergi meninggalkan meja makan.


"Cuci tangan sama ganti baju dulu, Bun! Takutnya ada bulu kucing yang menempel di bajunya, Bunda," pinta Jasmin sebagai bentuk kesiagaannya menjaga kesehatan adik dan juga anaknya.

__ADS_1


__ADS_2