Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
Cepat Berlalu


__ADS_3

Semua keluarga Gibran akhirnya pulang setelah mengantar Gilang yang telah mengudara menuju Amerika.


Di mobil menuju perjalanan pulang mereka saling mengobrol walau merasa sepi karena satu anggota keluarga mereka berkurang.


Sesampainya di rumah mereka langsung masuk dan memulai aktivitas mereka masing-masing. Tak terkecuali Jasmine yang mengikuti Gibran ke perusahaan untuk bekerja.


Hari demi hari mereka lalui dengan banyak masalah yang selalu mereka hadapi sama-sama.


***


4 tahun kemudian.


Empat tahun lamanya Jasmine selalu menyembunyikan alasannya sendiri. Tidak ada orang lain yang tahu kecuali dirinya dengan Allah, semua tampak membaik tapi tidak dengan Jasmine yang seperti diabaikan. Mungkin, karena kebohongannya dulu yang membuat Jasmine menjadi seperti sekarang.


"Selamat pagi, Pa, Ma." Gia menyapa kedua orangtuanya yang datang berkunjung ke rumah Akbar.


"Pagi juga, Sayang. Mau berangkat sekarang?" tanya Gibran yang melihat putrinya sudah rapi dengan seragam sekolahnya.


"Bentar lagi, Pa." Gua tersenyum dan duduk di kursi sebelah Gibran.


"Sarapan dulu, ya. Mama udah siapin!" perintah Jasmine seraya memberikan roti yang telah diolesi selai kepada Gia.

__ADS_1


"Thank, Ma." Gia menerima dengan wajah datar tanpa senyum.


"Sama-sama, Sayang." Jasmine mengusap kepala Gia dengan lembut.


"Minggu depan Bang Gavin pulang dari Singapura. Koko gak pulang, jadi boleh gak kalau aku yang ke Amerika ketemu sama Koko Gilang?" Gia menatap Jasmine dan Gibran secara bergantian.


"Kalau Gavin pulang kamu pergi, kalian gak akan ketemu, Gi. Gimana kalau kamu terbang ke Singapura dan menemui Gilang bersama dengan kakak kamu?" Gibran memberikan saran yang terbaik.


"Abang mau gak, ya, Pa?" Gia meneguk susu sampai habis.


"Mau pasti," jawab Gibran yakin.


"Hm, oke, Pa." Gia tersenyum, ia sudah tidak sabar bertemu dengan Gilang yang selama 4 tahun ini hanya bertemu lewat panggilan video.


Gia mengangguk, ia berpamitan pada Gibran seorang karena nenek, kakek, dan pamannya sedang tidak di rumah.


"Berangkat dulu, ya, Pa." Jasmine mencium pipi Gibran dan mencium punggung tangannya.


"Kalian hati-hati!" pesan Gibran.


"Iya, Pa." Jasmine dan Gia menjawab kompak.

__ADS_1


***


Jasmine dan Gia sudah sampai di depan gerbang sekolah. Selama di perjalanan tidak ada obrolan sama sekali antara ibu dan anak itu.


"Kamu masih marah sama mama, Gi?" tanya Jasmine sebelum Gia keluar dari mobilnya.


Gia menatap Jasmine, ia tidak marah sama sekali dengan Jasmine, hanya saja ia terlalu kecewa dengan keputusan Jasmine 4 tahun lalu.


"Apa Gia punya alasan untuk marah sama, Mama?" Gia balik bertanya, wajah Jasmine berubah mendung dan menggelengkan kepala.


"Tapi, kenapa kamu dan semua orang mengabaikan mama, Gi?" Jasmine meneteskan air mata. Sungguh, ia sangat sedih dengan perlakuan semua anggota keluarga sekarang.


"Yang membuat kami abai itu Mama sendiri. Mungmin Mama punya alasan kuat ketika memilih menjodohkan Kak Gavin dengan Kak Syala. Tapi, apa Mama tahu kalau yang terluka karena keputusan itu bukan hanya Kak Gilang?"


"Maafkan, Mama!" Jasmine meraih tangan Gia dan menggenggamnya erat.


"Gia turun dulu, Ma. Bye, Ma." Gia menarik tangannya dari Jasmine, mencium pipinya kemudian langsung turun tanpa menjawab permintaan maaf mamanya.


Sebentar lagi Gia lulus SMA, tinggal menunggu pengumuman saja karena sudah melakukan ujian sekolah dan nasional.


***

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2