
Syala yang sudah membuat janji dengan adik dari laki-laki yang ia sukai sekarang sudah sampai di taman dan duduk di kursi yang terletak tepat di bawah pohon besar yang rindang. Angin sepoi-sepoi sangat menyegarkan dan menggoyangkan beberapa helai rambut panjangnya.
Ia sengaja datang lebih awal karena ia tidak mau kalau Gilang dan Gia menunggunya. Namun, sudah tiga jam ia menunggu, mereka belum juga hadir sampai sekarang.
"Mereka datang gak, ya?" Ia sudah mulai bimbang. Waktunya tidak akan lama lagi di sini.
Syala berdiri kemudian memutuskan untuk berjalan mengelilingi taman dan mencari Gilang dan Gia yang mungkin saja telah datang.
Sudah dua kali ia berkeliling tapi hasilnya nihil, Gia dan Gilang tidak ada di taman itu. Nomor ponsel Gia juga tidak aktif serta pesan darinya juga tidak dibaca.
"Apa dia mengingkari janjinya?" Syala mengembuskan napas perlahan. Matanya sudah berkaca-kaca karena merasa kecewa mereka tidak datang.
Ponsel miliknya berdering, satu nama seorang laki-laki terlihat jelas di layar ponselnya. Ia mendengus dan menjawab panggilan suara dari nama itu dengan sedikit kesal dan sedih.
"Ada apa?" tanya Syala tanpa menyapa lebih dulu.
" .... "
"Bisakah kita menundanya satu jam lagi?" Syala memohon dengan sangat.
" .... "
"Baiklah, aku akan pulang sekarang. Tolong ambil semua barang-barang di kamarku!" Saat si penelepon menjawab, Syala langsung mengakhiri panggilan suara.
"Aku tidak bisa menunggu lebih lama, maaf Gilang, Gia. Aku akan pergi." Syala melangkah gontai meninggalkan taman. Ia sangat sedih karena keinginan terakhir sebelum pergi tidak terkabul, ia juga kecewa karena Gia tidak menepati janjinya.
Saat ia sudah hampir keluar dari area taman, sebuah suara yang sangat ia kenali memanggil namanya dari kejauhan.
"Kakak, jangan pergi!"
"Kak Syala, aku datang."
***
__ADS_1
Tiga jam yang lalu, Gia sudah sampai di kamar Gilang. Ia membuka pintu kamar yang tidak dikunci dan langsung masuk tanpa permisi.
Wajah Gia sangat sedih melihat Gilang berbaring di ranjang dengan selimut menutupi seluruh badannya. Gilang menangis, Gia bisa mendengar dengan jelas suara isakan kakaknya.
Gia menghampiri Gilang dan duduk di tepi ranjangnya. Perlahan Gia membuka selimut kakaknya.
"Koko, jangan nangis dong!" Gia meneteskan air mata melihat mata Gilang yang sedikit memerah.
Gilang beranjak duduk, ia memeluk pinggang Gia dan menangis di bahunya.
"Dia akan pergi, dia akan pergi sangat jauh. Kenapa koko harus sakit, Gia? Kalau koko gak sakit, mama pasti ngizinin kita pergi, 'kan?" Suaranya begitu pilu penuh kekecewaan, Gia mengusap punggung kakaknya dengan lembut dan hangat.
"Koko tenang saja, kita pasti pergi." Gia memenangkan Gilang, ia berpikir keras agar mendapat izin dari mamanya.
***
Sementara itu di lantai satu, tepatnya di ruang makan. Ranti tidak tega melihat kedua cucunya bersedih.
"Jasmine, izinkan saja mereka pergi. Tiga puluh menit bukan waktu yang lama," ucap Ranti lirih.
"Jangan egois, kalau Gilang terus larut dalam kesedihan. Bukan tidak mungkin kalau kesehatannya malah akan buruk." Kali ini Satya yang bicara.
"Maaf, Yah. Keputusan aku masih sama." Satya dan Ranti mengembuskan napas kasar dan kecewa.
"Belum genap satu hari Gia tinggal di sini, dia sudah minta untuk pulang." Ranti baru satu kali kecewa dengan Jasmine dan kali ini adalah yang pertama.
Ranti menarik tangan Satya dan mengajaknya pergi dari ruang makan tanpa berpamitan. Gio dan Gavin bahkan sangat sedih saat melihat mereka pergi.
"Jangan menyesal kalau sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada Gilang nanti, Kak!" Gio meninggalkan ruang makan setelah mengatakannya.
Gavin menatap Jasmine dengan penuh rasa kecewa. Ia juga langsung meninggalkan ruang tamu tanpa mengucapkan apa pun.
Sudah dua jam lebih, Gilang tidak berhenti menangis.
__ADS_1
"Koko, dari kecil kita selalu nurut sama perintah mama. Ayo kita membangkang satu kali!" ajak Gia yang sudah menyerah meminta izin pada mamanya.
"Koko tidak bisa pergi tanpa izin mama," jawab Gilang dengan suara serak.
"Keras kepala, Gia mau pegi menemui Kak Syala sekarang." Gia berjalan hendak keluar dari kamar.
"Gia," panggil Gilang lirih, menghentikan langkahnya.
"Kenapa?"
"Ambil surat di laci, tolong berikan padanya. Sampaikan permintaan maaf koko padanya nanti." Gia mengangguk, ia mengambil surat dari laci kemudian berlari keluar kamar dengan kencang.
Gia tidak peduli dengan teriakan beberapa orang di rumah agar dirinya tidak pergi. Namun, Gia sangat nekat.
Gia terus berlari kencang ke taman yang jarak dengan rumahnya sekitar dua ratus meter. Napasnya ngos-ngosan, saat ia sampai di taman. Ia melihat Syala sudah hampir pergi. Ia pun segera memanggil Syala.
"Kakak, jangan pergi!"
"Kak Syala, aku datang."
Gia melihat Syala berbalik badan dan tersenyum lebar saat melihat dirinya yang sudah datang. Syala langsung menghampiri Gia.
"Aku kira kamu tidak akan datang, di mana Gilang?" Syala melihat sekeliling tapi tidak ada Gilang.
"Dia di rumah, dia tidak datang karena mama tidak memberi izin. Maaf aku telat, Kak. Ini surat dari Kak Gilang, dia meminta maaf karena tidak bisa datang." Syala mengangguk dan tersenyum manis.
"Tidak apa-apa. Kakak titip salam untuknya. Maaf, Gia, sekarang kakak harus pergi." Syala menerima surat dari Gia kemudian memeluk erat gadis kecil itu.
Gia balas memeluk Syala dengan erat, satu menit mereka berpelukan. Syala melepas pelukannya karena ia sudah sangat terburu-buru untuk pulang.
"Kamu jangan nakal, tolong jaga kakak kamu!" Kakak pergi, dah!" Syala meninggalkan Gia yang masih berdiri di tempat. Saat bayangan Syala sudah tidak terlihat, Gia berjalan kembali ke rumah dengan gontai.
***
__ADS_1
Bersambung ...