Ceo Somplak Jatuh Cinta

Ceo Somplak Jatuh Cinta
S2 : Kenyataan Pahit


__ADS_3

"Koko tinggal di mana?" Gia menatap wajah kakaknya dari bawah. Wajah yang selalu dia rindukan dan selalu hadir dalam mimpi ketika dia menginginkan kakaknya datang menyapa.


"Koko tidak ingin melihat kamu menangis. Sebelum koko menjawabnya, koko ingin hari ini menghabiskan waktu bersamamu." Gilang masih memeluk erat Gia. Dia tidak ingin berbagi adiknya dengan orang lain khusus hari ini.


"Tapi, nanti Bang Han bisa cemburu. Gia, kan, baru saja menikah." Gia membenamkan wajahnya di dada bidang Gilang dan menangis pilu di sana. Hangat, nyaman, harum, Gia menyukai itu.


"Han gak akan cemburu, hari ini kamu milikku." Gilang mengajak adiknya pergi, sedangkan semua orang yang berada di sana seperti membiarkan saja dan tidak ada yang berani melarang Gia.


Gia berganti pakaian, dengan motor sport Gilang mereka mengelilingi tempat-tempat favorit mereka. Gadis itu sangat bahagia bisa bersama dengan laki-laki yang amat dia sayang setelah empat tahun lebih tidak bertemu. Gia bahkan sampai tidak sadar kalau dia menghabiskan waktunya sampai malam.


Banyak hal yang dilakukan mereka berdua hari ini dan Gia sangat menyukai itu. Namun, kebahagiannya tiba-tiba hilang saat dia merasakan kejanggalan pada diri Gilang dan dirinya. Tempat mereka duduk sekarang berubah jauh lebih indah dan sepi seperti di tempat asing yang belum pernah dijamah manusia.


Banyak pohon besar dengan buah lebat yang asing. Sungai-sungai indah mengalirkan air yang harum menggoda, bangunan-bangunan indah dari emas, permata, batu mulia, dan sebagainya sangat banyak dan ada beberapa yang sedang dibangun dengan megahnya.


"Koko tinggal di mana?" Gia mengulang pertanyaan yang belum sempat dijawab Gilang tadi.


Air matanya jatuh di pipi dengan sangat deras saat dia menyadari sesuatu yang tidak pernah dia harapkan, kenyataan pahit yang empat tahun silam membuat semua orang berkabung dalam duka mendalam.


"Koko tinggal di ...."


"Tempat apa dan di mana ini?" Wajah cantik itu terlihat masam saat matanya menangis.

__ADS_1


Gilang tersenyum, dia menatap adiknya penuh kasih sayang juga kesedihan. Tidak ada yang ingin berpisah dengan orang-orang yang mereka sayang, tetapi ketika Allah telah memberi perintah malaikat maut untuk memisahkan jiwa dari raga seseorang. Maka sejauh apa pun kamu pergi, semua akan terjadi seperti yang telah digariskan.


"Koko tinggal dan selalu hidup di hatimu dan dua orangtua kita. Koko hidup di dalam doa yang selalu kalian panjatkan setelah salat, ada di samping kalian walau tidak disadari. Selamanya, walau raga koko telah menyatu dengan tanah, tetapi koko selamanya ada di sini." Gilang menunjuk dada di mana letak hati Gia berada.


"Jagalah diri, tutup aurat, perbaiki cara salat, zakat sebagai kewajiban, dan perdalamlah agama kamu. Jika kelak kamu ingin tinggal bersama koko di sini lakukan apa yang koko sampaikan. Kamu harus bahagia, Sayang. Kamu dan Gavin lah yang bisa menjadi sumber kebahagiaan orangtua kita." Gilang mencium dahi adiknya dan berjalan mundur, di mana dua sosok putih bersayap melambaikan tangan memanggilnya.


"Siapa mereka?" Gia menunjuk dua sosok itu dengan wajah takut dan kebingungan.


"Penjagaku. Maaf, Sayang. Waktu koko sudah habis, selamat tinggal." Lenyap, Gilang hilang bersama dua sosok putih bersayap yang memanggilnya sebelum ditahan Gia.


Gia sudah berteriak sampai lehernya sakit, tetapi suaranya tidak keluar. Dia ingin berlari mencegah kokonya pergi, tetapi kakinya seakan dirantai. Gia sadar, ini bukan alamnya.


Kenapa Engkau sangat kejam dengan membuatku bahagia dan menghancurkan hatiku dalam waktu yang bersamaan? Gia berteriak dengan sangat keras, membenci semua takdir yang dia hadapi.


"Sayang, bangun. Bisa-bisanya kamu tidur saat akad." Jasmine menepuk pipi Gia lembut dan bisikan itu yang membangunkan Gia dan membuatnya menangis tersedu-sedu.


Harapannya musnah. Dia menyadari ini bukan kenyataan yang diinginkan. Gilang telah pergi dan yang dia temui hanya bayangannya di dalam alam bawah sadar.


Sepuluh menit yang lalu, saat Gia disandingkan dengan Han di depan penghulu. Rasa kantuknya menyerang dengan sangat dahsyat dan membuatnya tanpa sadar memejamkan mata sebelum akad diucapkan. Mungkin ini juga efek karena dari malam tidak tidur dengan nyenyak. Mungkin Allah mengabulkan permintaan Gia untuk menghadirkan Gilang dalam pernikahannya walau hanya dalam mimpi.


"Kok nangis, kenapa?" Han dan yang lain menjadi panik melihat Gia menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


Gia memeluk mamanya erat dan mengabaikan orang-orang yang berada di sana. Tekanan darahnya bertambah, ubuhnya mendadak panas tinggi, pandangannya kabur, dan sesuatu buruk itu pun terjadi. Dia pingsan di dalam pelukan hangat Jasmine.


...***...


Rumah sakit pusat kota. Han, Naira, Jasmine, Gibran, Gio, dan Gavin menunggu di depan ruang UGD karena Gia baru saja dibawa masuk ke sana. Tidak mungkin untuk diperiksa di rumah karena kondisinya tadi sudah sangat buruk.


"Dia kenapa bisa begitu sih, Ma? Emang dia sakit, ya?" Han bertanya dengan nada sangat cemas. Satu minggu tidak bertukar kabar dengan kekasihnya membuat dia tidak tahu apa-apa.


"Gak, Han. Gia sehat, kok." Jasmine menjawab di sela-sela isakannya.


Lima belas menit berlalu, dokter yang memeriksa Gia sudah keluar dari ruang UGD.


"Dokter, bagaimana kondisi istri saya?" tanya Han panik.


"Istri Anda baik-baik saja, dia hanya shock sehingga tekanan darahnya naik secara tiba-tiba. Saya sarankan agar istri Anda dirawat inap di sini selama dua hari." Dokter menjawab dengan tenang dan tersenyum ramah.


...***...


...CEO Somplak mendekati TAMAT...


...PROMO KARYA BARU...

__ADS_1


...Yuk kepoin man-teman. Cerita sederhana yang Insya Allah lebih baik dari karya yang sebelum-belumnya karena karya yang dulu asal nulis kalau yang ini bener-bener aku buat serapi dan seenak mungkin untuk dibaca....


...Akan ada kejutan di CEO Somplak dan maaf kalau Gilang ternyata gak hidup. Eits mimpi bisa jadi nyata lho....


__ADS_2