Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
S2 : Pernikahan?


__ADS_3

Gibran dan Gavin menitipkan Gia pada Han karena laki-laki itu sudah meminta izin untuk mengajak calon istrinya ke rumah terlebih dulu dan berjanji akan mengantar Gia nanti.


"Pasti sekarang banyak yang suka sama kamu?" Gia memeluk lengan kanan Han dan menyadarkan kepala di bahu laki-laki itu.


Han tersenyum dan mengusap lembut bahu kekasihnya. Bohong jika dia mengatakan kalau tidak ada yang tertarik dengannya setelah dua sukses seperti ini, bahkan ada rekannya yang terang-terangan ingin menjodohkan Han dengan anak gadis mereka. Namun, Han dengan lembut menolaknya tanpa harus melukai hati orang lain.


"Kamu mau ke makam Gilang, gak?" Pertanyaan Han langsung dibalas anggukan semangat Gia. Gadis itu sangat merindukan kakak laki-lakinya yang mungkin sudah bahagia di surga.


Mereka pun akhirnya ke makam Gilang dulu sebelum ke rumah Han. Sesampainya di sana, Gia berjongkok pinggir makam dan menyapa kakaknya seperti seseorang yang berbicara dengan orang yang masih hidup. Banyak hal yang Gia bicarakan pada Gilang sampai Han tidak tahan dan mengeluarkan air mata.


Setelah tiga puluh menit berada di sana. Gia sudah merasa cukup dan berjanji akan datang berkunjung di lain hari.


"Ko, minggu depan aku mau menikah sama Bang Han. Koko harus hadir di sana!" Gia mencium nisan Gilang dan mengajak Han pulang.


***


Tidak banyak yang dilakukan Gia ketika dia sampai di rumah Han. Seperti biasa, dia hanya mengobrol dengan Naira dengan sangat akrab. Han yang melihat itu tersenyum karena mamanya masih tetap sayang dengan kekasihnya.


Cukup lama dia berada di rumah Han sampai waktu menjelang petang. Han mengantar Gia sampai di rumah dan itu menjadi pertemuan terakhir mereka sebelum menikah.


Satu minggu telah berlalu dan sesuai yang dijanjikan Gibran. Hari ini Gia dan Han akan menikah yang pestanya digelar secara besar-besaran. Tamu undangan telah hadir di tempat pesta diadakan dan banyak sekali hadiah yang sudah menumpuk di tempat khusus yang memang sudah disediakan.


Sejak pagi tadi Gia sangat gugup karena tidak menyangka jika hari ini akan tiba. Hari di mana dia akan melepas status lajangnya menjadi seorang istri dari laki-laki yang dia cintai sejak beberapa tahun yang lalu.


Gia menatap pantulan dirinya di cermin yang terlihat sangat cantik dengan balutan gaun putih dan hiasan tiara kecil di kepalanya yang terbuat dari berlian dan batu mulia asli.

__ADS_1


"Mbaknya cantik banget." Perias memuji, dia sangat puas melihat hasil riasan tipisnya sangat cocok di wajah Gia.


"Terima kasih." Gia tersenyum, entah mengapa dia merasakan akan terjadi sesuatu di pesta pernikahannya nanti. Namun, Gia berdoa semoga saja apa yang dia rasakan itu salah.


Perias meninggalkannya di kamar sendirian karena Gia yang memintanya. Sekarang dia melamun memikirkan apa yang akan terjadi di kemudian hari.


Enak gak sih jadi istri itu? Kata Koko Gilang dulu, menikah itu ibadah paling lama dan banyak kenikmatan di dalamnya. Tapi, sekarang kok rasanya agak mengganjal, ya?


"Sayang, kamu gugup?" Gia Jasmine mendekati Gia. Wanita itu juga terlihat sangat cantik dengan kebaya dan rambut yang disanggul kecil.


"Iya, Ma. Apa Gia kabur saja ya dari pernikahan ini?" Gia mendapat toyoran di kepala ketika dengan entengnya mengatakan hal itu.


"Kamu gak mau menikah sama Han?" Jasmine menatap lekat mata putrinya. Terlihat ada sedikit keraguan di sana.


"Iya, sekarang sudah waktunya kamu turun." Gia mengangguk, mereka turun bersama menuju tempat akad akan dilaksanakan.


Semua mata menatap Gia dan terpana dengan kecantikan gadis itu. Gia duduk di sebelah Han dan akad pun segera dilaksankan.


Jangan ditanya bagaimana perasannya karena Han dan Gia sama-sama gugupnya. Bahkan Han sempat salah mengucapkan kalimat ijab qobul saking gugupnya.


Setelah kata sah terdengar. Mata Gia melihat ke arah depan, tepatnya di antara para tamu undangan yang hadir. Di sana berdiri seorang laki-laki tampan yang wajahnya sudah tidak asing lagi untuk Gia, laki-laki itu tersenyum dan menganggukkan kepala ketika menyadari Dia sedang menatap dirinya.


Mata Gia membulat, tubuhnya meremang, dan dia menangis melihat apa yang dia lihat di depan mata.


"Ko, Gilang." Gia berteriak memanggil nama kakak laki-lakinya yang sangat dia rindukan. Namun, laki-laki yang dipanggil Gia tiba-tiba saja berlari keluar rumah seperti sengaja tidak ingin orang lain melihatnya.

__ADS_1


Teriakan Gia membuat semua orang yang berada di dalam ruangan itu terkejut dan menatap ke arah mata gadis itu memandang. Namun, mereka tidak melihat siapa-siapa di sana.


Gia mengabaikan semua orang, dia berlari mengejar Gilang yang ternyata duduk di kursi taman belakang rumah.


"Koko," panggil Gia lirih.


Gilang tersenyum dan berdiri, dia membuka tangannya lebar agar Gia memeluknya. Gia berlari kencang dan menghambur ke pelukan hangat kakak yang sangat dia sayangi.


"Selamat atas pernikahan kamu. Semoga kamu bahagia dan bisa menjadi istri yang baik untuk suami kamu, ibu yang baik untuk anak-anak." Gilang mencium dahi adiknya penuh kasih sayang.


"Aku gak nyangka kalau Koko masih hidup." Isakan Gia semakin keras, dia seperti tidak akan pernah melepas pelukan Gilang karena takut ditinggal lagi.


"Koko memang masih hidup. Kalian saja yang tidak menyadari." Gilang tersenyum tipis dan mengusap punggung adiknya lembut.


"Koko tinggal di mana?" Gia menatap wajah kakaknya dari bawah.


"Koko tinggal di ...."


Bersambung ...


Hai reader's.. aku punya novel baru nih.


InsyaAllah novelnya lebih baik dari tiga novel aku yang sebelumnya.


Yang penasaran bisa klik profil aku, ya. Terima kasih. Love you All

__ADS_1


__ADS_2