
Setelah masakannya siap, mereka berdua duduk bersebelahan di ruang makan. Gibran yang manja minta untuk disuapi dan Jasmine tidak merasa keberatan dengan itu, bukankah akan menjadi pahala jika seorang istri melayani lahir dan batin suaminya?
Suana hangat pada pasangan suami istri itu tidak bisa melelehkan es yang sedang terbentuk antara ayah dan bundanya. Gibran bahkan mereka jika merekalah yang orangtua, sedangkan Ranti dan Satya adalah anak mereka.
"Aku ingin, besok pagi ketika aku bangun usia kandungan kamu sudah tujuh bulan," ucap Gibran di sela-sela mengunyah makanannya.
"Aku ingin, besok pagi ketika aku bangun sudah ada dua bayi di sampingku." Jasmine menanggapi perkataan suaminya dengan senyum tipis yang entah bermakna apa.
"Mana bisa, usia kandungan-mu saja baru dua bulan, kau kalau berandai-andai yang wajar dong!" Gibran mengambil alih sendok dari tangan Jasmine kemudian ia menyuapi Jasmine dengan nasi goreng dalam piring yang sama.
__ADS_1
"Yang nggak wajar itu kamu." Gibran menyengir kuda karena paham dengan maksud perkataan istrinya yang satu ini.
Setelah selesai makan, Jasmine dan Gibran kembali ke kamar mereka. Sebelumnya, Jasmine sudah kesal karena suami dan mertuanya malah tidak mau berangkat bekerja dengan alasan sendiri-sendiri. Jasmine tidak mempermasalahkannya, ia tidak ingin bertengkar dengan suaminya karena tidak mau membuang banyak tenaga secara percuma.
Jasmine ke kamar bukan untuk istirahat tapi ia mau mencuci baju dan merapikan tempat tidurnya. Butuh waktu sekitar satu jam pekerjaannya selesai karena Gibran yang membantunya tanpa disuruh. Setidaknya dengan begini, ia tidak terlalu lelah sehingga tidak akan membuat kesehatannya drop.
"Mulai gila," gumam Jasmine ketika melihat Gibran goyang pinggul dengan gerakan patah-patah seperti—maaf, penyanyi yang cuma berkarir di desa dengan pakaian minim yang memperlihatkan celana dalamnya.
"Pakai daster ah ... tampan, pakai boxer ah ... tampan, nggak pakai bajuuu ... ah ... tambah tampan. Tampan-tampan ah kalau tampan nggak pakai baju pun tetap tampaaaan." Jasmine beristighfar berkali-kali kala melihat Gibran yang sudah demam dangdut, bahkan Jasmine merasa heran dan berpikir, apakah ada lirik lagu seperti itu?
__ADS_1
Jasmine yang mulai pusing dan takut ketularan menggila memilih untuk keluar kamar. Jasmine sengaja tidak melihat adiknya karena kedua mertuanya berada di dalam kamar dan sedang menunggu adiknya yang tidur pulas di antara mereka.
Jasmine pergi ke bawah kemudian keluar dari rumah. Ketika ia sampai di luar, mata Jasmine menangkap sebuah mobil sejuta umat berwarna putih terparkir di halaman rumah mertuanya. Jasmine yakin jika mobil itu bukan milik suami atau mertuanya, karena kebanyakan mobil milik suami dan mertuanya adalah mobil Lamborghini, Ferrari dan yang lainnya.
Dua orang laki-laki juga dua wanita terlihat turun dari mobil bersamaan. Mata Jasmine memicing untuk memerhatikan wajah-wajah mereka, namun percuma karena yang ia lihat tidak jelas mengingat matanya yang sekarang tidak normal. Namun, ketika Jasmine mendengar suara wanita yang sangat akrab di telinganya, Jasmine langsung tersenyum dan bisa menebak jika salah satu di antara dua wanita itu adalah Airin.
"Melati, i miss you so bad." Airin berlari dan langsung memeluk tubuhnya sampai ia merasa sesak.
"Kamu suka bang Somad?" ucap Jasmine dengan wajah polosnya.
__ADS_1
***
Bersambung ...