Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
CSJC : Chapter 44


__ADS_3

"Hahaha ... aku tidak mengira Bayu akan melakukan hal bodoh dengan berteriak-teriak tidak jelas malam-malam begini." Gibran melompati girang karena dia punya alat untuk membully Bayu ke depannya.


"Bayu, kamu ngapain di sini sendirian?" Gibran menyapa Bayu yang masih terus mengayunkan ayunan, semakin lama semakin tinggi sampai Gibran merasa takut melihatnya.


"Jangan terlalu tinggi, nanti jatuh!" Baru saja mulut Gibran tertutup, dia sudah melihat Bayu terjun bebas.


Bayu jatuh karena terkejut sehingga dia langsung oleng sehingga dia mendarat dengan indah dari udara dan jatuh dengan posisi tengkurap di atas rumput jepang yang lumayan empuk walau tajam.


Apa mulutku telah dikutuk karena pernah mati?


"Bayu, kamu tidak sayang dengan nyawa kamu, ya?" Gibran segera membantu Bayu berdiri, untung saja Bayu tidak apa-apa.


"Kenapa Tuan Gibran bisa ada di sini? Datang tidak diantar, pulang tidak dijemput." Bayu mengusap bajunya yang sedikit kotor karena rumput jepang.

__ADS_1


"Terbalik, Bayu. Saya ke sini karena saya mau melihat kamu yang tiba-tiba pergi dalam keadaan hati yang buruk." Gibran menarik tangan Bayu dan mengajak Bayu duduk di kursi panjang yang berada di taman tersebut.


"Cie ... yang mau melihat saya, Tuan pasti merindukan saya yang imut dan tampan." Dan lebih waras dari kamu. Lanjut Bayu dalam hati, dia mengedipkan mata kirinya sambil tersenyum membuat wajahnya seimut mungkin, saking imutnya malah jadi amit.


"Saya masih waras, dan saya masih suka wanita. Saya tidak suka perang pedang sama pedang." Gibran bergidik membayangkan hal menjijikkan itu.


"Oh." Bayu tersenyum.


"Kamu kenapa tidak pernah cerita sama saya kalau kamu punya pacar? Selama ini saya kira kamu jomblo, ternyata diam-diam ... hayo, Bayu!" Gibran menepuk pundak Bayu dan tersenyum menggodanya.


"Saya tadi dengar kamu berteriak-teriak patah hati, kamu bilang kamu ditinggal menikah dan wanita-mu itu menikah dengan sahabat kamu sendiri. Siapa wanita itu, Bay?" Gibran masih gencar bertanya pada Bayu.


Bayu merasa bodoh karena telah berteriak-teriak untuk hal yang tidak penting, sekarang dia mengaku kalau dia memang 11-12 dengan Gibran Satya Dinarta.

__ADS_1


"Tuan, besok fokuslah bekerja! Jangan berbuat hal yang tidak langsung pada intinya!" Bayu mengalihkan topik percakapan mereka.


"Oh, iya. Saya juga mau bicara sama kamu, besok atur Jasmine menjadi sekretaris pribadi saya ketika di kantor, dia akan beda tugas dengan kamu!" Gibran terlihat serius sekarang.


"Baik, Tuan. Jadi, besok cerita kita akan banyak di kantor?" tanya Bayu dengan wajah yang antusias.


"Iya, Bayu." Gibran tersenyum, dia bangun dari duduknya untuk kembali ke rumah karena dia sudah mengantuk. Namun, kakinya merasa sedikit berat membuat dia jatuh mencium rumput, dan sialnya ada burung hantu yang sedang terbang melintas di atasnya dengan membawa buruan berupa tikus besar yang malah jatuh tepat di depan mata Gibran.


Tikus itu mengendus-endus hidung Gibtan seperti mencari perlindungan. Gibran bisa mencium bau yang tidak enak, dan saat dia melihat tikus itu, dengan gerakan cepat Gibran bangun dan bertepatan dengan itu, burung hantu tadi kembali akan memburu mangsanya dan hinggap sesaat di kepala Gibran untuk membuang kotoran sebelum terbang kembali dengan membawa tikus besar itu.


"Ku menangis, membayangkan ...." Bayu tersenyum meledek Gibran yang terkenal sial malam ini.


***

__ADS_1


Aku up dua bab ... walau pendek tapi aku nulis pas ada waktu.


__ADS_2