Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
S2 : Terpaksa Menyuapi


__ADS_3

Jujur saja, siang itu rasanya sangat menyenangkan untuk Gia walau juga kesal karena telah terjebak dalam lubang yang dia buat sendiri. Gia jarang sekali naik motor kalau tidak bersama dengan koko-nya. Namun, sekarang dia malah berboncengan dengan laki-laki tampan yang berstatus sebagai pacarnya walau tidak dia anggap.


Embusan angin menerpa dengan lembut menerpa tubuh Gia dan membuat gadis itu sedikit kedinginan. Gia tanpa sadar memperat pelukannya pada Han dan tentu saja tingkah laku Gia itu membuat Han menyunggingkan senyum bahagia.


"Apa kamu sudah mulai mencintaiku?" goda Han dengan senyum menyebalkan di wajahnya dan itu terlihat jelas di mata Gia melalui kaca spion motor sport milik Han.


"Jangan harap!" ucap Gia sinis.


"Tapi tubuhmu berkata lain, Sayang." Han menggenggam tangan Gia yang melingkar di perutnya.


"Sayang-sayang palamu. Jangan panggil aku dengan sebutan menggelikan itu!" pinta Gia dengan sedikit ketus.


"Mulai sekarang kamu harus memanggilku dengan sebutan sayang!" perintah Han dan tentu saja Gia langsung menolak permintaan bodoh itu.


Han sepertinya sengaja menyuruh Gia melakukan hal yang tidak gadis itu sukai. Akan sangat menyenangkan melihat wajah menggemaskan Gia yang sedang kesal dan seakan-akan mau menelannya hidup-hidup kalau tidak ingat dengan taruhan selama satu tahun yang mereka buat.


"Tidak mau," jawab Gia seraya melonggarkan pelukannya.


"Ingat satu tahun ini ka-" Han belum selesai mengatakannya. Namun, gadis itu sudah menyela dengan cepat.


"Aku harus bilang iya ke, Abang. Baiklah, Sayang. Puas kamu!" Huh, rasanya ingin ku cekik lehermu dari belakang saat ini juga, dasar cowok nyebelin.


"Sangat puas, coba ulangi satu kali lagi!" pinta Han semakin gencar menggoda Gia.


"Gak mau," tolak Gia cepat.


"Harus bilang iya!"


"Iya," ucap Gia.


"Ayo panggil aku dengan sebutan sayang!" Han kembali menggenggam tangan Gia.


"Kemudikan motorku dengan benar! Aku tidak mau cepat mati kalau kamu mengemudi dengan satu tangan," ucap Gia dengan jantung berdebar kencang karena takut kalau mereka akan mengalami hal yang tidak diinginkan.


"Apa kamu takut?" Han melepaskan genggamannya dan kembali mengemudikan motor dengan dua tangannya.

__ADS_1


"Tentu saja takut. Aku ini masih muda dan baru lulus SMA. Masa depanku masih panjang untuk membuat keluargaku bangga dan aku belum menikah. Jadi, aku tidak mau kalau sampai mati sia-sia karena dirimu." Gia berkata panjang lebar dan Han hanya tersenyum mendengar ocehan gadis itu.


"Peluk aku erat kalau gak mau manggil sayang!" Gia mengangguk dan mengeratkan pelukannya.


"Bang, kok malah berhenti?" Gia bertanya karena Han menghentikan motornya tepat di sebuh warung makan pinggir jalan yang ternyata tempat orang jualan pecel lele dan soto ayam kampung.


"Makan dulu, abang lapar." Gia pun turun dari motor Han dan disusul oleh laki-laki itu. Gia awalnya terkejut ketika Han berhenti di sana karena yang gadis itu pikirkan, Han mungkin akan memilih makan di restoran mahal yang tempatnya lebih nyaman, bersih, dan makanannya pun dijamin lebih higienis.


Namun, siapa sangka kalau Han pun bisa memilih makan di warung pinggir jalan seperti ini. Kalau untuk Gia sendiri, gadis itu mau makan di mana saja bisa karena sejak kecil orangtua, kakek, dan neneknya selalu mengajari untuk hidup sederhana. Tempe dan tahu pun menjadi makanan yang Gia suka.


"Bang menu seperti biasa, ya!" ucap Han pada penjual.


"Kamu mau makan apa?" tanya Han pada Gia dengan lembut.


"Samain aja sama kamu," jawab Gia.


"Eh ada Mas Han. Tumben bawa cewek ke sini, siapa nih, Mas?" Penjual pecel dan soto itu terlihat sangat akrab dengan Han-tu pemakaman jeruk Mandarin.


"Istri saya, Pak." Han menjawab dengan tenang, penjual soto itu tersenyum dan mengangguk, sedangkan Gia melotot dan ingin protes. Namun, mulutnya dengan cepat dibekap dengan tangan besar Han.


Kepo banget sih jadi orang, Bang Han juga kalau ngomong suka sembarangan. Kata Mama, perkataan itu adalah doa, nanti kalau aku jadi istrinya Bang Han beneran mau gimana coba? batin Gia dengan wajah merengut kesal.


"Dua bulan lalu," jawab Han. Han duduk di kursi yang memang disediakan dan tidak lagi membekap mulut kekasihnya.


"Wah, selamat, Mas," ucap si penjual.


"Terima kasih, Bang. Kebetulan istri saya lagi ngidam, jadi pengen makan di sini."


"Uhuk ... uhuk!" Gia tersedak air liurnya sendiri ketika mendengar perkataan Han yang membuat dirinya sangat kesal.


"Minum!" Han menyodorkan botol air mineral yang baru saya dia buka tutupnya.


Gia mengangguk dan menerimanya. Gadis itu langsung duduk tanpa peduli dengan apa yang diduduki dan minum setelah berdoa dalam hati.


"Walah, istrinya manja banget, Mas." Penjual soto itu tersenyum melihat pasangan suami istri yang terlihat sangat romantis dan tidak malu-malu walau mengumbar kemesraan di depan umum.

__ADS_1


"Iya nih, Bang. Manja banget." Han memeluk pinggang Gia yang duduk di pangkuannya. Gia langsung berdiri ketika tahu kalau yang dia duduki adalah paha Han, bukan kursi.


"Kenapa kamu gak bilang kalau aku duduk di situ?" Gia menatap tajam Han.


"Kamunya nyaman banget. Enak ya duduk di pangkuan aku?" Han terkekeh melihat mata Gia yang semakin tajam menatapnya.


"Silakan di makan, Mas!" ucap si penjual seraya meletakkan piring dan mangkuk ke meja.


"Terima kasih." Han tersenyum.


"Ayo makan!" ajak Han pada Gia ketika pesanannya sudah tersaji.


Gia mengangguk dan melupakan rasa kesalnya ketika melihat pecel lele dan soto di meja. Sudah lama Gia tidak makan makanan itu sehingga tidak terasa air liurnya rasanya mau menetes.


Gia duduk di sebelah Han dan mencuci tangannya sampai bersih. Setelah itu, Gia pun menyantap pecel lele dengan tangannya, Han yang melihat Gia makan dengan lahap tersenyum tipis.


"Enak?" tanya Han seraya mengelus kepala Gia dengan lembut.


"Hu'um," jawab Gia seraya mengangguk dengan mulut penuh.


"Suapin dong!" pinta Han dengan manja.


Gia tentu saja menolak permintaan Han itu. Tapi, bukan Han namanya kalau tidak bisa mendapat apa yang dia inginkan.


"Kalau menolak, waktu satu tahun aku perpanjang jadi dua tahun." Han serius dengan perkataannya.


Gia mengembuskan napas lelah dan dengan terpaksa dia menyuapi Han langsung dengan tangannya.


"Buka mulut, Abang!" pinta Gia dengan suara yang lebih bersahabat.


Han pun membuka mulutnya dan merasa sangat bahagia karena gadis di depannya itu mau menuruti perintahnya walau dengan taruhan.


Tanpa mereka sadari, sepasang mata menatap mereka dengan tidak suka dan merasa cemburu melihat kemesraan keduanya.


"Jadi, itu alasan Lo menolak cinta gue?" Pemilik mata itu menyeringai kesal dan mengepalkan tangannya dengan kuat.

__ADS_1


__ADS_2