
🍁Aku ceritakan sedikit kisah Jasmine dulu yang nantinya akan berhubungan dengan kisah cinta Jasmine dan Gibran. Jadi, kalau ada yang kangen sama si somplak, sabar dulu, ya!🍁
"Tapi, tante mau bertemu dengan Jasmine sekarang juga." Ayunda membentak Airin karena malah menyuruh dirinya pulang.
"Tapi, Tante lihat sendiri, kan? Kalau Melati sekarang belum siap untuk bertemu dangan Tante. Aku mohon sama, Tante, tolong jangan membuat masalah ini semakin susah diselesaikan." Airin masih tetap kekeh meminta orangtua Jasmine pulang.
"Kamu itu masih anak kecil, tidak tahu masalah orang tua, kamu diam saja. Tante ke sini hanya mau meminta Jasmine untuk pulang, tante hanya mau meminta maaf kepada anak tante, itu saja." Airin terhenyak sesaat, benarkah yang Ayunda katakan itu, apa benar jika dia ke sini untuk meminta maaf kepada sahabatnya, benarkah dia akan meminta sahabatnya kembali ke rumah? Pertanyaan-pertanyaan itu hanya ada di benak Airin saja.
"Besok Tante Ayu bisa datang lagi ke sini, sekarang biarkan Airin yang membujuk Melati." Airin masih belum sepenuhnya percaya dengan tujuan Ayunda dan Akbar, selama ini yang Airin tahu, orangtua Melati itu sangat pemaksa dan tidak akan pernah mau dibantah. Semua yang mereka inginkan harus tercapai, termasuk perjodohan Jasmine dengan anak dari sahabat Akbar.
"Tapi, Airin, Tante-"
"Baiklah, Nak Airin. Kalau begitu, kami akan pulang dulu. Kamu tolong bujuk Jasmine ya." Akbar menarik tangan Ayunda agar segera pergi dari rumah Airin. Awalnya, Ayunda menolak namun, saat suaminya berbisik di telinganya akhirnya dia mau pulang juga.
"Sudahlah, Bu! Biarkan Airin yang membujuk putri kita, jika kita memaksa Jasmine lagi, anak itu mungkin malah tidak akan mau pulang dan rencana yang telah kita susun akan hancur," bisik Akbar, hal itu tidak luput dari perhatian Airin. Airin merasa curiga dengan mereka namun, dia bersikap seakan-akan tidak tahu apa-apa.
"Iya, Om. Hati-hati!" Airin tersenyum.
__ADS_1
"Ayah, Ibu. Ridwan masih ingin di sini, boleh?" tanya Ridwan yang sebetulnya adalah permintaan izin.
"Kamu mau ngapain di sini?" Ayunda menatap tajam putranya.
"Aku kangen sama Jasmine, siapa tahu nanti aku bisa bujuk Jasmine." Ridwan memberikan alasan palsu, karena dia tidak akan membujuk Jasmine pulang karena dia tidak mau jika Jasmine tersiksa karena perjodohan orangtuanya.
"Tidak bisa, kamu ikut kami pulang," jawab Ayunda tidak memberikan izin.
"Tapi, Bu-"
"Ya, sudah. Tapi, ingat harus pulang nanti!" Ayunda menepuk bahu putranya yang tersenyum senang karena mendapat izin.
"Iya, Bu."
Setelah orangtua Jasmine pergi, Airin menatap tajam pada Ridwan yang tersenyum padanya.
"Kakak mau bertemu dengan Melati, kan?" tanya Airin sedikit ketus karena kesal mereka telah membuat keributan dan membuat Jasmine kesal.
__ADS_1
"Em, iya. Tolong buka pintu kamar Jasmine!" pinta Ridwan masih tetap bertahan dengan senyumannya.
Dia ini gila, apa? Tersenyum terus tidak jelas, jangan-jangan dia senyum karena suka sama aku?
Airin menduga dengan sangat percaya diri. Namun, dugaannya itu mungkin tidak salah.
"Jasmine, buka pintunya dong! Mak Lampir sama Pak Mampir udah pergi." Airin berteriak cukup keras, Jasmine yang sedang menangis terisak di balik pintu langsung tersenyum mendengar suara Airin yang menjuluki orangtuanya sebagai Lampir.
Ridwan yang semula tersenyum langsung memasang wajah datar seakan tidak terima dengan perkataan Airin yang menjuluki orangtuanya dengan julukan seperti itu.
Anak ini benar-benar berani, bahkan dia mengatakan itu di depan diriku. Dia tidak takut apa jika aku marah?
Ridwan menepuk bahu Airin sampai gadis itu berbalik dan mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa?" tanya Airin ketus.
"Kamu bilang orangtua kakak Lampir, kamu tidak takut kakak marah sama kamu?" Ridwan menatap dalam mata Airin, tatapan itu menyeramkan bukan menenggelamkan seperti biasanya.
"Memang Kakak Tuhan sehingga aku harus takut dengan, Kakak?" Airin tidak peduli, toh Ridwan manusia bukan Tuhan yang pantas dia takuti.
__ADS_1