Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
CSJC : Chapter 107


__ADS_3

Detik demi detik berganti dengan menit dan menit berganti menjadi jam, jam menjadi hari dan tidak terasa dua hari telah berlalu. Gavin dan Gilang serta Jasmine sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah.


Barang-barang bawaannya juga sudah dikemas dan mungkin mobil mereka nanti akan penuh karena banyak sekali hadiah yang diberikan dokter dan perawat untuk bayi kembar mereka. Mereka duduk di kursi halaman rumah sakit sambil menunggu mobil yang menjemput mereka sampai.


Ketika Pak Mamat sudah sampai di rumah sakit. Jasmine langsung masuk ke dalam mobil bersama dengan anaknya, sedangkan Gibran membantu Pak Mamat memasukkan barang-barang ke dalam bagasi mobil.


Setelah selesai, Pak Mamat dan Gibran segera masuk ke dalam mobil dan siap melaju ke mansion tempat mereka tinggal.


"Yang, kamu tahu nggak kalau dua hari ini Gio jadi nakal banget?" Jasmine menggeleng, ia tidak tahu kabar Gio setelah dua hari yang lalu. Gibran tersenyum dengan wajah yang bodoh, jelas saja Jasmine tidak tahu karena ketika berada di rumah sakit, Gibran melarangnya memakai ponsel.


"Emang dia nakal gimana, Mas?" Jasmine menjadi penasaran, ia menatap Gibran dari samping.


"Dia setiap malam nangis kalau mau tidur, dia juga nggak mau ditinggal sama bunda walau cuma satu menit. Kemarin aja pas dia ditinggal sama bunda pergi ke taman sebentar dia nangis dan ngamuk guling-guling di lantai." Gibran bercerita dengan wajah yang sedih namun mulutnya malah tertawa, sungguh otak dan tubuh tidak sinkron sama sekali.


"Mungkin Gio sedang ingin disayang." Jasmine menebak, Gibran mengangguk namun beberapa detik kemudian langsung menggeleng tidak setuju.


"Kayaknya dia cemburu sama anak kita, Sayang. Kamu ingat nggak dua hari yang lalu pas Gio ikut bunda sama ayah ke rumah sakit, dia kan mau manja dan main sama kamu tapi kamu nggak bisa karena masih lemas sama harus ngurus anak kita?" Perkataan Gibran ada benarnya, Jasmine jadi merasa bersalah, wajahnya sangat sedih dan hatinya merasa tidak nyaman.

__ADS_1


"Dia pasti marah sama aku." Jasmine mengembuskan napas lemah, ia yakin jika bunda dan ayahnya sangat kerepotan mengurus Gio yang rewel, apalagi usia kedua mertuanya sudah tidak lagi muda. Bisa dibayangkan bagaimana lelahnya mereka mengurus Gio yang sudah sangat aktif.


"Bisa jadi itu, Neng. Den Gio sepertinya memang marah sama Neng Jasmine soalnya kalau ibu nyebut nama Neng Jasmine, Gio langsung ngamuk." Pak Mamat yang sejak tadi hanya menyimak sekarang angkat bicara.


"Masa sih, Pak?" Jasmine rasanya tidak percaya dengan perkataan Pak Mamat.


"Yang Pak Mamat katakan benar, Ma." Gibran membenarkan perkataan Pak Mamat.


"Aku hamil satu kali, melahirkan dua kali. Tapi, aku sekarang jadi ibu jadi tiga anak bayi." Jasmine tersenyum simpul, Gibran juga tersenyum, adiknya memang sangat dekat dengan Jasmine dan mungkin Gio kelak akan sulit akrab dengan keponakannya karena Gio akan meminta Jasmine memerhatikan dirinya.


"Gavin sama Gilang, kalian nanti kalau sudah besar harus sayang sama om kalian. Sekarang kalian juga harus sayang sama om kalian, nanti kalian main sama om, ya!" Jasmine mencium dahi putranya secara bergantian.


Saat mobil mereka telah memasuki halaman depan mansion. Jasmine dan suami serta anaknya sudah disambut oleh keluarga besar Satya dan juga Akbar, Jasmine merasa sangat bahagia ketika melihat Bayu dan Airin juga berada di sana.


Jasmine turun dari mobil dengan perlahan, Airin menghampiri Jasmin dan putranya langsung diambil alih Airin. Airin menggendong Gavin, sedangkan Gilang masih digendong Gibran.


"Mel, anak kamu lucu banget sih. Boleh aku bawa pulang nggak?" Airin terlihat sangat bahagia dengan kelahiran anak dari sahabatnya itu. Ia menciumi pipi Gavin dengan gemas sampai bayi itu menangis karena ulahnya.

__ADS_1


"Jelas lucu dong, bapaknya aja lucu." Gibran menepuk dadanya dengan bangga.


"Awas jangan sampai jatuh Gilang!" Jasmine memukul kepala Gibran karena hanya menahan tubuh Gilang dengan satu tangan.


"Galak banget sumpah!" Gibran langsung berlari untuk menghindari pukulan Jasmine.


"Welcome twin G!" teriak mereka semua saat Jasmine berjalan ke arah mereka.


Terlihat anak kecil merangkak keluar dari pintu dengan mulut menyesap empeng. Anak itu tidak lain adalah Gio yang ditinggal sendirian di dalam ketika semua orang dewasa hendak menyambut Jasmine.


Mata Gio memerah karena anak itu menangis dan dilupakan kedua orangtuanya.


Melihat Jasmine telah pulang, Gio langsung merangkak ke arah wanita itu dan langsung merentangkan tangannya minta digendong.


"Kakak nggak mau gendong kamu." Jasmine berjongkok di depan Gio dan menolak untuk menggendongnya. Tangan Jasmine mengusap kapala Gio yang gundul karena baru saja dipotong.


Gio melepas empeng-nya dan melemparkan tepat di wajah Jasmine. Tangisan anak itu terdengar memenuhi mansion karena sudah tidak ada lagi yang memerhatikan dirinya.

__ADS_1


***


Gio bakal jadi om yang baik apa nakal ya???


__ADS_2