
"Nggak bisa, sana turunin dulu di kamar mandi!" Ranti memiringkan tubuhnya saat suaminya bangun dan duduk.
"Nggak mau, Bunda. Ayah mau bobok aja." Satya ikut berbaring miring dan memeluk istrinya dari belakang. Tangan Satya mengusap perut Ranti sambil tersenyum simpul karena masih tidak percaya jika istrinya hamil lagi.
Ranti membalikkan tubuhnya lalu mencari posisi nyaman dengan menelusupkan wajahnya di dada bidang Satya yang masih telanjang dan mengabaikan sesuatu yang menyentuh pahanya di bawah sana.
Satya semakin mengeratkan pelukannya, walaupun tidak bisa berbuat itu pada istrinya, setidaknya dia bisa merasakan hangatnya pelukan istri yang waktu muda dulu sangat sulit dia dapatkan cintanya.
***
Dua bulan kemudian
Jasmine POV.
__ADS_1
Aku benar-benar tidak bisa berpikir saat melihat Gibran mendatangiku di markas rahasia. Yang lebih parah lagi, dia menculik diriku dengan caranya yang sangat tidak etis. Dia tiba-tiba datang dan memakai sebuah jas pengantin berwarna putih lalu menyuruh diriku untuk memakai kebaya yang dia bawa. Gibran mengatakan pada semua anggota kelompok rahasia jika aku ini calon istrinya yang kabur karena takut menghadapi malam pertama.
Kalian tahu apa yang terjadi setelah Gibran mengatakan hal yang tidak pernah terjadi itu pada teman-temanku? Kalian pintar, teman-temanku meledek diriku yang katanya takut dengan malam pertama. Banyak di antara mereka yang sudah menikah sehingga pernah merasakan nikmatnya surga dunia itu.
"Haha, Jasmine. Kamu takut? Kau akan minta tambah dan tidak mau berhenti jika kamu sudah merasakannya." Ingin kusumpal mulut temanku itu dengan sepatu yang aku gunakan untuk menginjak *** ayam.
"Kau tahu, Jasmine? Istriku dulu bahkan membuat diriku sampai tidak bisa bangun dari tempat tidur karena dia tidak merasa cukup dengan apa yang aku lakukan sehingga dia mengambil alih pekerjaanku." Temanku yang satu ini mungkin memang sudah siap untuk kehilangan burungnya karena sudah mengumbar hal yang seharusnya hanya menjadi rahasia dia dan istrinya.
Apa aku boleh berkata jika dia itu gila? Aku tidak butuh izin dari kalian karena kalian pasti akan setuju dengan perkataanku. Aku benar, 'kan?
Aku menatap Kak Ridwan yang malah tersenyum sambil mengacungkan dua jempol ke arahku. Hah, apa dia sudah tidak sayang lagi terhadap diriku sampai dia lebih mendukung laki-laki yang sama sekali tidak ada hubungan darah dengannya. Kakakku ini benar-benar minta disunat untuk yang kedua kalinya sampai habis.
Gibran membawa diriku masuk ke dalam sebuah kamar yang membuat diriku langsung menganga. Kamar ini adalah kamar milik pemimpin kelompok rahasia yang aku ikuti, jadi aku bisa menyimpulkan pasti Gibran adalah pemimpin rahasia yang selama ini menyembunyikan identitasnya.
__ADS_1
Gibran melempar diriku ke ranjang besar yang empuk dan nyaman. Dia menindih tubuhku dan melepas semua pakaian yang aku pakai dan hanya menyisakan celana dalam serta bra yang aku pakai. Malu dan marah, tentu saja aku sangat malu dan marah karena merasa diriku tidak dihargai sebagai perempuan.
Dia memaksa diriku untuk memakai kebaya yang tadi dia berikan untukku. Baiklah, mungkin Tuhan memang menakdirkan Gibran menjadi jodoh diriku.
Aku sudah memakai pakaian yang senada dengan dirinya. Dia membawaku ke KUA dan aku melihat di sana sudah ada orangtuanya dan juga orangtuaku. Perlu kalian tahu, aku sudah dirias dengan riasan natural tapi membuat aku terlihat anggun di mata semua orang.
Aku sempat ingin tertawa saat dia melamar diriku dengan cincin yang dia buat dari barang bunga ilalang. Dia berjanji akan mengganti dengan cincin berlian setelah kita menikah nanti. Aku juga cukup terkejut saat aku melihat Airin duduk di kursi menjadi saksi pernikahanku dengan pria yang sekarang sedang berjabat jangan dengan ayahku.
Aku tidak terlalu fokus pada semua hal yang terjadi sekarang, sampai sorak suara yang mengatakan kata sah terdengar dengan jelas di telingaku. Aku dan dia menandatangani buku nikah milik kita, dan resmilah aku menjadi istrinya di mata agama dan negara.
Aku tidak ingin menceritakan detail pernikahanku degannya. Yang aku ingin katakan sekarang adalah.
"Mas, jangan melakukan hubungan suami istri dengan diriku karena aku belum siap."
__ADS_1
Author POV
Gibran menikah dengan Jasmine melewati batas waktu yang telah Ranti tentukan yaitu, satu bulan. Namun, Ranti tidak mempermasalahkan itu karena dia sudah cukup bahagia saat Jasmine lah yang menjadi menantunya.