
Siapa yang memanggil Jasmin menjadi misteri yang belum terpecahkan hingga saat ini. Sudah empat bulan waktu berjalan dan tingkah lucu serta menggemaskan adik dan anaknya menjadi kebahagiaan tersendiri yang ia rasakan dengan rasa syukur kepada Tuhan.
Saat ini, Jasmine sedang membuat sarapan untuk suami tercinta ditemani dengan sang adik yang sejak tadi menempel terus dengannya seperti cicak di dinding.
"Gio mau makan sosis?" Jasmin berjongkok untuk menyamai tinggi dengan anak kecil yang berdiri di dekatnya.
"Na au, au ain oya." Bahasa alien Gio membuat Jasmin harus berpikir ekstra untuk mengetahui maknanya.
"Gio mau soto koya?" Jasmin menebak.
"Ain oya," ucap Gio sembari menunjuk bola kecil warna merah di tangannya.
Huh, ternyata mau main bola. Anak siapa sih ini bikin gemas terus. Kalau anak aku sudah bisa berjalan seperti Gio, bisa pusing setiap hari meladeni mereka yang pastinya tidak akan mau diam, batin Jasmin sambil tertawa kecil.
"Gio, sini main sama Gavin!" teriak Ranti dari ruang keluarga.
Mendengar suara merdu bundanya. Gio langsung berjalan pelan menghampiri Ranti. Jasmine menyelesaikan masakannya agar semua orang bisa segera sarapan.
Lima belas menit kemudian, semua makanan telah siap. Jasmine memanggil Ranti dan suaminya untuk sarapan bersama, hari ini Satya tidak berada di rumah karena satu minggu yang lalu pergi ke luar kota untuk menemui kolega bisnis dari luar negeri.
__ADS_1
"Bunda, ayo sarapan dulu! Gavin sama Gio ditinggal sebentar gak apa-apa kok. Gak akan pergi juga mereka." Ranti mengangguk, ia meletakkan Gavin di karpet lantai dan membiarkan cucunya itu bermain bersama omnya.
"Gavin, jagain Gavin, ya! Jangan diganggu nanti dia nangis." Ranti mengusap puncak kepala Gio kemudian meninggalkan mereka berdua untuk pergi ke ruang makan.
Tidak lama, Jasmine dan Gibran bergabung bersama Ranti dan mereka pun makan bersama.
Setelah mereka selesai sarapan, Ranti dan Jasmine membersihkan meja dan mencuci peralatan makan mereka, sedangkan Gibran menghampiri adik dan anaknya yang sedang sibuk bermain sendiri di ruang keluarga.
"Gio, kamu kalau main jangan cuma sama Gavin terus, Gilang di ajak main juga dong!" perintah Gibran tegas, padahal Gilang sekarang sedang tidak bersama mereka karena anak itu masih tidur di kamar.
"Na au, Lang kal." Gio memukul tangan kakaknya kemudian berjalan mencari bundanya.
"Jangan pergi kalau lagi diberitahu sama kakak. Kamu itu udah besar, jadi om harus adil sama keponakan." Bibir Gio sudah mewek, anak itu tidak suka dengan Gibran yang selalu menasihati dirinya.
"Kal, Nda ... kak kal." Ranti hanya bisa mengembuskan napas lelah mendengar Gio yang mengadu padanya.
Dulu Gio sangat dekat dengan Gibran, tapi sekarang anak itu selalu menghindar jika melihat Gibran. Entah karena cemburu atau apa Ranti tidak tahu alasannya dan satu hal yang membuat Ranti semakin pusing adalah.
Gio tidak akrab dengan Gilang, anak itu memang baru berusia 12 bulan. Namun, Gio sudah pandai membedakan yang mana Gavin dan yang mana Gilang. Kelak, jika mereka besar nanti, Gilang akan menjadi seseorang yang introvert karena kakak dan omnya yang tidak bisa dekat dengan dirinya.
__ADS_1
TAAAMAAAT
***
Kisah mereka ketika dewasa nanti akan menjadi kisah penuh warna dan lika-liku serta konflik yang membuat mereka bisa lebih bersikap dewasa.
Season satu novel CSJC berhenti sampai di sini karena alur dari awal telah dirancang sampai dengan cerita ini.
Novel ini akan tetap berlanjut menceritakan kisah Gio, Gavin, dan Gilang yang InsyaAllah akan aku buat semenarik dan serapi mungkin dan tentunya berharap bisa lebih baik dari cerita yang sebelumnya.
Author mengucapkan terima kasih pada semua pembaca yang sudah membaca novel sederhana ini walau kebanyakan hanya menjadi pembaca ghaib.
Oh iya, author juta punya cerita lain lho di lapak Nove*me dengan nama pena MOON KARLINA dan judul karya DIA ISTRIKU.
Yang punya aplikasinya boleh dong baca novel aku dan beri saran di sana, ya. Di sana aku rutin up setiap hari dan bab-nya panjang karena satu bab 1000-1400 kata.
Novel Gio akan lanjut di novel ini.
Love you all..
__ADS_1