
Ranti yang baru saja memandikan Gio dan memakaikan pakaian pada putra kecilnya itu dibuat kesal dengan ponsel Gibran yang sudah berdering puluhan kali.
Ranti menoleh ke kanan dan ke kiri tapi tidak melihat Satya. Akhirnya, ia meletakkan Gio di dalam ranjang bayi lalu mengambil ponsel milik Gibran yang berada di saku celana. Saat ia hendak menggeser tombol hijau, panggilan sudah diakhiri. Dan saat ada satu panggilan masuk lagi, saat ia hendak menjawab, ponsel Gibran malah langsung mati karena kehabisan daya baterai.
Ranti meletakkan ponsel putranya itu di atas nakas lalu membangunkan Gibran yang tidur dengan sangat pulas di kamarnya.
"Gibran, bangun!" Ranti mengguncang tubuh Gibran agar putranya itu cepat bangun.
Gibran hanya menggeliat dan tidak membuka matanya. Gibran mungkin memang sangat lelah sampai ia sulit untuk dibangunkan.
"Gibran, bangun!" Ranti mengapit hidung Gibran agar putranya tidak bisa bernapas dan bangun. Namun, bukannya bangun Gibran malah membuka mulutnya dan bernapas lewat mulut.
"Ayo bangun!" teriak Ranti kesal. Ranti menarik napas panjang, ia menutup mulut Gibran dan hidungnya secara bersamaan sehingga Gibran bangun karena tidak bisa bernapas.
"Jangan ganggu, Bun!" ucap Gibran setelah membuka matanya.
__ADS_1
"Makannya kalau dibangunin itu bangun, jangan kaya kebo kerajaannya tidur terus!" omel Ranti dengan berkacak pinggang.
"Aku ngantuk banget, Bun. Biarin tidur sebentar lagi!" Gibran kembali memejamkan matanya hendak kembali tidur.
"Tadi HP kamu bunyi puluhan kali, ada panggilan masuk tapi tadi bunda nggak baca nama yang manggil. HP kamu juga daya baterainya sudah habis." Ranti mengambil Gio kembali dari ranjang, ia meletakkan Gio di atas dada Gibran sehingga mau tidak mau pasti Gibran akan bangun karena adiknya itu.
"Sana main sama kakak kamu!" ucap Ranti, setelah meletakkan Gio ia langsung pergi keluar kamar dan meninggalkan Gibran berdua saja bersama dengan Gio.
"Gio bobok, ya!" Gibran mengusap punggung adiknya, ia memejamkan matanya lagi dan membiarkan Gio bermain di atas tubuhnya.
"Astaga, Ayah kenapa?" tanya Ranti ikut panik melihat suaminya yang panik. Ia tidak peduli dangan rasa sakit yang ia rasakan saat jatuh karena ia lebih fokus untuk bertanya pada suaminya.
"Gibran mana, Bun?" Satya bangun dengan cepat, ia bertanya dengan tidak sabar, napasnya bahkan terdengar memburu.
"Gibran ada di a-" Satya sudah berlari naik tangga sebelum Ranti menyelesaikan kalimatnya.
__ADS_1
"Bunda lama jawab, Gibraaan kamu di mana?" Satya yang sudah tahu jika Gibran tidur di kamarnya sampai lupa, entah apa yang membuat ia sangat panik sehingga bisa melupakan semuanya.
"Suamiku kenapa, ya?" Ranti menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu berjalan cepat menyusul suaminya.
"Gibraaan, kamu di mana?" Satya membuka pintu kamar Gibran tapi tidak ada orang. Ia mencari Gibran ke segala penjuru ruangan namun juga tidak ada.
"Ayah, Gibran ada di kamar kita." Ranti memberitahu Satya yang masih berjalan mondar mandir di lantai dua.
"Kenapa nggak bilang dari tadi, Bun?" Satya langsung masuk ke kamarnya dan melihat Gibran hendak keluar dari kamar sambil menggendong Gio.
"Ayah ngapain teriak-teriak?" Gibran menatap Satya bingung.
"Istri kamu, Gib. Istri kamu."Satya bicara cepat.
"Istri aku kenapa, Yah?" Gibran sudah mulai panik.
__ADS_1
"Istri kamu semakin kritis."