
Bahkan, waktu masih duduk di kursi pelaminan, tangan Satya sudah bergerak nakal menggerayangi tubuh istrinya sampai kepergok mama dan papanya dulu.
Rupanya, sifat Gibran tidak berbeda jauh dari sifat Satya sewaktu muda, bahkan mungkin sifat Satya dulu lebih parah dari Gibran. Satya terkekeh sendiri mengingat masa mudanya yang dia buat menjadi sangat santai dan menikmati waktu mudanya dengan melakukan hal-hal un-faedah.
"Kalau aku somplak emang masalah buat kamu, Bay?" Gibran terkekeh lalu mendorong tubuh Bayu dengan kesal. Satya hanya tersenyum mendengar perkataan Gibran yang selalu berpindah-pindah bahasa.
"Hehe, maaf." Bayu tersenyum polos dengan wajah yang sangat imut. Dia bangun dengan pelan lalu menjatuhkan diri duduk si sofa panjang lalu bersandar dengan nyaman di sana.
"Ayah, bunda ada di mana?" Gibran kembali bertanya kepada Satya dengan nada yang sendu yang hampir tidak pernah dia katakan sebelumnya, Gibran cukup lelah terus bermain secara bebas tanpa memiliki tujuan hidup yang jelas. Dia ingin menata masa depannya mulai hari ini dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat.
Gibran sudah memutuskan jika besok dia akan fokus mengelola perusahaan ayahnya dan dia tidak akan peduli dengan kehidupannya yang lalu. Dia ingin menjadi manusia yang lebih bermanfaat untuk bangsanya dan yang paling penting, dia ingin melihat orangtuanya bangga dengan apa yang akan dia capai di masa depan.
"Bunda ada di-" Satya tidak melanjutkan ucapannya, dia menatap Gibran dengan seringai menyebalkan di wajahnya yang telah menua termakan usia yang semakin hari semakin berkurang di dunia.
"Ada di mana?" tanya Gibran lagi karena ingin segera tahu.
"Di sini!" Satya menunjuk lubang hidungnya dengan tenang, wajahnya sangat serius sehingga akan membuat orang yang tidak punya akal akan percaya dengan apa yang di katakan jika istrinya berada di dalam lubang hidung. Beruntung, Gibran masih waras sehingga dia tidak akan mudah percaya dengan jawaban Satya yang sebenarnya hanya sebuah gurauan garing biasa.
__ADS_1
Gibran tertawa kesal, tangan kanannya meraih bantal sofa yang terletak tidak jauh dari jangkauannya, Gibran lalu melemparkan bantal sofa itu ke arah Satya yang langsung menghindar dari lemparan bantal sofa Gibran.
"Gibran sedang serius, Ayah." Gibran kembali meraih bantal sofa yang lain lalu melemparkan ke arah Satya, kali ini bantal sofa itu tepat sasaran, mendarat dengan sangat mulus di wajah Satya.
"Ayah juga serius ini." Satya bersiul lalu duduk dengan manis.
"Ayah mana pernah serius, setiap hari becanda terus. Jangan-jangan dulu pas bikin Gibran ayah juga nggak serius?" Gibran menatap sendu mata ayahnya yang menatap dirinya dengan mata melotot karena Gibran berani berkata seberani itu tentang hal yang tidak seharusnya dia tahu.
"Iya, makannya otak kamu rada kurang satu ons. Mungkin istri ayah pergi bersama dengan kekasih kamu itu." Satya melempar balik Gibran, lalu pergi ke kamar dengan langkah yang cepat karena tidak mau dilempari bantal lagi.
"Lah, ini anak malah molor di sini. Nggak takut sakit apa itu leher?" Gibran membenarkan posisi tidur Bayu sampai Gibran merasa jika Bayu telah nyaman sekarang.
***
"Ini rumah teman kamu, bukan kuburan, kan?" Ranti bergidik ngeri karena mobil mereka telah berhenti di dekat pemakaman yang luas.
"Bukan, Tante. Ini rumah masa depan teman aku." Jasmine dengan enteng menjawab pertanyaan Ranti. Mungkin karena sudah faktor usia yang tidak lagi muda, malah mencerna lain dari perkataan Jasmine.
__ADS_1
"Teman kamu sudah metong (mati), kenapa kamu tidak memberitahu saya sejak awal?" Ranti menatap takut Jasmine yang tenang di sebelah dirinya.
"Memang kalau aku bicara lebih awal, Tante mau apa?" tanya Jasmine balik.
"Kita kan bisa ke mall dulu membelikan dia oleh-oleh."
Mulut Jasmine menganga mencerna ucapan Ranti, oleh-oleh apa yang akan Ranti berikan jika teman Jasmine telah tiada? Jasmine menjadi penasaran. Jasmine juga sadar kalau dia tidak berkata jika temannya sudah meninggal, Jasmine kan hanya bilang jika ini rumah masa depan temannya.
"Oleh-oleh apa, Tante?" Jasmine mencoba bertanya sebelum dia memberitahu Ranti jika Ranti salah mengartikan ucapannya.
"Daster, biasanya kan kalau di kuburan dasternya sudah pada lusuh, Jas." Ranti menjawab dengan mata berbinar senang membayangkan wanita yang biasa memakai daster lusuh berganti dengan daster yang lebih bersih dan dengan model yang lebih baik dengan warna yang cerah tidak putih polos.
***
Buat pembaca... mampir ke karya baru aku juga yuk.
__ADS_1