Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
CSJC : Chapter 48


__ADS_3

Pernah satu kali laki-laki yang akan dijodohkan dengan dirinya mengajak dia untuk bertemu. Awalnya Jasmine menolak tapi karena ibunya mengancam dirinya, akhirnya Jasmine terpaksa pergi bersama laki-laki itu.


Laki-laki itu mengajak Jasmine menonton sampai malam, sebenarnya laki-laki itu memang baik tapi Jasmine sama sekali tidak bisa menyukainya.


"Kamu kok malah melamun, Sayang?" tanya Ranti yang melihat Jasmine diam setelah merengek tidak ingin lukanya dijahit.


"Eh, enggak kok, Tante." Jasmine langsung sadar dan dia tersenyum cantik kepada Ranti.


"Luka di tangan kamu harus dijahit, nanti kalau tidak dijahit luka kamu akan lama sembuh." Ranti mengusap kepala Jasmine dengan lembut, Jasmine mau tidak mau memang harus mau.


"Hehe, Jasmine sebenarnya bukan takut sama rasa sakitnya sih, Tan. Tapi, Jasmine lebih takut melihat jarum tajam." Jasmine mengucapkan itu dengan sedikit malu.


"Kalau kamu takut, nanti kamu tutup mata kamu saja."


"Iya, Tante," jawab Jasmine singkat.

__ADS_1


Sesampainya di rumah sakit, Jasmine segera menjalani pengobatan luka di tangannya. Tidak butuh lama tangan Jasmine sudah dijahit 6 jahitan. Jangan tanya apa yang terjadi tadi saat tangannya dijahit karena Jasmine terus menangis melihat jarum itu menusuk-nusuk tangannya.


Omongan Ranti tadi telah dilupakan Jasmine karena dia sama sekali tidak mau menutup matanya. Dokter Adit yang kebetulan menangani Jasmine merasa gemas dengan dokter muda yang telah lama vakum itu.


"Jasmine, kamu tidak malu apa menangis seperti anak kecil seperti ini?" tanya Dokter Adit setelah selesai mengobati luka Jasmine.


"Habis serem, Kak. Hehe, padahal dulu aku bedah perut orang juga nggak ada masalah." Jasmine tersenyum malu karena merasa dirinya kekanak-kanakan.


"Kamu sudah banyak berubah, jujur saja. Saya lebih suka kalau kamu seperti dulu lagi." Dokter Adit mengusap pilih Jasmine lembut, Ranti yang melihat itu merasa sedikit terusik karena menganggap Dokter Adit akan menjadi saingan putranya.


"Tapi aku nggak mau jadi seperti dulu, Kak. Semua sudah berubah, biarlah semua itu menjadi masa lalu saja." Jasmine tersenyum kecut, lalu dia tiba-tiba tertawa keras mengagetkan Dokter Adit dan Ranti yang berada satu ruangan yang sama dengan dirinya.


"Enggak apa-apa, Tante." Jasmine tersenyum lalu memeluk Ranti secara tiba-tiba dan kembali terisak karena dia ingat dengan ibunya yang sudah tidak mau bertemu dengan dirinya lagi setelah tiga tahun lalu.


Dokter Adit paham apa yang ada dipikiran Jasmine sehingga dia memutuskan untuk menjaga Jasmine mulai saat ini walaupun, dia tidak bisa menjadi pacar Jasmine karena gadis itu beberapa kali menolak dirinya padahal sebenarnya Jasmine juga mempunyai perasaan terhadap Dokter Adit.

__ADS_1


"Jasmine, jangan lupa obatnya di minum yang teratur, ya! Kakak permisi dulu karena kakak masih ada pasien lain yang harus kakak periksa." Dokter Adit mengusap kepala Jasmine lalu pergi setelah mendapat balasan berupa anggukan kepala dari Jasmine.


Ranti tersenyum tipis, dia mengusap-usap bahu Jasmine dengan penuh kasih sayang, Ranti bisa merasakan kalau saat ini Jasmine sedang bersedih dan butuh seseorang di samping dirinya. Ranti akan menyuruh seseorang untuk menyelidik latar belakang Jasmine dan membantu semua masalah yang dialami gadis dalam pelukannya ini.


"Ayo kita pulang!" ajak Ranti setelah Jasmine tidak lagi menangis.


"Iya, Tante. Tapi, Jasmine mau pulang ke rumah teman Jasmine saja."


"Kenapa tidak pulang ke rumah tante saja?" Ranti terlihat kecewa dengan keputusan Jasmine.


"Karena rumah Tante bukan rumah aku." Jasmine menjawab sambil bercanda, tapi candaan itu malah dianggap serius oleh Ranti.


"Kamu jadi menantu saya saja, Jasmine. Berikan saya cucu yang banyak dan lucu-lucu, nanti kalau kamu mau malam pertama sama Gibran, tante kasih resep yang bikin jos gandos deh." Ranti tersenyum penuh arti sambil membayangkan apa yang akan terjadi jika dia benar-benar memberikan resep itu kepada Jasmine.


Jasmine tersenyum kikuk, dia tidak akan mau menikah dengan Gibran karena dia tidak mencintai, Gibran. Bukan tidak cinta sih, tapi mungkin belum cinta.

__ADS_1


***


Bersambung ...


__ADS_2