
Gibran masih berada di ruang dokter membahas kondisi Gilang yang dalam masa pemulihan. Dokter menjelaskan dengan sangat detail tentang keadaan Gilang saat ini.
"Putra Anda akan pulih setelah 3-12 bulan setelah operasi atau bisa lebih lama dari itu. Beberapa faktor yang membuat pemulihan semakin lama misalnya, kecocokan genetik antara donor dan resipien, intensitas radioterapi, atau kemoterapi yang diterima pasien, dan kondisi kesehatan pasien secara umum," jelas dokter tersebut seraya menggerakkan tangannya.
"Apa anak saya harus dibawa kontrol ke rumah sakit?" tanya Gibran seraya menatap lekat dokter tersebut.
"Ya, karena Gilang baru satu bulan dioperasi, dia harus dibawa kontrol satu minggu satu kali karena kami harus selalu melihat perkembangan kondisi setelah operasi," jawab dokter ramah.
"Baiklah," jawab Gibran.
"Selama satu tahun ke depan, jangan biarkan putra Anda beraktivitas terlalu berat dan usahakan tidak banyak bergerak dulu agar pemulihan bisa semakin cepat," terang dokter lagi.
Gibran mengangguk setuju. Setelah selesai, Gibran langsung berpamitan pada dokter.
"Terima kasih atas bantuan, Anda, Dok. Saya permisi," pamitnya.
"Kembali kasih, Tuan." Dokter tersenyum dan mengantarkan Gibran sampai di luar pintu.
Gibran menghampiri Gio dan Gilang yang masih menunggunya di ruang rawat inap. Gibran tersenyum melihat Gio perhatian dengan putranya.
"Anak-anak, ayo kita pulang!" ajaknya dengan semangat.
"Pa, Gilang boleh mampir ke suatu tempat dulu, gak?" tanya Gilang dengan sedikit ragu, jari tangannya meremas ujung baju yang ia pakai untuk menutupi rasa gugupnya.
Gibran menatap Gilang penuh arti, Gio bertanya-tanya dengan perbuatan Gibran saat ini.
"Lain kalau aja, Gi! Sekarang kamu masih sakit dan papa tidak mau kamu semakin parah," larang Gibran, ia melihat wajah Gilang langsung muram.
Gilang mengangguk sedih, dirinya sangat ingin pergi, tapi ... baiklah, ia akan menurut pada Gibran.
"Iya, Pa," jawab Gilang tidak bersemangat.
"Kalau sudah sembuh nanti kamu boleh pergi ditemani Gio," ucap Gibran seraya mengelus puncak kepala Gilang lembut.
Gilang hanya mengangguk pasrah. Gio tersenyum memahami apa yang dirasakan Gilang saat ini.
"Kamu mau ketemu sama orang yang ngirim surat?" bisik Gio.
"Sok tahu," ucap Gilang mengelak.
__ADS_1
"Memang aku tahu," jawab Gio dengan bangga.
Gilang memutar bola matanya tidak peduli, sangat menyenangkan memiliki seseorang yang mau menganggu dirinya. Selama ini mungkin dirinya selalu menutup diri hingga merasa kesepian tanpa seseorang yang mau menemani kecuali 'dia'.
Ah, kenapa Gilang jadi teringat tentang 'dia' sekarang?
"Bisa kita pulang sekarang?" tanya Gibran ramah seraya menatap Gio dan Gilang bergantian.
"Tunggu, Pa! Ada yang tertinggal," ucap Gilang dengan wajah yang sangat serius.
"Apa yang ketinggalan?" tanya Gibran dan Gio bersamaan.
"Jejak kaki." Gilang terkekeh melihat wajah Gibran dan Gio yang langsung berubah ekspresi.
"Di lantai, kaki gak ada jejaknya," ujar Gibran sembari menatap Gilang tajam.
Gilang kembali terkekeh, sekali-kali ia bercanda tidak masalah, 'kan?
Kursi roda Gilang didorong dengan pelan oleh Gio. Mereka bertiga menuju parkiran tempat di mana mobil Gibran berada. Gilang sangat ingin segera sampai di rumah karena sudah merindukan mama, kakek, dan neneknya.
Sesampainya di parkiran, Gilang langsung masuk dan duduk dengan nyaman di kursi belakang bersama Gio, sedangkan Gibran duduk di depan sendiri dan menjadi sopir untuk mereka.
"Akhirnya pulang juga," gumam Gilang sangat bahagia.
"Sangat," jawab Gilang singkat dan jelas.
***
Jasmine menemani Gavin di kamar karena sejak kemarin malam putra keduanya itu tidak mau ditinggal. Kebanyakan orang sakit pasti akan sangat manja, begitu juga dengan Gavin saat ini.
"Vin, hari ini kakak kamu pulang. Kamu gak mau sembuh?" Jasmine berbaring miring di samping Gavin seraya mengusap kepalanya.
Gavin hanya bisa menggeleng lemah, untuk bicara ia tidak memiliki cukup tenaga. Rasanya sangat tidak nyaman ketika sedang sakit seperti sekarang, semua badan terasa lemas, makanan terasa hambar dan pahit, dan masih banyak lagi.
Tangan kiri Gavin memeluk tubuh Jasmine erat, sedangkan kepalanya bersandar di dada Jasmine. Pelukan seorang ibu adalah pelukan ternyaman yang tidak akan pernah dirasakan ketika memeluk orang lain, Gavin sekarang tertidur pulas dalam dekapan hangat mamanya.
"Kalian kembar, apa-apa selalu sama ketika masih kecil, tapi sekarang semua telah berubah. Mama harap kamu dan Gilang cepat sembuh, adik kalian pasti sangat sedih melihat kalian yang seperti sekarang," ucap Jasmine lembut walau sudah tidak didengar putranya.
Jasmine mendengar suara mobil milik suaminya, perlahan Jasmine melepaskan pelukan Gavin dan mencium dahinya lembut.
__ADS_1
Jasmine turun dari ranjang kemudian berjalan pelan keluar dari kamar Gavin, tidak lupa Jasmine menutup pintu kamar dengan sangat pelan karena takut Gavin akan terbangun.
Jasmine berjalan cepat menuruni tangga dan berlari keluar rumah setelah ia sampai di lantai satu.
Jasmine melihat Gilang duduk di kursi roda dan Gio mendorongnya. Jasmine menghampiri mereka seraya tersenyum lembut.
"Selamat datang kembali di rumah, Sayang." Jasmine mencium seluruh wajah Gilang lembut, Gilang hanya tersenyum tipis.
Mereka pun masuk ke rumah, rupanya Ranti dan Satya sudah menunggu mereka dan saat mereka masuk Ranti langsung menghampiri.
"Kak, Gavin di mana?" tanya Gio.
"Di kamar, dia lagi tidur sekarang," jawab Jasmine lirih.
***
Gavin tidak merasa ada seseorang selain dirinya di kamar. Ia membuka mata dan benar saja Jasmine sudah pergi, saat sakit Gavin menjadi sangat manja dan harus selalu dekat dengan Jasmine.
"Ma," panggil Gavin lirih.
Merasa tidak ada sahutan, Gavin beranjak turun dari ranjang dan dengan mata yang berkaca-kaca Gavin berlari mencari Jasmine. Gavin mendengar suara Jasmine di lantai satu sehingga ia langsung berlari turun, mungkin karena tubuhnya masih sangat lemas, saat ia hampir sampai di lantai satu kalau berhasil berpijak pada dua anak tangga, ia malah terpeleset dan terjatuh.
Kakinya keseleo tapi ia tidak peduli, dengan langkah pincang ia berjalan mencari Jasmine dan langsung memeluknya ketika sudah bertemu.
"Ma-mama," panggilnya lirih, air bening yang terasa panas sudah mengalir di wajahnya.
Jasmine tersentak ketika Gavin memeluknya, Jasmine yang sedang berdiri di depan Gilang langsung berbalik dan balas memeluk Gavin erat.
"Kenapa bangun?" tanya Jasmine lembut.
"Mama." Hanya jawaban itu yang selalu keluar dari mulut Gavin.
"Eh-eh?" Jasmine merasakan tubuh Gavin semakin berat.
Brukkk!
***
Resipien ( penerima pada transplantasi organ atau pada fungsi transfusi darah)
__ADS_1
Radioterapi (Radioterapi atau disebut juga terapi radiasi adalah terapi menggunakan radiasi yang bersumber dari energi radioaktif atau dibangkitkan oleh Linear Accelerator)
Kemoterapi adalah penggunaan zat kimia untuk perawatan penyakit.