Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
S2 : Kecewa


__ADS_3

Terjadilah aksi kejar-kejaran adik dan kakak yang berbeda usia tiga tahun itu. Gavin bahkan sampai kelelahan karena tidak berhasil menangkap adik perempuannya, perutnya juga sudah berkedut sakit sebelah seperti yang biasa terjadi pada beberapa orang yang lari.


Gavin membungkuk dengan kedua telapak tangan memegang lutut, wajahnya menatap ke depan di mana Gia berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada dan mata menatap Gavin penuh ledekan.


"Cowok kok lemah, pantesan sampai sekarang masih jomblo. Eh, tapi kalau gak salah Bang Gavin banyak yang suka ya? Apa cewek-cewek itu matanya rabun atau malah katarak sampai suka sama cowok yang Banyak Gavin?" Walaupun, Gia jarang bertemu dengan kakak-kakaknya, tetapi semua yang dilakukan oleh kakaknya Gia pasti tahu. Gia dengan senyum sinis pada Gavin.


"Yang rabun mata kamu, Dik. Awas aja kamu!" Gavin berdecak kemudian pergi ke dapur untuk mengambil air putih, rasa haus menguasai dirinya sekarang.


"Mau ke mana, Bang?" tanya Gia penasaran.


"Ke hatimu," jawab Gavin santai.


"Hoek, amit-amit jabang bayi." Gia mengetuk dahi kemudian meja sebanyak tiga kali.


"Idih, sok cantik!" teriak Gavin yang sudah sampai dapur.


"Emang aku cantik, kalau aku tampan nanti cewek-cewek pada naksir." Gia menanggapi dengan santai.


"Ngapain kamu di sini?" tanya Gio pada Gia yang berdiri di dekat meja dengan napas sedikit tidak beraturan.


Mendengar ada seseorang yang bertanya padanya, Gia langsung menatap ke belakang dan mendapati Gio sedang berjalan dengan kedua tangan tersimpan di saku celananya. Gia menatap Gio dari atas sampai bawah kemudian menutup mulut menahan tawanya. Bukannya terpesona dengan gaya Gio yang keren, ia malah tertawa karena melihat om-nya memakai setelan piyama berwarna pink dan parahnya bergambar hello kitty.


Gio yang melihat Gia tertawa terlihat tidak peduli, Gio tahu apa yang membuat keponakannya itu tertawa. Gio terus berjalan kemudian duduk di kursi yang dekat dengan Gia.


"Kalau mau ketawa jangan ditahan!" ucap Gio datar.


"Pffttt, hahaha ... ini om-nya siapa sih, udah jadi mahasiswa tapi lucu banget. Imut-imut ... eh amit-amit. Duh ... jadi gemeeees." Gia mengapit kedua pipi Gio kemudian menggerakkannya ke kanan dan ke kiri dengan pelan.


"Ketawa terus!" ucap Gavin sinis.


"Sirik amat sih jari orang, aku kirim ke NASA biar di buang ke Jupiter," ucap Gia menatap tajam kakaknya.


"Idih, sok yes." Gavin mengacungkan jadi tengah pada Gia kemudian berlari kencang ke lantai dua.


Gia memang tidak jadi ke kamar karena tidak sempat masuk dan Gavin terus mengejar hingga akhirnya mereka turun ke lantai satu.


Gio membiarkan saja Gia melakukan itu, setelah Gia puas. Gia pun melepaskan tangannya dari Gio kemudian menarik kursi dan duduk di depan Gio.


Gio mengusap pipinya yang terasa pegal karena ulah Gia tadi. Gio menatap Gia yang sedang menatapnya penuh selidik.

__ADS_1


"Om," panggil Gia tegas.


"Kenapa? Mau tanya apa kamu sama om?" Gia tersenyum ketika Gio tahu kalau dirinya akan bertanya.


"Kenapa sikap Bang Gavin berubah? Om juga, dulu bukannya kalian gak suka sama Koko Gilang?" Pertanyaan itu menusuk sampai ke bagian terjauh hati Gio.


Gio menunduk, sikapnya di depan dan di belakang Gio sangat berbeda. Di belakang selalu menjadi sosok pelindung, sedangkan di depan jadi sosok yang tidak peduli.


"Om gak ngasih tahu kamu pasti kamu juga bakal sendiri." Jawaban Gio membuat Gia tersenyum lebar.


"Jangan jahat sama Koko Gilang ya, Om. Kalau mau jahat sama Bang Gavin aja, kalau perlu lempar aja ke laut, ngeselin banget habisnya dia." Gio mengacak rambut Gia dengan gemas.


"Jahat banget sama abang sendiri," sindir Gio halus.


"Lah, kalian lebih jahat karena ingin Koko Gilang pergi selamanya." Gio kalau telak, ia tidak bisa membalas perkataan Gia.


"Tidur, gih! Sudah malam," perintah Gio lembut, ia beranjak dari duduknya kemudian mencium dahi Gia dan meninggalkannya ke dapur.


"Gak ngerti aku sama perasaan cowok," ucap Gia yang bingung dengan hubungan kakak-kakaknya dan om-nya.


***


"Ma, aku sama Koko Gilang mau pergi ke taman, ya!" ijin Gia setelah selesai sarapan.


"Mau ngapain ke sana? Kakak kamu belum boleh banyak gerak, mama gak mau dia kelelahan dan drop," ucap Jasmine tegas, ia menatap Gia dan Gilang bersamaan.


"Mau ketemu sama seseorang, Ma. Gia sudah membuat janji," jawab Gia jujur.


"Nanti kakak kamu sakit, dia bukan karena orang sehat, Gia."


"Sebentar doang kok, Ma. Mungkin tiga puluh menit," ucap Gia masih sopan.


"Gak boleh, kakak kamu gak boleh pergi," ucap Jasmine dengan suara yang sedikit meninggi.


"Terus Mama mau mengurung Koko Gilang di rumah terus? Orang sakit butuh refresing, Ma." Gia mencoba memberi alasan agar diizinkan pergi.


"Kita bisa pergi lain kali, sekarang kalau main di rumah aja gak apa-apa, Dik." Gilang memang tersenyum sekarang, tapi senyuman penuh kesedihan karena wajahnya saja tidak enak untuk dipandang.


"Kasih izin aja, Kak. Lagian gak setiap hari juga, 'kan?" ucap Gio yang tidak tega melihat kesedihan Gilang dan Gia.

__ADS_1


"Tetap gak boleh," jawab Jasmine tegas.


Ranti dan Satya tidak mau ikut campur, sebenarnya mereka juga kasihan dengan Gilang, tapi Jasmine adalah ibu dari mereka dan lebih berhak mengatur anak-anaknya.


"Pa, boleh?" Gia sekarang menatap Gibran dengan sendu, papanya tidak mungkin tidak mengizinkan.


"Kalau papa sih bo-"


"Kalau Papa ngizinin, nanti malam Papa tidur di luar," sela Jasmine memotong ucapan suaminya.


Gibran menelan ludahnya susah payah, ia tidak mau kalau disuruh untuk tidur di luar kamar.


"Lain kali saja, ya, Sayang?" Gibran tersenyum manis pada Gia dan terpaksa tidak mengizinkan.


Gia melirik Gilang yang menundukkan kepalanya, ia tahu jika Gilang sekarang sedang kecewa karena tidak mendapat izin. Tapi, yang lebih kecewa di sini adalah dirinya karena gagal mempertemukan Gilang dan Syala yang sudah membuat janji dengannya akan bertemu di taman pagi ini.


Gia mengambil gelas di meja kemudian meminum isinya sampai habis.


"Aku ke kamar dulu," Gilang meninggalkan ruang makan dan berjalan cepat ke lantai dua.


"Pa, besok anterin Gia pulang ke rumah Nenek Ayu!" pinta Gia dengan suara lemah penuh rasa kecewa.


Dia tidak bermaksud membangkang, hanya saja ia tahu kalau akan sulit mendapat kesempatan selain hari ini karena Syala akan pergi ke luar kota ikut papanya yang pindah rumah karena pekerjaannya.


"Kamu masih punya waktu dua minggu di sini, Sayang," ucap Jasmine yang hanya dibalas tatapan datar Gia.


"Gia sudah membuat janji sama seseorang, dan Gia jadi orang munafik karena tidak bisa menepati janji Gia." Gia meninggalkan mereka dan memilih untuk menyusul Gilang yang mungkin sudah sampai di kamarnya.


Maafin Gia ya Allah. Gia terlalu terburu-buru membuat janji dengan seseorang tanpa melihat situasi dulu.


***


"Aku sadar kok kalau bukan orang yang sehat. Tapi, kenapa sakit rasanya saat mendengar mama mengatakan ini?" Tidak terasa air bening memenuhi kelopak mata Gilang.


***


Maaf ya kalau telat up dan kemarin pendek, nulis butuh mood yang baik dan kebetulan kemarin sama hari ini mood aku lagi gak bersahabat. Jadi, mau nulis rasanya malas karena ide di otak gak bisa asal ditulis di sini.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2