
"Ayah, Gio jangan dimarahin! Kasihan dia sampai nangis gitu." Jasmine kembali menggendong Gio dan mengusap punggung anak itu agar tidak menangis. Namun, tangisan Gio malah semakin kencang membuat semua orang merasa terganggu karena tangisannya yang keras.
"Ayah cuma nasihatin dia, Jasmine." Satya merasa bersalah karena membuat putranya menangis kencang.
"Bicara sama anak kecil jangan pakai nada tinggi, Yah. Tadi Jasmine teriak juga karena reflek." Satya mengangguk paham.
Jasmine dengan sabar menimang adiknya itu dengan penuh kasih sayang. Ia berjalan menuju belakang rumah agar jauh dari orang-orang dewasa yang merasa terganggu karena tangisan adiknya.
Jasmine sangat paham jika ia harus memperlakukan Gio dengan baik dan tidak boleh sampai emosi karena bisa mempengaruhi psikis anak itu.
Jasmine mengajak Gio duduk di ayunan taman belakang rumah. Ia bernyanyi agar adiknya itu tidak menangis lagi, karena jujur Jasmine sangat sakit hati mendengar tangisan adiknya yang begitu memilukan.
__ADS_1
"Gio, sekarang Gio sudah besar sudah jadi om. Gio nggak boleh nakal, nggak boleh membuat ayah sama bunda susah karena Gio yang nakal. Ayah sama bunda sayang banget sama Gio, meraka sedih kalau Gio nakal dan rewel." Jasmine masih merasakan guncangan tubuh Gio walau tangisan anak itu sudah berhenti.
"Gio, kakak nggak tahu umur kakak sampai kapan, tapi percayalah pada kakak kalau kakak akan selalu menyayangimu seperti kakak menyayangi anak-anak kakak. Kakak mau kalian tumbuh bersama dan akrab, jangan sampai bertengkar karena masalah yang sepele, kalian bisa main bersama, mandi bersama, makan bersama, semuanya bersama juga boleh. Tapi, Gio harus ingat untuk tidak rewel lagi!" Walaupun, Jasmine tidak tahu apakah Gio paham dengan perkataannya atau tidak, tapi Jasmine sangat berharap jika anak-anaknya dan juga adiknya bisa tumbuh bersama dengan akur, saling menjaga satu sama lain ketika mereka sudah besar nanti dan saling menyayangi dengan tulus dengan cara mereka masing-masing.
Jasmine merasakan Gio sudah anteng, napasnya juga terdengar lembut dan teratur menandakan jika adiknya telah tidur.
...***...
Gibran menoleh ke pintu saat mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke kamar, beberapa detik kemudian ia melihat Jasmine masuk dengan adiknya yang tertidur pulas di gendongan sang istri.
"Kamu kok nggak ikut makan?" tanya Jasmine ketika melihat suaminya malah duduk di kamar.
__ADS_1
"Aku nunggu kamu." Gibran tersenyum, ia menepuk ranjang kosong di sebelahnya agar Jasmine duduk di sana.
"Kita turun sekarang aja yuk!" ajak Jasmine setelah membaringkan Gio di sebelah kedua anaknya yang tidur pulas.
Gibran menarik tangan Jasmine hingga istrinya itu duduk di pangkuannya. Gibran memeluk Jasmine dengan sangat erat dan menghirup aroma tubuh istrinya dalam-dalam.
"Aku berharap, kamu bisa sabar ngurus anak-anak kita, Sayang. Aku tahu jadi ibu itu nggak mudah, bahkan akan lebih lelah daripada seorang suami yang bekerja memikirkan nasib perusahaan. Banyak juga suami di luar sana yang memarahi istrinya karena tidak terlalu perhatian seperti sebelum punya anak. Tapi, mereka tidak tahu kalau istri mereka justru bekerja lebih keras dari mereka." Gibran berhenti berkata hanya untuk menghirup oksigen, setelah paru-parunya terisi kembali, Gibran melanjutkan perkataannya.
"Mungkin mereka mengira jika mengurus anak itu hal yang sepele. Padahal, banyak istri di luar sana yang juga melakukan pekerjaan walau hanya di rumah, seperti mencuci baju, mencuci piring, bersih-bersih rumah, masak dan masih banyak lagi. Mungkin mereka sedikit terbantu walau ada ART namun mereka tidak akan mungkin hanya berdiam diri jika di rumah."
"Kalau ada laki-laki yang mencari wanita lain di luar sana hanya demi memenuhi nafsu mereka, mereka sangat kurang ajar karena tidak merasakan penderitaan seorang istri." Jasmine menanggapi, ia tidak tahu kenapa suaminya membahas hal seperti ini namun dengan seperti ini Jasmine lebih mengenal sifat Gibran yang jarang diperlihatkan pada orang lain.
__ADS_1