
Mereka berdua tidur lelap dan sama-sama bermimpi indah, hanya mereka dan Tuhan yang tahu apa yang mereka mimpikan.
Pagi harinya, Jasmine bangun lebih dulu dari Gibran. Waktu subuh masih lama tapi Jasmine tidak bisa untuk tidur lagi, yang bisa dia lakukan sekarang hanya memainkan jarinya di dada telanjang suaminya yang sejak malam tadi benar-benar menjadi suami yang sesungguhnya.
Gibran menahan tangan Jasmine dan mengigit jarinya karena dia merasa geli dengan apa yang dilakukan sang istri. "Geli, Sayang. Kamu mau minta lagi?" Gibran berbicara dengan mata yang masih tertutup.
"Kok kamu juga bangun?" Jasmine mengamati wajah tampan suaminya yang sangat tampan menurut dirinya.
"Kenapa memangnya kalau aku bangun?" Gibran malah balik bertanya sambil tersenyum tampan yang membuat jantung Jasmine disko karenanya, Jasmine memegangi dadanya saat merasakan detak jantungnya yang semakin lama semakin cepat, dia tersenyum dan langsung mencium pipi suaminya dengan perasaan gemas dan wajah yang sudah memerah malu.
"Kamu itu kebiasaan banget, Mas. Kalau ditanya malah bertanya balik. Jantung aku rasanya mau lepas dari rongga dada kalau lihat senyum kamu yang manis." Jasmine menggeliat geli dan segera menjauhkan tangan Gibran yang sudah bergerak nakal di balik selimut yang menutupi tubuh mereka berdua.
"Sayang, biarin tangan aku main. Kamu kan tidak akan rugi di ehem-ehem sama suami setampan diriku." Gibran memohon dengan mata yang imut, Tuhan ... Jasmine tidak akan pernah bisa menolak jika suaminya sudah seperti ini. Namun, Jasmine berdecak kesal saat mendengar ucapan suaminya yang narsisnya memang sudah kelewatan.
Huft ... Jasmine mengembuskan napas pasrah. Toh, dia tidak akan berdosa karena yang melakukannya adalah suaminya sendiri yang sudah halal. Jasmine juga sangat bahagia karena wajah Gibran yang tampan mungkin akan membuat dirinya memiliki anak-anak yang tampan dan juga cantik kelak.
"Ya udah deh, Mas. Mas boleh minta jatah sama aku, tapi pelan-pelan aja karena aku masih merasa sakit." Jasmine tersenyum, Gibran memeluknya dan menghujaninya ciuman bertubi-tubi.
"Gitu dong, Sayang. Em ... kamu kalau punya anak mau baby boy or baby girl?" Gibran menatap lekat mata istrinya.
"Laki-laki atau perempuan bakal aku terima, Mas. Karena mereka darah daging aku sama kamu." Gibran mengangguk setuju dengan istrinya.
"Mau punya berapa anak?" tanya Gibran lagi, kali ini dia sudah berada di atas tubuh sang istri dan mulai melakukan aksinya dengan lembut.
"Berapa pun yang Tuhan kasih aku terima, aku pengen banget punya anak laki-laki sama perempuan. Tapi, untuk kelamin anak pertama, aku nggak mau pilih-pilih." Jasmine berkata dengan sungguh-sungguh. Toh, di mata Jasmine anak laki-laki dan perempuan itu sama saja.
__ADS_1
"Aku pengen punya anak tiga," ucap Gibran dengan suara yang sudah serak karena miliknya kini sudah berada di dalam milik istrinya tanpa apa-apa.
"Maaasss." Jasmine berteriak kesal karena perbuatan suaminya itu, kesal karena Gibran menyatukan tubuh mereka dengan sedikit kasar padahal tadi sudah janji untuk pelan.
"Kenapa?" Sumpah demi apa pun, Jasmine rasanya ingin memukul wajah suaminya yang terlihat sangat menyebalkan sekarang. Jasmine mengigit bahu Gibran dan meninggalkan bekas luka yang cukup parah di sana, tapi Gibran tidak mempedulikan itu karena Gibran malah semakin mempercepat ritme permainannya.
Desahan Jasmine semakin menjadi karena Gibran bermain sesuka hatinya sendiri. "Sakit," rintih Jasmine dengan wajah lelahnya.
"Tahan sebentar lagi, Sayang. Aku sudah mau sampai ... Aargght." Gibran terkulai lemas di atas tubuh istrinya yang sudah pingsan. Pingsan? Iya, Jasmine pingsan karena tidak bisa mengimbangi permainan Gibran yang brutal menurutnya.
***
Sudah hampir tujuh hari mereka di Paris, dan 4 hari di awal hampir setiap malam mereka melakukan hubungan suami istri. Kenapa bisa begitu? Kalian pasti sudah tahu penyebabnya. Jawabannya adalah karena mereka ke Paris memang berniat untuk bulan madu agar cepat punya anak. Namun, tiga hari terakhir ini mereka tidak lagi berhubungan, bukan maksud Jasmine untuk menolak melayani Gibran, namun dia sakit karena kelelahan dengan aktivitas yang mereka lakukan di atas ranjang, yang membuat tenaganya terkuras habis.
Mungkin, kalau Gibran tidak melakukannya dengan brutal, dalam satu minggu ini mereka sudah melakukan sekitar 21 kali. Bulan madu yang seharusnya indah malah jadi hancur karena sakitnya Jasmine.
"Pulang besok aja nggak apa-apa kok, Mas. Aku sudah agak mendingan." Jasmine memeluk erat suaminya, tangannya tidak mau lepas barang satu detik saja kecuali saat-saat mendesak.
"Maaf, ya, Sayang. Ini semua gara-gara aku, kalau setiap malam itu aku nggak berbuat brutal pasti kamu nggak akan sakit kaya gini." Tidak disadari oleh Gibran, penyesalannya membuat air matanya jatuh begitu saja, rasa bersalah pada istrinya begitu besar hingga dia tidak pernah merasa tenang.
"Kok nangis? Jangan nangis dong, Mas! Gantengnya hilang kalau nangis." Jasmine terkekeh merasa kasihan dengan suaminya yang sejak kejadian malam itu terus meminta maaf padanya. Diusapnya air mata Gibran dengan ibu jarinya lalu Jasmine mencium dua mata Gibran yang masih terus mengeluarkan air mata dengan deras.
"Pulang minggu depan, ya!" ucap Gibran di sela-sela tangisnya.
"Nggak mau, aku rindu sama Gio, Mas." Mata Jasmine berkaca-kaca karena sudah sangat rindu dengan adiknya yang gembul itu.
__ADS_1
"Pikirkan kesehatanmu, kalau kamu pulang dalam keadaan sakit seperti ini, kamu kira ayah sama bunda bakal ngizinin kamu ketemu Gio?" Perkataan Gibran membuat Jasmine terdiam dan menunduk sedih, Jasmine tahu jika mertuanya pasti tidak akan mengizinkan dia bertemu dengan adiknya. Bukan karena takut Gio ketularan, tapi karena tidak mau membuat Jasmine semakin sakit.
Jasmine melepaskan pelukan suaminya lalu dia berjalan turun dari ranjang menuju ke kamar mandi. "Kamu mau ngapain?" Gibran masih saja khawatir dengan istrinya.
"Mau pipis," jawab Jasmine singkat.
"Mau mas temani?" Gibran menawarkan diri untuk membantu.
"Enggak usah." Jasmine segera berlalu masuk ke kamar mandi.
Lima menit kemudian, Jasmine sudah kembali dari kamar mandi dan langsung kembali naik ke ranjang untuk meminta pelukan dari Gibran. Gibran dengan senang hati memeluk istrinya.
"Mas punya uang koin nggak?" Pertanyaan Jasmine membuat Gibran mengerutkan dahinya.
"Punya, mau buat apa sih?" Gibran merapikan rambut Jasmine yang menutupi wajah cantiknya.
"Aku mau minta dikerokin aja, Mas Gibran ambil lotion di tas make up aku!" perintah Jasmine.
Gibran mengiyakan, dia turun dari ranjang dan mengambil lotion, setelah itu, dia mengambil uang koin yang berada di dompetnya dan menyuruh Jasmine melepaskan pakaian yang dia pakai lalu menyuruh istrinya untuk tidur dengan posisi tengkurap agar memudahkan dia melakukan tugasnya.
Jasmine segera melakukan apa yang suaminya perintahkan, Jasmine sesekali tertawa saat merasa geli karena kerokan suaminya di bagian pinggang. Namun, itu tidak membuat Gibran berhenti, dan dalam waktu 10 menit saja, punggung Jasmine sudah bertato merah motif kerangka.
Setelah selesai, Jasmine memakai pakaiannya kembali dan tidur dengan harapan, jika dia bangun nanti dia akan kembali sehat sehingga akan bisa pulang dengan cepat ke Indonesia.
***
__ADS_1
Lanjut, apa udah ya?