
Lebih kurang dua jam mereka dalam perjalanan. Akhirnya mobil yang mereka tumpangi sampai juga di rumah keluarga Akbar ( orangtua Jasmine) Gia yang lebih dulu turun langsung berlari dan berteriak memanggil kakek dan neneknya.
Gia membuka pintu utama dengan kunci duplikat yang Ayunda berikan padanya. Ia sangat bahagia karena kembali ke rumah yang sudah delapan tahun ini ia tinggali, jujur saja ia merasa lebih nyaman di rumah ini daripada di rumah Gibran yang jauh lebih luas dan mewah dari ini.
Beruntung, Gia bukan anak yang sombong dan suka pamer harta yang bukan miliknya. Apa yang ia rasakan sekarang adalah milik orangtuanya dan Gia sangat tidak suka ada anak konglomerat yang sombong dengan harta yang mereka punya. Walupun, mungkin memang kekayaan orangtua akan diwariskan kepada mereka. Namun, itu tetap saja kekayaan orangtua.
Gio, Gilang, dan Gavin yang melihat kelakukan Gia hanya tersenyum gemas. Sudah besar tapi kelakuannya masih seperti bocah. Walaupun, bisa dibilang kalau Gia memang masih bocah, usianya baru 13 tahun, 'kan?
"Nenek, Kakek. Gia pulaaang ...." Menyusuri setiap sudut rumah tetapi sama sekali tidak melihat orang yang ia cari. Yang ada hanya beberapa pelayan saja.
"Hah, ke mana perginya mereka? Tenaganya habis, berjalan gontai kembali keluar dari rumah dan mengajak saudaranya untuk masuk.
"Om, Ko, Bang. Ayo masuk!" ajaknya lemas.
"Ada apa dengan wajah suram ini?" Gavin menarik hidung Gia sampai memerah, yang ditarik hanya diam dan pasrah.
__ADS_1
"Nenek dan kakek tidak di rumah," jawab Gia dengan suara yang sangat lucu karena hidungnya masih ditarik Gavin sehingga ia bernapas lewat mulut.
"Mungkin mereka sedang pergi," komentar Gio yang sudah pasti jawabannya adalah benar.
"Kalau mereka tidak pergi, tentu saja mereka ada di rumah," balas Gia sedikit kesal. Neneknya juga mengatakan kalau Ridwan sudah pulang. Namun, Gia juga tidak melihat Ridwan di rumah ini, atau mungkin mereka sedang pergi berlibur? Ah ... kenapa Gia tidak diajak?
"Jawaban yang sangat cerdas,"sahut Gilang seraya mengacak rambut panjang Gia.
"Tentu saja, semua nilai pelajaran akademik dan non akademik milikku selalu sempurna dan itu sangat menyebalkan. Sekali saja aku ingin nilaiku jelek, tapi kenapa tidak bisa?" Jika kebanyakan murid akan bahagia jika nilai mereka sempurna, hal itu berbanding terbalik dengan Gia yang malah akan bahagia jika nilainya jelek.
"Sayangnya, guru tidak akan percaya jika nilaiku buruk, Bang." Gia mengeluh, pernah satu kali ia sengaja membuat nilainya jelek, tapi Guru bisa tahu jika hal itu disengaja oleh Gia. Beginikah rasanya menjadi orang jenius? Haha ... sungguh menyedihkan.
"Sudahlah, ayo masuk!" ajak Gia lagi.
Mereka pun masuk dan langsung duduk di sofa ruang tamu. Gia pergi ke dapur dan meminta pelayan membuatkan minum untuk mereka. Setelah itu, Gia kembali bergabung dengan mereka.
__ADS_1
"Nanti sore mancing, yuk!" ajak Gio dengan semangat.
"Mau, nanti kalau dapat ikan kita bakar." Gia sangat setuju.
"Oke, kita bagi dia tim bagaimana?" usul Gilang sambil menatap mereka.
"Setuju, aku sama Koko. Im Gio sama Abang." Gia memutuskan.
"Yang kalah harus bakar ikan, yang menang tinggal makan," tutur Gio memberikan taruhan.
"Siapa takut? Aku sama Koko pasti menang." Gia sangat percaya diri.
"Kita lihat saja nanti!" Gio menatap Gia tajam, kalau di komik atau film anime mungkin mata mereka seperti saling beradu aliran listrik.
***
__ADS_1
Bersambung ...