Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
S2 : Duka Kehilangan


__ADS_3

"Dokter, bagaimana operasi putraku?" Gibran menatap dokter tajam.


"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun, Tuhan berkehendak lain." Dokter tersebut menghela napas panjang dan pelan, raut wajah sedih dan terkejut dari keluarga Gilang membuatnya ikut merasakan kesedihan itu.


Dulu, waktu Gilang lahir. Orang-orang menyambut dengan senyuman yang bahagia dan kini ketika Gilang kembali, hanya tangisan orang-orang yang bersedih karena kehilangannya.


Sejauh dan sebanyak apa pun manusia berusaha menjauh dari maut. Maut tidak akan bisa diundur walau satu detik, mungkin inilah yang terbaik dari Tuhan untuk Gilang, ingin membuatnya bahagia dengan jalan perpisahan.


"Maksud Dokter, kakakku meninggal?" Mata Gavin telah memerah dengan air yang terkumpul memenuhi pelupuk matanya, tangannya mengepal erat sampai mengeluarkan darah ketika kuku jari menancap pada telapak tangannya.


"Ya, pasien telah meninggal dunia." Seperti sebuah tamparan keras, hati semua keluarga tercabik-cabik mendengarnya. Bahkan, Gia yang berdoa agar koko-nya baik-baik saja kini mulai lemah, hatinya terasa sangat sesak dan dia seakan kehilangan oksigen yang memasok paru-parunya.

__ADS_1


Bruk!


Gia pingsan dan ambruk di pelukan mamanya. Gio yang berdiri tidak jauh darinya segera menggendong Gia yang tidak sadarkan diri ke ruang perawatan agar segera diperiksa oleh dokter. Setelah pemeriksaan selesai, dokter mengatakan kalau gadis itu kelelahan dan sangat shock dengan kabar yang didengarnya. Tubuhnya masih lemas dan matanya enggan terbuka, air terlihat mengalir dari sudut mata yang terpejam dengan damai itu.


Lima menit kemudian, ketika brankar tempat jenazah Gilang berbaringdidorong keluar dari ruang operasi untuk dipindahkan ke kamar jenazah, Gavin langsung menghentikan langkah perawat dan perawat pun membiarkan keluarga Gilang untuk melihatnya sebentar.


Dengan tangan bergetar dan air mata yang telah menganak sungai, perlahan tangan Gavin membuka kain yang menutup seluruh tubuh kakaknya. Gavin langsung memeluk tubuh kamu Gilang dan mencium dahi dan kedua mata kakaknya yang sudah terasa sangat dingin.


Hati Gavin sangat hancur, pikirannya kosong, suaranya seakan terdekat di tenggorakan dan dia sudah tidak mampu berkata-kata lagi. Tangisannya semakin deras dan penyesalan mulai melanda hatinya.


Gibran dan Jasmine menatap wajah Gilang yang sangat pucat dengan bibir Gilang membentuk sebuah senyuman tipis. Mereka berdua mengusap kepala Gilang dengan lembut, mencium dahinya dan mencoba untuk menerima kenyataan pahit ini walau sangat sulit untuk dilakukan.

__ADS_1


"Ma-mama be-l-lum sempat menebus semua kesalahan yang disengaja padamu. Ta-ta-tpi, kenapa kamu memilih untuk pergi meninggalkan mama terlebih dahulu, Sayang?" Air mata Jasmine menetes di wajah Gilang yang pucat.


Gibran menatap langit-langit rumah sakit dengan perasaan yang hancur. Dia mengingat semua kenangan indah bersama dengan putra pertamanya, senyuman yang selalu tulus, selalu mengalah dengan adik dan om-nya, tidak pernah mengeluh walau memiliki penyakit yang ganas, selalu menurut dan tidak menuntut banyak hal padanya.


Gilang adalah penyemangat Gibran ketika dalam keadaan terpuruk. Sejak kecil putranya itu memang lebih dekat dengannya daripada yang lain, jika ada orang yang merasa sangat kehilangan anak itu, maka Gibran lah orangnya.


"Aku akan menjadi orang yang suskes, membuat Papa dan Mama bangga dengan prestasi yang aku raih. Melindungi adik-adikku dan menjadi teman untuk mereka, mencintai mereka dengan nyawaku dan setiap embusan napasku selalu ada doa untuk kebahagiaan keluarga kecil kita," ucap Gilang seraya memeluk Gibran yang sedang bersedih karena merindukan Gia yang tidak mau pulang dari rumah Nenek Ayu dan Kakek Akbar.


Namun, semua perkataan itu hanya sebagian yang bisa dilakukannya. Masih banyak dari perkataan itu yang belum dilakukan olehnya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2