
Gilang segera menyelesaikan makannya kemudian pamit ke atas kepada samua orang. Saat ini Gilang berdiri di depan pintu kamar Gavin yang tertutup.
Gilang menggigit bibir bawahnya dengan tangan kanan siap mengetuk pintu. Gilang sudah lelah dengan semua sikap saudaranya yang tidak pernah suka dengannya. Gilang tidak mau terus menerus dibenci karena ia juga ingin hidup normal seperti yang lain.
Tok ... tok!
"Vin, ini Gilang. Boleh aku masuk?" teriak Gilang agar Gavin mendengarnya.
Gavin yang sedang tengkurap sambil membaca novel favoritnya merasa kesal ketika mendengar suara Gilang.
"Mau apa sih itu orang?" Gavin menutup novel yang ia baca kemudian beranjak turun untuk membuka pintu.
"Mau apa kakak ke sini?" tanya Gavin ketika sudah membuka pintu.
"Kakak mau bicara sama kamu empat mata, kakak boleh masuk?" Gavin menatap Gilang dengan sinis.
"Gak bisa empat mata. Bisanya delapan mata," jawab Gavin super dingin.
"Delapan mata?" Gilang mengerutkan dahinya bingung.
"Empat mata kepala dan empat mata kaki," jawab Gavin sedikit bercanda.
Gilang tersenyum, baru kali ini ia melihat Gavin mau bercanda dengannya, hatinya sedikit menghangat.
"Oke, kakak mau bicara secara delapan mata sama kamu." Gavin berdecak kemudian berbalik badan dan kembali berjalan ke ranjang.
"Masuk dan juga lupa tutup pintunya!" Gilang mengangguk, ia segera masuk dan menutup pintu kamar Gavin.
Gilang memerhatikan kamar Gavin yang hampir tidak pernah ia masuki dengan senyuman tipis di bibirnya.
"Mau ngomong apa?" Gavin menatap Gilang sinis, Gavin sekarang duduk bersila di atas ranjang dengan tangan terlipat di dangan dada.
"Kakak lelah selalu disalahkan dan dijauhi sama kamu dan Om Gio, sebenarnya apa yang membuat kamu benci sama kakak?" Gilang menatap Gavin lembut, tatapan yang penuh kasih sayang juga terisi sebuah luka dalam yang tidak bisa ia ungkapkan.
Inilah salah satu yang tidak Gavin sukai dari Gilang. Gilang tidak pernah marah dan membenci dirinya padahal ia sering melukai Gilang. Gavin tidak kuat dengan tatapan mata yang selalu lembut dan penuh kasih sayang, Gavin tidak pantas mendapatkannya.
__ADS_1
"Pikir aja sendiri! Kakak pintar dan akan kuliah di luar negeri. Kakak pasti bisa menebaknya sendiri." Gavin terlihat tidak peduli padahal jauh di lubuk hatinya ia tidak ingin seperti itu.
"Kakak gak pintar dan gak bisa baca isi hati dan pikiran orang." Gilang merasa sedikit pusing.
"Mati suri dulu biar bisa baca isi hati orang seperti papa!" Rasanya mulut Gavin pengan dijahit sekarang juga.
"Gak perlu mati suri sebentar lagi juga kakak bakal mati," gumam Gilang lirih.
"Di sini hanya ada kita berdua, kakak mau bicara tentang hubungan persaudaraan kita yang tidak baik. Kakak cuma pengen tahu alasan kamu membenci kakak, siapa tahu kakak bisa memperbaiki semuanya." Gilang dengan setia berdiri di dekat ranjang, ia tidak akan duduk kalau Gavin tidak menyuruhnya duduk.
"Kasih tahu kakak semuanya, Vin! Jangan ada yang ditutupi!" Gilang memohon dengan menangkupkan kedua tangannya.
"Semua yang ada pada diri Lo gue gak suka. Gue gak suka sama Lo karena Lo selalu mendapat perhatian lebih dari semua orang di rumah ini." Mungkin Gavin akan menyesal jika ia tahu asalan dibalik semua itu.
"Apa lagi?"
"Papa sering ngasih uang bulanan gue 100 juta, sedangkan ngasih Lo 150 juta."
Gilang tersenyum, masalah uang memang Gibran sering memberinya lebih banyak dibanding Gavin. Namun, itu semua juga ada alasannya.
"Terus?"
"Karena itu gak baik buat kamu," balas Gilang jujur, Gavin pernah hampir minum alkohol kalau Gilang tidak mencegahnya, Gavin juga pernah hampir balapan liar tapi Gilang melarangnya, merokok, dan masih banyak lagi hal buruk yang dilarang Gilang.
"Satu hal yang paling gue gak suka dari, Lo. Kenapa Lo harus lahir dari rahim yang sama dari mama gue dan harus jadi saudara kembar gue?" Kaki ini Gavin membentak Gilang dan menunjuk-nunjuk wajah Gilang dengan emosi yang tinggi.
Gilang menurunkan tangan Gavin agar tidak lagi menunjuk wajahnya.
"Semua sudah takdir dari Tuhan." Selalu menanggapi dengan lembut dan tidak pernah marah walau hatinya merasa sakit.
"Terus?" tanya Gilang lagi.
"Dari tadi terus-terus mulu jawaban, Lo. Emangnya Lo jadi tukang parkir?" Gilang tersenyum simpul, rupanya Gavin bisa bercanda juga dengannya.
"Ya, tukang parkir agar kamu gak salah jalur dan mencelakai diri kamu sendiri. Kamu pernah gak Vin sayang sama kakak?"
__ADS_1
"Gak pernah sama sekali." Gavin menatap ke sembarang arah dan tidak mau melihat wajah Gilang yang sama persis dengan wajahnya. Gavin akui, wajah Gilang lebih tampan dari wajahnya.
"Terus kamu maunya apa?" Sesak dada Gilang saat Gavin tidak ingin dilahirkan dari orang yang sama dengannya.
"Kakak pergi dari hidup gue selamanya." Gavin berkata tanpa berpikir maksud dari perkataannya dulu.
"Kalau kakak pergi selamanya, apa kamu akan bahagia?"
"Jelas saja, aku akan menjadi orang yang paling bahagia di bumi ini." Gavin merentangkan tangannya dengan bangga.
"Kakak sayang sama kamu, Vin. Kakak gak kau pergi jauh dari kamu, kakak pengen dapat perhatian dari kamu juga, bukan cuma Om Gio." Gilang menatap Gavin dengan mata berkaca-kaca, tidak pernah dalam hidupnya Gilang menangis kecuali waktu kecil dulu.
"Gue gak sudi sayang sama, Lo. Lo lebih baik mati aja deh, Kak. Gue gak suka lihat Lo di sini." Gavin mendorong tubuh Gilang sampai punggung Gilang membentur tembok kamar.
"Kamu kerasukan Lucifer?" Gilang berusaha menjauhkan tangan Gavin tapi gagal.
"Gue benci sama, Lo. Selamanya gue akan selalu benci sama, Lo." Gavin memukul perut Gilang dengan sangat kuat.
"Aku salah apa sama kamu sampai kamu melakukan hal ini sama kakak, Vin? Kakak gak pernah mukul kamu, kakak gak pernah membentak kamu, kakak juga punya rasa sakit diacuhkan. Kamu pikir selama ini kakak baik-baik aja?" Baru pertama kali Gilang bicara dengan nada tinggi pada Gavin, Gavin bahkan sampai tersentak kaget tidak percaya.
Gilang menepis tangan Gavin kemudian memeluk adiknya dengan sangat erat, pelukan hangat yang mungkin tidak akan pernah ia rasakan lagi setelah ini.
Gavin tidak menolak ketika Gilang memeluknya, Gavin merasakan pelukan Gilang terasa sangat aneh. Setelah Gilang merasa cukup, Gilang melepaskan pelukannya.
"Kalau selama ini semua orang sedikit lebih perhatian sama kakak, itu karena waktu kakak gak akan lama lagi, Vin. Uang Rp 50 juta yang papa kasih, sama kakak buat beli obat dan merawat diri." Gavin tidak paham dengan maksud perkataan Gilang.
"Selama ini kakak gak banyak bergaul sama orang lain karena kakak gak mau merasa sedih kalau kakak meninggal orang-orang terdekat kakak nantinya." Air mata Gilang menetes.
"Kakak selama ini hanya diam gak melakukan banyak aktivitas karena kakak sakit, Vin. Kakak sakit kanker, puas kamu?" Setelah mengatakan itu, Gilang langsung keluar dari kamar Gavin dengan berlinang air mata.
Gavin merasa terpukul mendengar pengakuan Gilang baru saja. Gavin bergeming dengan tubuh bergetar.
"Kak Gilang sakit kanker?" lirih Gavin dengan kepala menunduk dan air mata mengalir pelan. Tubuh Gavin seakan kehilangan tulang penyangga hingga ia jatuh berlutut dengan lemas.
***
__ADS_1
Sudah tahu alasan kakak kamu sekarang kan, Vin? Kalau begini bakal berbuat apa kamu sama kakak kamu, Vin. Gemas banget gue sama Gavin, rasanya pengen aku cubit pakai golok.