Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
CSJC : Chapter 99


__ADS_3

Ketika ia berbalik badan, seseorang dengan wajah hitam pekat dan gigi putih berkilau tersenyum ke arahnya. "Ketaaaaaaan!" teriak Jasmine sambil melempar makhluk astral tersebut dengan ... wadah buah surga.


Jasmine sebenarnya tidak bisa melihat wajah itu dengan jelas. Namun, ia hanya terkejut karena tiba-tiba bayangan yang ia lihat gelap.


"Ketan apa, ini aku pakai masker warna hitam punya kamu, lagian ngapain juga kamu lempar pakai benda ini?" Gibran meletakkan benda tersebut ke dalam almari.


Jasmine yang mengenali suara itu merasa ke karena orang itu ternyata adalah suaminya sendiri. Jasmine melangkah masuk ke kamar kemudian duduk di tepi ranjang.


"Mas, cuci muka gih! Itu di bawah ada tamu." Jasmine masih melihat suaminya berdiri di dekat pintu kamar.


"Iya, Sayang. Siapa tamunya memang?" tanya Gibran sembari melangkah mendekati istrinya. Gibran duduk di samping Jasmine kemudian ia memeluk tubuh istrinya tersebut dari samping. Gibran bisa merasakan kehangatan dari tubuh istrinya yang sudah semakin berisi.


"Ayah, ibu, kakak, sama Airin." Jasmine merasakan ada yang aneh pada dirinya namun ia mencoba untuk bersikap bodo amat.


"Tadi kamu kaya hansip, Dek." Gibran mengacak-acak rambut istrinya sampai berantakan.

__ADS_1


"Ih, aku bukan adikmu, Mas," ucap Jasmine.


"Kamu kaya hansip-hansip penjaga lawang, ngintip-ngintip orang pacaran." Jasmine menepis tangan Gibran dengan lembut, dikecupnya tangan itu lalu Jasmine beranjak berdiri dan keluar dari kamar suaminya.


"Aku tunggu di bawah tidak pakai lemot!" ucap Jasmine ketika tubuhnya sudah tidak terlihat.


Gibran yang ditinggal tersenyum tipis dan langsung membersihkan wajahnya. Setelah itu, ia berganti pakaian kemudian menyusul istrinya turun menemui sabahat istrinya dan juga mertuanya.


"Di bawah sepertinya rame, ada apa emang?" tanya Satya yang baru saja keluar dari kamar.


"Tamu, itu orangtua istriku sama sahabatnya," jawab Gibran sambil terus melangkah mendekati tangga dan segera turun dengan santai.


"Iya, Bun. Nggak usah galak-galak sama ayah! Nanti malam jatah lima kali ayah kurangi jadi dua kali baru tahu rasa." Satya menggerutu sambil melangkah gontai ke kamar Gibran untuk mematikan pengeras suara lagu dangdut yang bikin pusing.


...***...

__ADS_1


"Jadi, usia kandungan kamu sekarang sudah dua bulan?" tanya Ayunda dengan mata berbinar senang.


"Iya, Bu." Jasmine tersenyum sambil mengusap perut datarnya.


"Waktu akan terus berjalan dengan cepat, beberapa bulan lagi kamu akan jadi ibu. Ibu harap, kamu jangan jadi ibu sepertiku, ya!" Ayunda mengatakan demikian karena dirinya merasa jadi seorang ibu yang gagal.


"Jangan bicara seperti itu, Bu! Semua orang pernah melakukan kesalahan, tidak ada orangtua yang selalu benar dan tidak ada anak yang yang tidak pernah mengelak dari permintaan orangtuanya, semuanya itu sudah berlalu dan sekarang aku sudah mulai bahagia dengan kehidupanku yang baru." Jasmine mengusap punggung tangan ibunya dengan lembut, padahal hatinya sedikit gugup karena sudah lama ia tidak pernah berinteraksi dengan baik pada ibunya.


Ayunda yang mendengar perkataan tulus putrinya itu tidak merasakan jika sebuah kristal bening dan hangat mengalir melewati pipinya dan menimbulkan rasa sedikit gatal tidak nyaman.


Beberapa air mata yang melewati bibir bahkan dengan sengaja ia jilat karena merasa asin-asin bagaimana gitu.


"Maafin ibu, ya, Nduk!" pinta Ayunda dengan tulus dari hati.


"Iya, Bu. Jasmine sudah memaafkan ibu dari lama. Hanya saja, selama ini aku menghindar karena aku belum sanggup ketemu sama ibu yang pernah bikin aku merasa sangat kecewa dan bikin aku tidak ada semangat untuk mengunjungi kalian," ucap Jasmine dengan tegas dan hatinya sedikit merasa tidak nyaman karena pembahasannya baru saja bersama dengan ibu mertuanya.

__ADS_1


***


Bersambung ...


__ADS_2