Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
CSJC : Chapter 96


__ADS_3

Ranti membawa Gio masuk ke dalam rumah, ia berpapasan dengan Jasmine yang sepertinya hendak keluar.


"Bunda, kenapa Gio nangis?" tanya Jasmine lirih, ia prihatin melihat wajah Gio yang memerah karena tangisnya.


"Biasa, ayah kamu kalau bercanda suka kelewatan. Mungkin kalau Gio udah sebesar suami kamu dia akan menanggapi candaan ayahnya dengan candaan juga. Tapi, Gio sekarang masih kecil, dia tidak tahu apa-apa dan kalau merasa tidak nyaman akan jadi begini." Ranti mengembuskan napas lelah, di usianya yang sudah tidak lagi muda, akan sangat sulit untuknya bersikap layaknya anak muda, karena tentu ia sudah berpengalaman dan berpikir lebih dewasa.


Jasmine menatap adiknya yang masih sesenggukan dengan iba. Ia juga tidak bisa membayangkan jika anaknya kelak seperti Gio. Jasmine tanpa sadar mengusap perutnya yang masih rata dengan lembut.


"Gio sekarang demam, Jasmine. Bunda takut kalau dia kenapa-kenapa." Hati Jasmine rasanya sangat sesak melihat mertuanya menangis karena mengkhawatirkan putranya.


"Bunda jangan panik, ya! Kalau Bunda panik dan banyak pikiran, itu akan berpengaruh pada produksi ASI. Gio biar Jasmine yang rawat, kalau-kalau bunda belum tahu, dulu Jasmine bekerja sebagai dokter." Jasmine tersenyum teduh, ia mengambil alih adiknya dari gendongan Ranti.


"Bunda jangan marahan sama ayah. Kalau marahan lebih dari tiga detik dosa lho, Bun." Jasmine merasakan dadanya panas saat tubuh mungil Gio menempel dengannya.


"Tiga hari, bukan tiga detik." Ranti melarat.


"Sementara, bunda ngasih ASI-nya di pompa aja, ya!" pinta Jasmine, Ranti mengangguk.

__ADS_1


"Ayo kita ke kamar, Bun!" ajak Jasmine, mereka bertiga pun kembali ke kamar Gio saat itu juga.


Sesampainya di dalam kamar, Jasmine meletakkan Gio di ranjang. Rupanya Gio sudah tidur, mungkin karena efek tangisnya sehingga tidurnya terlihat tidak nyaman.


"Bunda punya koolfever?" tanya Jasmine.


"Ada, sebentar bunda ambilkan." Ranti berjalan mengambil benda yang diminta Jasmine.


Tidak lama, Ranti memberikan benda itu pada Jasmine. Jasmine segera membuka plastik kemudian mengambil isinya, ia mengusap dahi Gio dengan penuh masih sayang kemudian menciumnya. Jasmine menempelkan koolfever tadi di dahi Gio berharap demamnya segera turun.


...***...


"Masih lama, Ma?" tanya Gibran lembut, ia menjadikan bahu kanan Jasmine untuk menopang dagunya.


"Ma?" Jasmine mengernyit heran.


"Iya, kamu kan sudah mau jadi ibu, dan aku mau nanti anak kita manggil kamu mama." Gibran tersenyum, tangannya mengusap perut Jasmine yang datar.

__ADS_1


"Nggak usah belagak jadi kaya orang punya uang banyak! Walaupun, uang kamu nggak akan habis 700 turunan hehe." Jasmine tetap melanjutkan masaknya, nasi goreng yang ia buat sebentar lagi matang.


"Aku mau anak aku manggil aku ibu." Jasmine tersenyum membayangkan anaknya akan manggilnya ibu, pasti ia akan sangat bahagia.


"Lho kenapa?" Gibran penasaran.


"Panggilan mom atau dad, untuk orang Indonesia menurutku terlalu berlebihan karena kita bukan orang barat, kecuali kalau suami atau istri kita bule, itu bukan masalah. Panggilan mama dan papa menurut aku sih oke-oke aja tapi aku nggak terlalu suka, Mas. Aku lebih suka panggilan yang sederhana, mbok, mak, biyung, hehe. Tapi, itu panggilan kuno. Jadi, panggilan paling bisa bergaul dengan kuno dan modern yang ibu." Jasmine menjelaskan dengan panjang lebar, ia tidak bermaksud untuk meremehkan panggilan yang lain karena selera orang beda-beda.


Tidak ada kata Mama Pertiwi, tidak ada pepatah Mama Negara, yang ada hanya ibu negara. Panggilan ibu membuat Jasmine lebih merasa dekat dengan negaranya.


"Kalau begitu, anak kita akan memanggil aku papa dan manggil kamu ibu." Gibran tersenyum lebar.


"Aku harap, dia manggil kamu embah hehe.' Langsung banyak kecupan yang Jasmine dapat ketika bercanda dengan suaminya.


Bayangkan saja anak mereka manggil. Embah Gibran, atau Embah Baban.


***

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2